Pikiran Rakyat
USD Jual 14.365,00 Beli 14.065,00 | Umumnya cerah, 21.2 ° C

90 Tahun Teleskop Zeiss Bosscha

Hendro Susilo Husodo
Observatorium Boscha, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.*
Observatorium Boscha, Desa Gudang Kahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, beberapa waktu lalu.*

NGAMPRAH, (PR).- Memasuki usia ke-90 tahun, Teleskop Refractor Ganda Zeiss yang menjadi ikon Observatorium Bosscha telah memberi banyak kontribusi bagi pengamatan astronomi di tingkat nasional maupun internasional. Teleskop tersebut saat ini masih tetap terawat dan berfungsi dengan baik, tapi polusi cahaya mengganggu pengamatan astronomi. 

Kepala Observatorium Bosscha Premana W Premadi mengatakan, lokasi Obsevatorium Bosscha yang berada di Lembang, Kabupaten Bandung Barat, sebetulnya cukup menguntungkan, karena berada di atas daerah perkotaan, yakni Kota Bandung. Namun demikian, kata dia, saat ini pada malam hari kondisi di Bandung maupun Lembang sudah semakin terang.

"Jadi, pengamatan astronomi masih berkualitas bagus, tapi cakupan langitnya yang semakin menyempit (karena polusi cahaya). Itu yang kami upayakan agar semakin lama tidak semakin parah (polusi cahayanya)," kata Premana, yang biasa disapa Nana, saat peringatan 90 tahun Teleskop Refractor Ganda Zeiss di Observatorium Bosscha, Sabtu, 1 Desember 2018.

Menurut dia, usia teleskop ganda Zeiss berdiameter 60 centimeter dengan panjang sekitar 11 meter tersebut berumur lima tahun lebih muda dibandingkan usia Observatorium Bosscha. Agar Observatorium Bosscha bisa terus memberikan kontribusi bagi perkembangan astronomi, Nana mengaku perlu dukungan dari berbagai pihak.

"Kalau bisa, harapan kami, ketika Observatorium Bosscha ini berusia 100 tahun, yaitu lima tahun lagi, sudah ada aturan tata cahaya yang jelas, yang keluar dari pemerintah pusat maupun pemeringah daerah, yang memang harus ditegakkan. Bagaimana menegakan aturan itu, memang harus ada keinginan yang sungguh-sungguh dari masyarakat," katanya.

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Institut Teknologi Bandung Edy Tri Baskoro mengatakan, teleskop Zeiss telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi pengamatan astronomi. Tidak kurang dari 12.000 pengamatan dilakukan dengan teleskop itu, termasuk pengamatan lebih dari 3.000 bintang yang menghasilkan lebih dari 20 publikasi oleh astronom dari dalam dan luar negeri. 

"Betapa banyak kontribusi yang sudah diberikan oleh lembaga yang kita sebut dengan Observatorium Bosscha ini, dengan teleskop Zeissnya ini, yang juga telah menghasilkan banyak prestasi, baik tingkat nasional dan internasional. Bahkan, prestasi itu sudah terukir abadi di langit. Nama-nama dari peneliti kita sudah diabadikan sebagai nama asteroid," katanya.

Dia menyebutkan, terdapat empat nama peneliti astronomu yang diabadikan sebagai nama asteroid. Mereka adalah Bambang Hidayat, Moedji Raharto, Taufiq Hidayat, dan Premana W Premadi. Seperti Nana, ketiga nama yang disebutkan lebih dulu juga pernah menjadi Kepala Observatorium Bosscha. Jadi, simpul dia, kontribusi Observatorium Bosscha bukan hanya terlihat dari sisi kuantitas pengamatan, tetapi juga kualitasnya.

"Sebagai catatan penting, kualitas langit yang baik, bersih dari polusi udara dan pulusi cahaya, diperlukan bukan hanya untuk astronomi, melainkan pula secara lebih luas untuk kualitas hidup umat manusia, keanekaragaman hayati, dan keseimbangan ekosistem, yang merupakan bagian amat penting dari pembangunan berkelanjutan, terutama di Indonesia," ujarnya.***

Bagikan: