Pikiran Rakyat
USD Jual 14.605,00 Beli 14.305,00 | Sebagian cerah, 28 ° C

Jelang Reuni 212, MUI Minta Muslim Jabar Tak Berangkat ke Jakarta

Handri Handriansyah

SOREANG, (PR).- Umat muslim Jawa Barat diimbau untuk tidak berangkat ke Jakarta menjelang reuni 212 pada 2 Desember 2018 mendatang. Imbauan itu dikeluarkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jabar, yang menyarankan agar reuni serupa digelar di lingkungan masing-masing saja, dengan bentuk silaturahmi dan doa bersama.

Ketua Umum MUI Jabar Rahmat Syafei mengatakan, permintaan agar umat muslim Jabar tidak datang ke Jakarta didasarkan atas sejumlah pertimbangan. Salah satunya adalah gelaran Pemilu yang pelaksanaannya semakin dekat.

“Untuk yang akan berangkat, mohon jaga kondusivitas masyarakat. Tapi kami imbau sebaiknya jangan berangkat,” ujar Rahmat, seusai gelaran Tabligh Akbar Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al Wafa, Desa Kiangroke, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Jumat 30 November 2018.

Menurut Rahmat, situasi menjelang pelaksanaan Pemilu rentan provokasi. Apalagi alumni 212 memang sebagian besar berasal dari Jabar.

Dia mengatakan sejauh ini kondisi sosial politik di Jabar sangat kondusif. Artinya ia yakin jika tokoh dan masyarakat Jabar dari semua kalangan bisa bersikap santun, dalam menyikapi provokasi di tengah panasnya suhu politik saat ini.

"Di Jabar sejauh ini tidak ada gejolak apapun, soal perbedaan pilihan politik sama sekali tidak memecah belah umat. Namun semua hal negatif tetap harus dihindari, termasuk provokasi," tuturnya.

Kepada umat muslim di seluruh Jabar, Rahmat pun berpesan untuk tetap menjaga kondisi tersebut hingga setelah Pilpres dan Pileg nanti. Apapun pilihan orang lain, harus dihargai dan tidak menjadi alasan untuk saling bertentangan karena itu sunah Rasul.

Ia menjelaskan, kewajiban umat dalam ajaran agama adalah untuk meluruskan niat, memulai segala hal dengan niat mewujudkan kedamaian.

"Kewajiban itu yang harus dijalankan dalam kondisi apapun, termasuk di tahun politik," ujarnya.

Komitmen jaga persatuan



Seusai Tabligh Akbar, sejumlah tokoh ormas Islam dan pondok pesantren yang mewakili ribuan pengikutnya, juga mendeklarasikan diri untuk menjaga kedamaian bangsa ini sampai berakhirnya Pilpres dan Pileg 2019 nanti. Dengan tegas mereka menolak hoaks, terorisme, provokasi dan segala upaya lain yang bertujuan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

"Kami mendukung gelaran Pilpres dan Pileg yang lancar. Namun kami menolak hoax dan segala bentuk upaya memecah belah umat," ujar salah seorang tokoh ormas Islam, K.H. Muhammad Burhanudin.

Burhanudin menambahkan, ormas Islam se-Jabar juga berkomitmen untuk berperan aktif dalam menjaga persatuan tersebut. Jika ada oknum yang berupaya memprovokasi umat, maka mereka akan turut mengamankannya.

Hal senada diungkapkan Pimpinan Ponpes Miftahul Huda Al Wafa, Yasin Saeful Alam.

"Kami sepakat dengan ormas, tokoh agama dan tokoh pesantren lain untuk menyukseskan Pilpres dan Pileg dengan bersih, jujur dan amanah," ucap Yasin.

Terkait reuni 212 sendiri, Yasin memastikan santri dan anggota ormas yang ia pimpin, tidak akan berangkat ke Jakarta. Selain untuk menjaga kondusivitas, larangan itu diberlakukan karena ada kegiatan belajar mengajar di pesantren yang tak bisa ditinggalkan.***

 

Bagikan: