Pikiran Rakyat
USD Jual 14.027,00 Beli 14.125,00 | Cerah berawan, 28.4 ° C

Penyakit Kulit Tiara Bukan Akibat Imunisasi Campak dan Rubella

Cecep Wijaya Sari

NGAMPRAH, (PR).- Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat menegaskan, penyakit kulit yang diderita Tiara Citra (11), warga Kampung Seketando, Desa Cangkorah, Kecamatan Batujajar bukan disebabkan imunisasi/vaksin campak/rubella. Berdasarkan diagnosis dokter, pasien tersebut diduga menderita epidermolisis bulosa, sejenis penyakit kulit yang langka.

Kepala Dinas Kesehatan KBB Hernawan Widjajanto mengungkapkan, siswi kelas VI SD tersebut memang sempat mendapatkan vaksinasi pada 6 Maret 2018 di sekolahnya. Namun, bukan vaksin rubella melainkan vaksin difteri.

"Dan, keluhan penyakit yang dideritanya baru dirasakan beberapa bulan setelah vaksinasi. Jadi, ini tidak mungkin disebabkan oleh vaksinasi/imunisasi," ujarnya di Ngamprah, Kamis, 29 November 2018.

Dia menuturkan, Tiara sempat ditangani dokter di rumah sakit swasta pada Juni lalu dan kondisinya berangsur pulih. Namun, penyakitnya kembali kambuh pada 20 November lalu.

Petugas dari Puskesmas Batujajar kemudian membawanya ke dokter spesialis kulit di Baros, Cimahi. "Hasil diagnosis dokter, pasien menderita epidermolosis bulosa, yakni penyakit kulit yang memang cukup langka," tuturnya.

Pasien sebenarnya harus dirujuk ke RS Hasan Sadikin Bandung untuk perawatan intensif. Namun, pasien tersebut enggan berobat di rumah sakit. Akibatnya, ia hanya terbaring di rumahnya.

Menurut Hernawan, pihaknya saat ini hanya bisa memantau kondisi kesehatan pasien secara periodik. Namun, ia juga berencana mendatangkan dokter ke rumahnya jika pasien tersebut tetap tidak mau berobat ke rumah sakit.

"Kami akan coba berbagai upaya agar kondisi pasien membaik. Soal biaya, sebenarnya tidak perlu dipikirkan, sebab pasien sudah memiliki JKN-KIS, sehingga biaya ditanggung pemerintah," tuturnya.

Kepala Puskesmas Batujajar Enung Masruroh menambahkan, pada Februari-Maret lalu dilakukan vaksinasi masal outbreak response immunization (ORI) difteri untuk anak usia 1-19 tahun di sekolah-sekolah dengan sasaran 30.000 orang. Imunisasi yang sama juga dilakukan pada gelombang kedua bulan Agustus-September dengan sasaran sekitar 27.000 orang.

Sementara itu, vaksinasi campak/rubela dilakukan tahun lalu untuk Pulau Jawa, sedangkan tahun ini di luar Pulau Jawa.

Ia mengakui, pascaimunisasi terkadang ada keluhan dari pasien, seperti gatal-gatal ataupun bintik-bintik merah. Namun, tidak sampai menyebabkan penyakit kulit seperti yang dialami Tiara.

"Ada yang mengalami efek setelah imunisasi, tetapi bisa disembuhkan setelah ditangani. Kalau untuk kasus Tiara, itu bukan karena imunisasi dan memang baru pertama kali ditemukan di Batujajar bahkan Bandung Barat," ucapnya.

Seperti diketahui, Tiara mengalami penyakit kulit dengan kondisi melepuh dan bernanah. Bahkan, ia sempat mengeluarkan darah dari hidung, mulut, dan matanya.***

Bagikan: