Pikiran Rakyat
USD Jual 14.425,00 Beli 14.125,00 | Umumnya berawan, 17.3 ° C

Dua Anak Penderita Hidrosefalus Butuh Uluran Tangan

Handri Handriansyah
Rika (6), penderita hidrosefalus dirawat oleh sang ibu Yulianti (27) di kediamannya, Kampung Sawahlega RT04/04, Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Selasa, 27 November 2018.*
Rika (6), penderita hidrosefalus dirawat oleh sang ibu Yulianti (27) di kediamannya, Kampung Sawahlega RT04/04, Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Bandung, Selasa, 27 November 2018.*

CAPAIAN Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Bandung 71,02 poin pada 2017 lalu tak lepas dari indeks kesehatan 81,84 poin sebagai kontributor tertinggi. Indek kesehatan mengalahkan indeks pendidikan yang turun menjadi 63,94 poin sejak angka melek huruf tak lagi dihitung.

Secara kasat mata, hal itu menunjukan bahwa pembangunan sektor kesehatan di Kabupaten Bandung memang terus mengalami kemajuan yang pesat. Tidak terkecuali dengan keberadaan 62 puskesmas dan 4.268 posyandu yang tersebar di setiap kecamatan berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Bandung 2017.

Meskipun demikian, hal itu tak berarti penyakit yang berasal dari kelainan khusus tak bisa terjadi. Setelah sebelumnya terungkap  Nabila Yunita Zahra (8), warga Kampung Pamagersaren, Desa Patengan, Kecamatan Rancabali yang divonis mengidap diabetes sejak usia 3 tahun, kini kembali terungkap keberadaan setidaknya dua anak yang menderita pembengkakan bagian kepala atau dikenal dengan hidrosefalus di Desa Ciapus, Kecamatan Banjaran.

Adalah Rika Nur Septiyanti (6) dan Putri Lestari (5), dua anak dari dua keluarga berbeda di RW 04 Kampung Sawahlega yang menderita hidrosefalus. Kedua anak itu hanya tinggal terpisah RT, Rika bersama orang tuanya di RT 04, sedangkan Putri di RT 01.

Ibunda Rika, Yulianti (27) mengatakan, sang anak diketahui terindikasi hidrochepalus sejak masih berusia 4-5 bulan. "Sejak lahir memang sudah ada tanda-tanda, namun kepala Rika mulai saat umur 4-5 bulan," ujarnya.

Yulianti mengaku, sejak itu ia dan suaminya mengaku sangat kesulitan untuk membawa anaknya berobat karena keterbatasan ekonomi. Barulah setelah Rika berusia tiga tahun, Yulianti dan keluarga mendapat perhatian dari pemerintah dan banyak pihak lain.

"Dari pemerintah dan dari warga yang prihatin sudah banyak bantuan. Rika pun sudah sempat dioperasi sebanyak empat kali," tutur Yulianti.

Yulianti berharap uluran tangan yang sudah diterimanya selama ini bisa berdampak pada kesembuhan sang anak. Setidaknya ia berharap Rika bisa tumbuh dan berkembang seperti anak lainnya.

Terus dipantau



Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Grace Mediana mengatakan, pihaknya sejak lama sudah melakukan intervensi terhadap Rika. "Intervensi sudah dilakukan oleh puskesmas mulai dari pelayanan dasar sampai rujukan untuk operasi," ujarnya.

Grace menambahkan, perkembangan Rika pun terus dipantau sampai saat ini berusia 6 tahun. Ia pun menegaskan bahwa jika ada anak lain yang mengalami kondisi serupa, pihaknya akan segera memberikan pelayanan yang sama.

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah Pelayanan Kesehatan Kecamatan Banjaran Wiji Hartono. "Rika maupun putri sudah kami tangani dan terus dipantau sampai saat ini," katanya.

Menurut Wiji, Putri bahkan sudah ditangani sejak bayi. Padahal saat itu status Putri sendiri masih belum memiliki kejelasan sebagai warga Kabupaten Bandung.

"Putri itu dibawa oleh Pak Asep Sukmara, putra Abah Maman Sulaeman dari Batam. Waktu itu diinformasikan bahwa putri dibawa karena bapak dan ibunya sudah meninggal dunia," tutur Wiji.

Pentingnya perawatan rutin



Meskipun demikian, Wiji menyayangkan, pihak keluarga yang kini merawat Putri, belum memahami pentingnya perawatan dan kontrol rutin. Tidak seperti Rika yang sudah menjalani beberapa kali operasi dan rutin dibawa kontrol ke rumah sakit oleh orang tuanya.

Wiji menegaskan, kasus hidrichepalus memang membutuhkan tindakan operasi sedini mungkin untuk mengeluarkan cairan otak yang akan terus membuat kepala penderitanya membesar jika dibiarkan. "Kalau terus membesar akan menekan otak," ucapnya.

Penderita hidrosefalus, kata Wiji, memang tidak akan bisa memiliki ukuran kopala normal kembali. Namun tindakan operasi setidaknya bisa membuat penderitanya tumbuh dan berkembang lebih normal, sehingga bisa memenuhi kebutuhan dasarnya seperti makan, mandi, berganti pakaian dan lain-lain secara mandiri.

"Hidrosefalus merupakan kelainan kongenital atau bawaan dari lahir. Tidak bisa memiliki intelegensia seperti anak-anak normal, namun bisa ditolong untuk setidaknya mandiri saat makan, minum, mandi, pakai baju," tutur Wiji.***

Bagikan: