Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Sebagian berawan, 21.8 ° C

Menyesal, Abubakar Minta Maaf pada Warga Bandung Barat

Yedi Supriadi

BANDUNG, (PR).- Mantan Bupati Bandung Barat Abubakar meminta maaf kepada warga Kabupaten Bandung Barat atas kasus korupsi yang saat ini disidangkan di Pengadilan Tipikor Bandung. Abubakar pun mengaku menyesal tersandung kasus korupsi yang menjeratnya selama ini.

"Saya memohon maaf kepada warga Kabupaten Bandung Barat yang telah memberi amanah untuk menjadi bupati dua periode," kata Abubakar saat menyampaikan nota pembelaan yang disampaikan secara lisan di depan majelis hakim Tipikor Bandung, Senin, 26 November 2018.

Abubakar mengungkapkan bahwa selama memimpin ada kesalahan yang dilakukannya. Namun menurut dia, manusia tidak luput dari kesalahan.

"yang namanya manusia tidak selamanya benar, suatu saat ada salahnya. Begitu juga selama memimpin kabupaten Bandung Barat ada sisi positifnya yang telah diberikan kami kepada warga kabupaten Bandung barat. Disisi lain memang ada negatifnya, dari itulah sekali lagi mohon maaf dan menyesal atas kasus yang dialaminya," ujarnya.

Sementara itu, penasehat hukum Abubakar, Iman Nurhaeman, meminta keringanan atas tuntutan jaksa KPK yang menuntut 8 tahun penjara, denda Rp 400 juta subsidair kurungan 4 bulan dan uang ganti kerugian Rp 601 juta serta pidana tambahan larangan memilih dan dipilih selama 3 tahun.

"Tuntutan pidana penjara 8 tahun sangat berat karena terdakwa sakit langka yakni kanker darah dan harus pengobatan secara terus menerus lewat kemoterapi," ujar Iman.

Menurut Iman, fakta persidangan bahwa uang atau dana yang diterima, yang dianggap tidak sah itu oleh terdakwa bukan dalam rangka memperkaya diri, tapi digunakan untuk survei Indopolling menjelang pilkada. Dana itu digunakan untuk kegiatan operasional dalam kegiatan pilkada, dan dana itu tidak diterima langsung oleh terdakwa.

Hal itu dikuatkan dengan fakta persidangan terdakwa Weti Lembanawati selaku mantan Kadisperindag dan Adiyoto selaku mantan Kepala Bappelitbangda, yang menyebut pengumpulan dana itu tidak dilaporkan ke Abubakar.

"Dikuatkan dengan fakta persidangan bahwa pengumpulan dana oleh Weti dan Adiyoto untuk Abubakar tidak dilaporkan ke terdakwa," katanya.

Kasus ini bermula saat Abubakar mengumpulkan para kepala dinas untuk membantu pemenangan Elin-Maman di Pilkada Bandung Barat. Elin merupakan istri Abubakar sedangkan Maman merupakan Sekda Pemkab Bandung Barat. 

Weti dan Adiyoto kemudian berinisiatif mengumpulkan para kepala dinas dengan meminta uang untuk mengumpulkan dana pemenangan pilkada. Berdasarkan tuntutan jaksa, pengumpulan uang dari kepala dinas mencapai Rp 1,29 miliar secara bertahap. 

Dengan rincian, Rp 860 juta berasal dari setoran kepala dinas, pemberian dari Asep Hikayat selaku mantan Kepala BKPSD Bandung Barat senilai Rp 95 juta (Asep Hikayat sudah divonis bersalah dalam kasus ini), penerimaan dari Ahmad Dahlan alias Ebun senilai Rp 50 juta, dan Rp 20 juta dari Ade Komarudin selaku Kepala Dishub Bandung Barat, serta Rp 240 juta berasal dari pemotongan dari anggaran Bappelitbangda.***

Bagikan: