Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 20.2 ° C

30 Tahun Waduk Cirata, Momentum Pemulihan Kualitas Air

Hendro Susilo Husodo
PERAIRAN Waduk Cirata di Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 21 November 2018.*
PERAIRAN Waduk Cirata di Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 21 November 2018.*

NGAMPRAH, (PR).- Puncak peringatan 30 Tahun Waduk Cirata menjadi momentum bagi PT Pembangkitan Jawa-Bali untuk memperbaiki kualitas air di aliran Sungai Citarum, utamanya di sekitar perairan waduk. Setelah tiga dekade berlalu, berbagai aktivitas yang mengakibatkan penurunan kualitas air harus ditertibkan.

Menurut Direktur Utama PT PJB Iwan Agung Firstantara, saat ini pengelolaan PLTA Cirata dihadapkan pada persoalan penurunan kualitas air, yang telah mencapai level tiga. Padahal, kata dia, ketika Waduk Cirata dibangun pada 1988 kualitas airnya berada di level satu, sehingga kerap digunakan masyarakat untuk minum.

"Ada tantangan baru bagi kami, yaitu kualitas air. Dulu waktu pertama kali dibangun, kualitasnya level satu. Orang itu kalau mau minum tinggal ambil air di waduk dan dimasak. Namun, sekarang kita lihat sendiri, ini levelnya sudah turun ke level tiga," kata Iwan, di sela acara peringatan 30 Tahun Waduk Cirata di Cipeundeuy, Kabupaten Bandung Barat, Rabu, 21 November 2018.

Dia menerangkan, status mutu air memiliki empat golongan, yang bisa dijadikan sebagai pedoman peruntukan air. Kualitas air pada level satu bisa dimanfaatkan untuk air minum, level dua bisa buat wisata, level tiga dapat untuk perikanan dan peternakan, kemudian level empat buat mengairi pertanian.

Kepala Badan Pengelola Waduk Cirata (BPWC) Wawan Darmawan menekankan, kualitas air di perairan waduk tak bisa dibiarkan berada di level tiga, karena rentan mengarah ke penurunan kualitas air menjadi level empat. Pada daerah tertentu di aliran Citarum, kata dia, terdapat air dengan level empat, seperti di daerah yang banyak keramba jaring apung (KJA).

"Makanya, ke depan kami ingin tingkatkan kualitas airnya. Nah, (peringatan 30 tahun Waduk Cirata) inilah titik baliknya. Di sini kami ingin lakukan sesuatu yang lebih besar untuk Cirata. Ujung-ujungnya, itu untuk masa depan generasi muda di Parahyangan ini," katanya. 

Dengan luas area 7.111 hektare dan luas genangan 6.200 hektare, volume air di Waduk Cirata pada waktu normal ialah sekitar 2.165 juta meter kubik. Memiliki fungsi utama untuk PLTA Cirata, Waduk Cirata Waduk Cirata juga punya fungsi lain, seperti untuk budidaya perikanan, pertanian, pengendali debit air, maupun transportasi air.

Menurut Wawan, pemanfaatan waduk yang berlebih untuk perikanan sangat memengaruhi kualitas air. Dari ketentuan jumlah KJA sebanyak 12.000, di Waduk Cirata terdapat sekitar 98.000 KJA. 

Bekerja sama dengan Sektor 12 Citarum Harum, jumlah KJA terus dikurangi. "Kemarin ini kami lakukan perbaikan, ada penurunan sekitar 10 ribuan. Jadi sudah cukup berkurang," ujarnya.

Dia menjelaskan, budidaya ikan yang berlebihan dapat meninggalkan sisa pakan di perairan. Sisa pakan yang mengandung fosfat dan nitrogen itu menghasilkan racun bagi waduk. Peralatan dari pembangkit, kata dia, juga ikut mengalami korosif. Selain itu, sisa pakan juga turut menyuburkan gulma air seperti eceng gondok, yang juga dapat menggangu pembangkitan.

"Seberapa besar sisa pakan yang dihasilkan dari keramba ini, yaitu sekitar 420 ton per hari. Bayangkan, itu yang masuk ke dalam waduk dan menjadi racun. Kalau begitu, apa yang harus kami lakukan, yaitu melakukan penertiban. Namun, apakah bisa cuma berhenti di penertiban, karena ini berdampak kepada para petani ikan," tuturnya.

Oleh karena itu, dia menambahkan, BPWC menginginkan ada kerja sama dengan pemerintah daerah agar para petani ikan yang kerambanya ditertibkan dapat melakukan alih usaha. Pemprov Jawa Barat maupun Pemkab Bandung Barat, Pemkab Purwakarta, dan Pemkab Cianjur, harus ikut memikirkan masa depan para petani ikan. 

"Terutama yang dilindungi itu ialah petani-petani ikan yang asli dari Waduk Cirata. Petani ikan itulah yang nanti kami inginkan ada kerja sama dengan pemerintah daerah, dari Cianjur, Bandung Barat, dan Purwakarta. Besok pun kami akan lakukan pertemuan dengan Bupati Bandung Barat untuk melakukan pendataan ulang, petani mana sih yang terdampak," tuturnya.***

Bagikan: