Pikiran Rakyat
USD Jual 14.370,00 Beli 14.070,00 | Umumnya cerah, 21.9 ° C

Mahfud MD: Waspadai Paham Radikal Pemilu

Yedi Supriadi
MAHFUD MD didampingi Iman Nurhaeman saat konferensi pers di hotel El Royal Panghegar, Jalan Merdeka, Bandung. Mahfud MD hadir di Bandung menghadiri acara Rakernas 2018 IKA UII.*
MAHFUD MD didampingi Iman Nurhaeman saat konferensi pers di hotel El Royal Panghegar, Jalan Merdeka, Bandung. Mahfud MD hadir di Bandung menghadiri acara Rakernas 2018 IKA UII.*

BANDUNG, (PR).- Prof. DR Mahfud MD mengajak kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk menjaga kedaulatan negara. Kemudian jiwa kebangsaan harus ditumbuhkan agar bangsa Indonesia tidak terpecah belah.

“Rakyat harus sadar bahwa negara harus dijaga. Kalau pun beda pilihan harus disikapi dewasa jangan malah melakukan provokasi untuk memecahbelah antar rakyat,” ujar Mantan Ketua MK yang juga sebagai Ketua DPP IKA UII, Mahfud MD saat menghadiri acara Rakernas 2018 Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Indonesia (IKA UII) dan Pengukuhan Pengurus DPW IKA UII Jabar periode 2013-2023, di Hotel el Royal, Jln. Merdeka, Kota Bandung, Jumat, 16 November 2018. Iman Nurhaeman, terpilih sebagai ketua IKA DPW UII Jabar.

Mantan Menteri Pertahanan itu mengungkapkan hal tersebut menyikapi banyaknya simbol simbol atau kelompok tertentu yang akan memecah belah kebangsaan negara Republik Indonesia. Hal tersebut semakin kentara menjelang pemilu 2019 ini.

Mahfud mengakui memang saat ini ada yang berbeda situasinya dengan pemilu pemilu sebelumnya. Dimana saat ini media sosial menjadi ajang perang opini. Namun menurut dia, medsos ini terkadang tidak bertuan dan engak jelas.

“Memang menjelang pemilu sekarang ini selalu panas di medsos karena sekarang provokator banyak di medsos, dari situlah masyarakat harus bisa memilih dan memilahnya informasi dari media sosial tersebut,” ujarnya.

Hal lain yang membedakan di pemilu pemilu sebelumnya, menurut Mahfud MD, yakni adanya faham radikalisme yang menumpang di pesta demokrasi tersebut. Mereka menggunakan isu agama untuk menggiring dan menjadi alasan untuk memilih.

“Isu isu tersebut sebetulnya tidak akan menjadi heboh kalau masyarakatnya sudah cerdas memilih dan memilah informasi,” ujarnya.

Optimistis



Mahfud MD sendiri mengaku optimis bahwa pemilu 2019 ini akan bisa sukses dan dilewatinya dengan baik. Karena sebetulnya pemilu sekarang ini tidak sepanas tahun 1999 dimana saat ini kaum nasionalis dan kaum islam terpecah belah.

Begitu juga tahun 2014, pemilunya cukup panas, berhadap hadapan dengan start yang sama. Memang sekarang ini, isu korupsi sudah kurang populer karena partai pengusung dua calon presiden, sama sama pengurus partainya ada yang korup. “Konfigurasi politiknya sama, kedua partai pendukung semua punya wakil di DPR tapi juga punya wakil di Lapas Sukamiskin,” ujarnya.

Lebih jauh Mahfud MD menyatakan memberikan pendapat atau asprasi saat ini sudah menjadi bebas dan hal yang lumrah di alam demokrasi. Namun perlu diingat bahwa negara kita ini bukan hanya demokrasi saja tapi nomokrasi (negara hukum). “Jadi hukum dan demokrasi harus seimbang, demokrasi tanpa hukum adalah liar. Tapi hukum tanpa demokrasi bisa dzolim oleh sebab itu negara harus menjaga keseimbangan demokrasi dan nomokrasi,” ujarnya.

Sekarang ini, menurut Mahfud, pemerintah problemnya sering gamang karena tekanan opini. Tapi seharusnya  pemerintah  untuk ditindak.

Sementara dalam kesempatan itu juga, Mafud MD meminta agar masyarakat Indonesia jangan golput dalam menyongsong pemilu 2019. Karena memilih adalah hak konstitusional rakyat maka dari itulah harus digunakan sesuai haknya.

“Kalau boleh jangan golput, memilihlah dengan baik, kalau tidak ada yang cocok jangan bikin keributan sudah biarin aja demokrasi berjalan sehat jangna sampai memprovokasi buat kegaduhan,” ujarnya.***

Bagikan: