Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sebagian cerah, 23 ° C

Sanksi Dicabut, PT Jasa Medivest Kembali Layani Pemusnahan Limbah Medis Jabar

Satrya Graha
Warga berada di sekitar tumpukan sampah B3 limbah medis di tempat pembuangan sementara (TPS) Panguragan Wetan, Kab. Cirebon, Jawa Barat. Limbah B3 medis seperti jarum suntik, tabung sampel darah dan lainya yang berasal dari berbagai rumah sakit tersebut berserakan di tepi jalan dan sangat membahayakan bagi pengguna jalan serta warga sekitar.
Warga berada di sekitar tumpukan sampah B3 limbah medis di tempat pembuangan sementara (TPS) Panguragan Wetan, Kab. Cirebon, Jawa Barat. Limbah B3 medis seperti jarum suntik, tabung sampel darah dan lainya yang berasal dari berbagai rumah sakit tersebut berserakan di tepi jalan dan sangat membahayakan bagi pengguna jalan serta warga sekitar.

BANDUNG, (PR).- PT Jasa Medivest, anak perusahaan BUMD PT Jasa Sarana yang bergerak dalam pengelolaan limbah medis di Jabar, kembali resmi beroperasi. Sebelumnya, PT Jasa Medivest diberikan sanksi administratif oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

Direktur Utama PT Jasa Sarana Dyah S Wahjusari mengatakan, pihaknya bisa bernafas lega dengan pencabutan sanksi administrasi tersebut. Pencabutan itu adalah buah dari upaya pihaknya melakukan konsolidasi dan komunikasi bisnis dengan para shareholder dan stakeholder. 

PT Jasa Medivest yang bergerak dalam lingkup pengembangan kawasan, adalah satu-satunya perusahaan pengelolaan limbah yang berfokus pada jasa pengelolaan limbah medis di Jabar. Perusahaan ini memiliki penghargaan proper biru selama tiga tahun berturut-turut, yaitu tahun 2013 hingga 2015.

”Satu hasil nyata, sanksi administratif PT Jasa Medivest resmi dicabut. Alhamdulillah, PT Jamed bisa kembali beroperasi dengan kesiapan penuh untuk mengelola limbah medis. Tentu ini adalah momentum baik untuk salah satu anak perusahaan PT Jasa Sarana,” ujar Dyah, di Bandung, Kamis 8 November 2018. 

Setelah akan kembali beroperasi, korporasi menyiapkan beberapa aksi lanjutan seperti penerbitan izin insinerator II Plant di Dawuan, Kabupaten Karawang. 

”Dengan insinerator itu, PT Jamed bisa memusnahkan 24 ton limbah medis per hari,” katanya. 

Sementara itu, Direktur Utama PT Jamed, Irwan Valevi menuturkan, dengan dicabutnya sanksi administratif tersebut, manajemen segera mengabarkannya kepada pelanggan dan stakeholder. 

"Agar segera mendapat kontrak dan melayani pemusnahan limbah medis sesuai regulasi dan peraturan yang berlaku,” tuturnya. 

Irwan memaparkan, dalam menjalankan usaha jasa pengolahan limbah terpadu, PT Jamed telah mendapat sertifikasi ISO 9001, 14001, dan 18001. Selain itu, Plant Dawuan dilengkapi ruang pembakaran bersuhu 1000-1100 derajat Celsius. 

”Fasilitas ini dilengkapi kontrol polusi udara, mesin pembakaran yang mampu menetralkan emisi gas buang seperti partikel-partikel, acid gas, toxic metal, organic compound, CO, dioxin, dan furan. Jadi, gas buang yang dikeluarkan memenuhi parameter yang ditetapkan KEP-03/BAPEDAL/09/1995 dan standar baku emisi internasional,” ujarnya. 

Sebelum mendapat sanksi administrasi, PT Jamed telah melayani pelanggan dari 1.900 perusahaan medis. Sekitar 15 persennya adalah perusahaan rumah sakit. Selama ini, pelanggan rumah sakit tersebut mampu memberi pendapatan 85 persen.***

Bagikan: