Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Operasional TPA Sarimukti Berakhir 2020, Bandung Barat Pesimistis Bisa Bangun TPA Lokal

Cecep Wijaya Sari
WARGA mencari sampah yang masih bisa didaur ulang di Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Sarimukti seluas 25 hektare, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 17 Februari 2017. Kebiasaan masyarakat membuah sampah, dan limbah rumah tangga sembarangan menjadi salah satu penyumbang besar bertumpuknya sampah di TPA tersebut. Rencana perluasan areal lahan TPA Sarimukti masih dalam tahap pengkajian dampak lingkungan.*
WARGA mencari sampah yang masih bisa didaur ulang di Tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Sarimukti seluas 25 hektare, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 17 Februari 2017. Kebiasaan masyarakat membuah sampah, dan limbah rumah tangga sembarangan menjadi salah satu penyumbang besar bertumpuknya sampah di TPA tersebut. Rencana perluasan areal lahan TPA Sarimukti masih dalam tahap pengkajian dampak lingkungan.*

NGAMPRAH, (PR).- Menjelang berakhirnya operasional TPA Sarimukti pada 2020, Pemerintah Kabupaten Bandung Barat tak bisa memastikan untuk membangun TPA lokal. Soalnya, produksi sampah per hari tidak mencukupi kebutuhan untuk dikelola calon investor.

"Volume sampah per hari yang dibutuhkan investor itu minimal 1.000 ton, sedangkan KBB hanya menghasilkan sampah 150 ton per hari. Jadi, masih jauh dari kebutuhan," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup KBB Apung Hadiat Purwoko, Rabu, 7 November 2018.

Dia mengakui, produksi sampah 150 ton per hari adalah yang terangkut ke TPA, sementara yang tidak terangkut sekitar 450 ton. Jika ingin mengejar 1.000 ton sampah per hari, bisa saja dilakukan. Namun, hal itu membutuhkan penambahan anggaran yang cukup besar.

Dengan kondisi itu, menurut Apung, Bandung Barat ke depan akan mengikuti kebijakan Pemprov Jabar untuk membuang sampah ke TPA Legoknangka di Nagreg, Kabupaten Bandung. Hanya, ia menilai, ongkos buang (tipping fee) ke Legoknangka jauh lebih besar dibandingkan dengan ke TPA Sarimukti.

"Ke Legoknangka, tipping fee rencananya Rp 400.000 per ton, sedangkan ke TPA Sarimukti sekarang hanya Rp 60.000/ton. Jadi, jauh sekali perbedaannya," ujar Apung.

Tak hanya ongkos buang yang lebih mahal, lanjut dia, pembuangan sampah ke TPA Legoknangka juga jaraknya lebih jauh. Sementara, untuk pengangkutan ke TPA Sarimukti saja, beberapa daerah di Bandung Barat belum terjangkau.

Apung menambahkan, alternatif lain yang bisa dilakukan, yaitu memanfaatkan volume sampah yang ada untuk bahan baku semen. Namun, hal ini membutuhkan koordinasi lebih lanjut dengan Badan Pengelola Sampah Regional Jabar yang mengelola TPA Sarimukti.

"Berbeda dengan membuat TPA lokal yang butuh 1.000 ton sampah per hari, pemanfaatan untuk bahan baku semen tidak bergantung pada volume sampah. Tapi memang, harus ada koordinasi lebih lanjut," ujar Apung.

Seperti diketahui, Pemkab Bandung Barat menggulirkan beberapa wacana pengelolaan sampah menjelang berakhirnya operasional TPA Sarimukti. Pertama, wacana pembangunan insinerator, tetapi gagal diwujudkan lantaran perencanaan masih terlalu mentah.

Selanjutnya, wacana pembangunan TPA di Desa Sumurbandung, Kecamatan Cipatat dengan sistem sanitary landfill. Namun, hal ini juga tidak berlanjut. Terakhir, rencana pembangunan TPA lokal di Lembang dan Cililin. Namun, terkendala lahan dan kebutuhan volume sampah.***

Bagikan: