Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Cerah berawan, 29.2 ° C

Atap Ruang Kelas Ambruk, Siswa SDN Tegallaja Terpaksa Belajar di Luar

Hendro Susilo Husodo
SEORANG warga menunjuk atap ruang kelas yang rawan roboh di SD Negeri Tegallaja, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 31 Oktober 2018.
SEORANG warga menunjuk atap ruang kelas yang rawan roboh di SD Negeri Tegallaja, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Rabu 31 Oktober 2018.

NGAMPRAH, (PR).- Atap ruang kelas SD Negeri Tegallaja, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah Kabupaten Bandung Barat ambruk Rabu 31 Oktober 2018 pagi. Meski tidak ada korban jiwa, peristiwa tersebut memaksa para siswa untuk belajar di luar ruangan kelas.

Penjaga sekolah, Darajat (52) menuturkan, terdapat dua ruang kelas di SDN Tegallaja yang atapnya ambruk, yakni pada kelas 1 dan kelas 2. Selain itu, bangunan untuk ruang kelas 3 juga terancam roboh.

Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, seluruh siswa-siswi kelas 1, 2, dan 3 harus belajar di luar kelas.

"Atap yang roboh ini sudah diantisipasi, jadi anak-anak kelas 1 dan 2 memang sudah belajar di luar. Soalnya, bangunan kelasnya sudah kelihatan rusak. Ditambah hujan kemarin, jadinya tambah parah. Tadi pagi ambruk sekitar jam 8.30 WIB," kata Darajat.

Dia memperkirakan, jumlah total pelajar kelas 1, 2, dan 3 mencapai lebih dari 100 siswa. Ia menambahkan, pelajar kelas 1 dan 2, sudah belajar di luar ruangan sejak Senin 29 Oktober 2018. Sementara pelajar kelas 3, baru pada Rabu pagi belajar di luar ruangan.

"Mulai besok (Kamis, 1 November 2018), dilakukan shift pagi dan siang dengan memakai ruang kelas 4, 5 dan 6," ujarnya.

Pria yang menjadi penjaga sekolah di SDN Tegallaja sejak 1993 itu menuturkan, bangunan SDN Tegallaja didirikan pada 1982. Bangunan sekolah itu terakhir kali direnovasi pada 2007.

Pihak sekolah sendiri telah mengusulkan perbaikan bangunan sejak beberapa tahun lalu, tapi belum terealisasi sampai saat ini. Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Dinas Pendidikan KBB Jalaludin, mengatakan pihaknya memang telah berencana untuk merenovasi bangunan kelas yang atapnya roboh, sekaligus dengan perpustakaan di sekolah tersebut.

"Dengan kejadian ini, ya kami harus segera memperbaikinya. Soalnya, ini darurat. Kegiatan belajar mengajar harus berjalan," katanya. 

Hujan deras mengakibatkan longsor



Sementara itu, bencana longsor terjadi di sejumlah daerah di Bandung Barat, seiring dengan curah hujan yang meningkat selama beberapa hari terakhir ini. Sejak 27 Oktober 2018, tercatat setidaknya terdapat delapan kejadian longsor.

"Dari laporan yang kami terima, bencana longsor dalam skala kecil terjadi di Kecamatan Parongpong, Cililin, Sindangkerta, Cisarua, Cikalongwetan dan Cihampelas. Tidak ada korban jiwa, hanya memang tanah longsoran merusak bagian rumah," kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD KBB Dicky Maulana. 

Dari delapan kejadian longsor tersebut, sebanyak enam rumah mengalami rusak ringan hingga sedang. Rumah tersebut di antaranya milik Enjang Tarya (46) di Desa Cihideung (Parongpong), Anwar (65) di Desa Batulayang (Cililin), Sopian (48) di Desa Cikadu (Sindangkerta), dan Wandi (22) di Desa Ganjarsari (Cikalongwetan). 

Selain itu, dua rumah di Desa Singajaya (Cihampelas) juga rusak setelah tembok penahan tebing pada jalan kabupaten yang menghubungkan Singajaya dengan Tanjungwangi roboh sepanjang delapan meter. Di samping enam rumah yang rusak tersebut, sedikitnya tiga rumah lainnya terancam longsor susulan.

Kejadian longsor juga menggerus bahu jalan kabupaten sepanjang 20 meter di Kampung Bojongsalam, Desa Celak, Kecamatan Gununghalu. Tembok penahan tebing di Desa Pasirlangu (Cisarua) juga roboh, dan longsoran tanah sepanjang 10 meter dan setinggi 5 meter sempat membuat sempit jalan kabupaten.***

 

Bagikan: