Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 20.9 ° C

Gangguan Mental Emosional Anak Perlu Dideteksi Sejak Dini

Hendro Susilo Husodo

NGAMPRAH, (PR).- Gangguan mental atau kejiwaan perlu dideteksi sejak anak-anak, agar generasi muda kita menjadi generasi yang sehat secara fisik dan mental. Deteksi dini gangguan kejiwaan pada anak-anak dapat dilakukan oleh setiap orangtua dengan memperhatikan aspek kognitif, sosial, dan komunikasi anak.

Demikian disampaikan Kepala Departemen Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Padjadjaran Veranita Pandia, di sela acara "Seminar Skizofrenia dan Deteksi Mental Emosional pada Anak Usia Dini" di Kantor Desa Cihanjuang, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 18 Oktober 2018. 

Kegiatan yang diadakan oleh Asosiasi Kesehatan Jiwa Anak dan Remaja (Akeswari) Jawa Barat dan Unpad itu digelar dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia yang jatuh pada 10 Oktober lalu. Kegiatan itu dihadiri puluhan ibu PKK dan kader posyandu. Selain disampaikan materi gangguan kejiwaan, dilakukan pula simulasi penanganan penderita gangguan kejiwaan. 

Veranita mengatakan, berdasarkan data World Health Organization yang dirilis pada 2016, di seluruh negara terdapat sekitar 35 juta orang mengalami depresi, 65 juta orang mengalami bipolar, 21 juta orang mengalami skizofrenia (gangguan jiwa berat). Mereka yang mengalami gangguan kejiwaan ringan hingga berat itu dari beragam usia, termasuk anak-anak.

"Untuk sehat itu tidak cukup dengan dikatakan sehat secara fisik saja, tapi juga sehat mental. Sehat jiwa artinya sehat pikiran, perasaan, dan perilaku atau kehendak kita. Oleh karena itu, kalau kita ingin membangun generasi muda yang sehat, kita harus juga memperhatikan kesehatan jiwa anak-anak," katanya.

Menurut dia, masyarakat perlu mendeteksi gangguan kejiwaan yang mengidap pada anak sejak usia dini. Deteksi itu, kata dia, bisa dilakukan dengan memperhatikan aspek kognitif, sosial, dan komunikasinya. Apabila seorang anak mengalami gangguan dalam perkembangan di ketiga aspek itu, maka dia cenderung mengalami gangguan kejiwaan.

"Misalnya, anak dengan hiperaktif, anak dengan IQ yang kurang, anak dengan autisme, itu sebenarnya termasuk gangguan jiwa juga, karena perilakunya yang berbeda dari anak-anak sebayanya. Cara mereka berklmunikasi juga berbeda dengan anak-anak sebayanya," terangnya.

Anak-anak dengan gangguan jiwa, lanjut dia, juga bisa dilihat dari fungsi merawat diri mereka, seperti pola makan atau tidurnya. Kemudian dari fungsi sosialnya, bisa berinteraksi dengan anak-anak lain atau tidak, dan dari fungsi belajarnya dibandingkan dengan anak-anak sebayanya.

Veranita menyontohkan, seorang anak yang masih bisa sekolah tapi sering nangis di rumah dapat tergolong mengalami depresi atau gangguan kejiwaan ringan. "Depresi ringan itu bisa konseling saja, tidak perlu pakai obat. Kalau skizofrenia, itu ganggun jiwa berat, harus pakai obat, karena sudah terjadi ketidakseimbangan zat kimia otak," katanya.

Masyarakat, imbuh dia, juga harus menerima seseorang yang mengalami gangguan kejiwaaan dan tidak alergi. "Lalu bisa juga dengan mengajak mereka untuk berkonsultasi ke ahlinya, keluarganya terutama, supaya mereka mendapat tata laksana yang baik. Kalau perlu, mereka bisa diberikan obat oleh psikiater," tambahnya. 

Seorang kader posyandu, Ani Suryani (44) mengaku baru pertama kalinya mendapat pelatihan mengenai kejiwaan. Dia pun mengaku banyak pengetahuan dalam mendeteksi gangguan kejiwaan, terutama pada anak-anak.

"Ke depan, saya dan teman-teman akan mencoba untuk mempraktikkannya secara langsung," kata dia.***

Bagikan: