Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sebagian berawan, 20.9 ° C

Sebelum Dibuang, Sisa Obat Kadaluarsa Harus Dihancurkan

Ririn Nur Febriani

CIMAHI, (PR).- Masyarakat perlu memahami cara membuang limbah medis dan obat-obatan kadaluarsa yang sudah tidak terpakai dan tidak dikonsumsi lagi. Jika salah penanganan, obat-obatan tersebut bisa disalahgunakan oleh pihak lain yang menemukan dan membahayakan kesehatan.

Menurut Kasi Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cimahi Eli Herlia, obat-obatan serta botol bekas peralatan medis yang dibuang sembarangan bisa dimanfaatkan oleh pihak tak bertanggungjawab.

"Ketika obat-obatan atau botol bekas yang dibuang sembarangan ke tempat sampah, itu bisa diambil oleh pemulung atau siapapun, kemudian bisa dijual lagi dan dikonsumsi masyarakat," ujarnya,  di Kantor Pemerintahan Kota Cimahi Jalan Raden Demang Hardjakusumah Kota Cimahi, Rabu 17 Oktober 2018.

Untuk membuang limbah obat-obatan dan alat medis, mengacu pada aturan kesehatan dan lingkungan di Indonesia, sampah medis yang tergolong berbahaya dan beracun harus dimusnahkan. Atau sampah-sampah tersebut itu harus dihancurkan dan didisinfektan sebelum didaur-ulang.

"Jadi mesti dihancurkan dulu. Kalau obat bisa dibakar atau dilarutkan nanti disiramkan ke tanah. Kalau botol, itu mesti dihancurkan, bisa dibelah atau dibakar juga. Jadi menghindari kemungkinan dimanfaatkan lagi," tuturnya.

Obat konsumsi yang sudah kadaluarsa, mesti segera disingkirkan. Hal tersebut lantaran komposisi obat yang ada dapat berubah. Akibatnya, obat tersebut bisa menjadi kurang efektif dan berpotensi membahayakan kesehatan jika dikonsumsi.

"Obat kadaluarsa tertentu juga berisiko menjadi tempat pertumbuhan bakteri. Antibiotik yang sudah melalui masa berlakunya bahkan bisa gagal mengobati infeksi, serta menyebabkan penyakit yang lebih serius dan resistensi antibiotik," katanya.

Untuk mengedukasi masyarakat mengenai cara membuang obat kadaluarsa, pihaknya melaksanakan program Gerakan Masyarakat Cermat Menggunakan Obat.

"Masyarakat juga masih banyak yang belum paham cara mengonsumsi obat. Mereka kadang menyimpan obat dalam waktu lama, sampai kadaluarsa, tapi dikonsumsi lagi. Sekaligus memberitahu cara membuang obat dengan benar," katanya.

Sementara limbah medis di rumah sakit maupun Puskesmas, sudah dikelola secara mandiri oleh masing-masing instansi. Setiap rumah sakit maupun Puskesmas wajib memiliki Instalasi Pengolahan Limbah Berbahaya, Beracun, dan Berwarna (B3).

"Tiap pusat pelayanan kesehatan wajib punya instalasi pengolahan limbah. Kalau tidak punya, izin operasionalnya tidak akan terbit Jadi pengolahan limbah di rumah sakit atau Puskesmas itu tidak bisa sembarangan," katanya.

Dinkes Kota Cimahi juga mengawasi peredaran obat melalui apotek ataupun toko obat secara berlebihan tanpa resep dokter, yang meningkatkan risiko penyalahgunaan obat-obatan.

"Jelas diawasi, karena penjualan obat antibiotik dan obat tertentu mesti menggunakan resep dokter. Tapi banyak juga yang dijual secara bebas, izin apoteknya bisa kita cabut juga kalau teledor," ucapnya.***

Bagikan: