Pikiran Rakyat
USD Jual 14.325,00 Beli 14.025,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Populasi LGBT di Cimahi Mencapai Ratusan Orang

Ririn Nur Febriani

CIMAHI, (PR).- Komunitas pelaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT) turut eksis di Kota Cimahi. Populasinya diperkirakan mencapai ratusan orang dengan rentang usia pelajar kisaran 15 tahun hingga usia dewasa.

Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Kota Cimahi melansir, para LGBT di Kota Cimahi tersebut kerap melakukan komunikasi transaksional melalui media sosial atau langsung bertatap muka. Salah satunya di lokasi Alun-alun Kota Cimahi.

"Ada juga dari pelajar, meski tidak banyak. Untuk populasi 15 tahun sampai 24 tahun itu persentasenya sekitar 30 persen," ujar Pengurus KPA Kota Cimahi, Kin Fathuddin, Kamis 11 Oktober 2018.

Berdasarkan data tahun 2017, pelaku Lelaki Seks Lelaki (LSL) di Kota Cimahi mencapai hingga 705 orang. "Mereka itu termasuk yang biasa melakukan seks dengan waria juga," ungkap Kin.

Dikatakannya, kemudahan dalam mengakses berbagai jenis media sosial (medsos) dimanfaatkan oleh para LGBT untuk berinteraksi, bahkan dijadikan media untuk menjajakan layanan seksual dengan latar belakang kebutuhan ekonomi.

“Melalui media tersebut kelompok LGBT sekedar menunjukkan eksistensi keberadaan mereka, mencoba mencari pasangan kencan atau menjajakan diri. Pola transaksinya ya lewat medsos juga. Lewat cara pergaulan tersebut, bisa saja menular soal perilaku hingga penyakit kelamin  bahkan HIV-AIDS, tapi kembali lagi ke personalnya masing-masing," tuturnya.

Belakangan ini, isu LGBT tengah menjadi perbincangan hangat. Sempat beredar agenda Kontes Gay Nusantara yang bakal digelar di Bali dan penggerebekan pesta gay di Jakarta. Pihaknya tidak mengetahui adanya perwakilan kelompok gay di Kota Cimahi yang terbang ke Bali.  untuk mengikuti Kontes Gay Nusantara.

"Biasanya mereka bergerak secara diam-diam. Kita tidak tahu apakah ada atau tidak yang kesana," ujarnya.

Dari segi kesehatan, Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kota Cimahi dr. Romi Abdurrahman menjelaskan, penularan Virus HIV AIDS di Kota Cimahi didominasi oleh pergaulan seksual sesama jenis.

Menurut dia, kasus penggerebekan pesta gay di Jakarta dan kontes gay nusantara menjadi salah satu indikasinya. Hal tersebut lantaran mereka memiliki kecenderungan kerap berganti pasangan dan tak aman ketika berhubungan.

Tren penularan HIV



Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kota Cimahi, penderita HIV-Aids pada tahun 2005 sampai 2016 dengan faktor risiko hubungan seksual sebanyak 307 kasus. Sedangkan untuk 2017, mulai dari Januari sampai April, telah terkonfirmasi 313 kasus HIV AIDS akibat hubungan seks.

"Sekitar 10 tahun yang lalu, kasus HIV AIDS tertinggi disebabkan oleh penggunaan jarum suntik yang bergantian. Untuk sekarang bergeser menjadi hubungan seks sebagai penyebab tertinggi," ungkap Romi.

Secara terinci, kasus penularan HIV AIDS dari ibu ke anak sebanyak 18 kasus atau sebesar 6 persen, penularan akibat perilaku transeksual sebesar 60 persen, dan yang melalui jarum suntik sebesar 34 persen.

"Untuk penderita laki-laki sebesar 67 persen dan perempuan 27 persen serta waria 6 persen. Peningkatan kasus penularan kasus HIV AIDS di Kota Cimahi hampir seluruhnya lewat hubungan seksual," ujar dia.

Penularan virus HIV bukan karena masalah orientasi seksual seseorang, namun menitikberatkan pada perilaku orang tersebut dalam melakukan hubungan seksual dengan pasangannya.

Di Indonesia, angka heteroseksual yang terkena virus HIV lebih tinggi ketimbang mereka yang ada dalam kategori LGBT. Namun demikian, di Kota Cimahi dan Bandung Raya, tren penularan virus HIV justru lebih banyak melalui LGBT, khususnya pada kategori gay dan waria atau LSL (Lelaki Seks dengan Lelaki).

"Ironisnya, banyak mereka yang LGBT khususnya gay dan waria, yang terkena HIV AIDS. Sehingga dulu ada singkatan AIDS itu 'Akibat Intim Dengan Sesama', karena pada awalnya menyebar di kalangan gay," tuturnya.***

Bagikan: