Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Sebagian cerah, 23 ° C

Semester Pertama 2018, Sudah Terjadi 150 Kasus Kekerasan Anak dan Perempuan

Handri Handriansyah

SOREANG, (PR).- Kabupaten Bandung masih rawan kekerasan terhadap anak dan perempuan. Hal itu terbukti dengan 150 kasus yang terjadi pada semester pertama 2018.

Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung Kurnia Agustina Dadang Naser mengatakan, dari jumlah tersebut kasus pencabulan masih dominan.

"Dari 150 kasus, 67 di antaranya merupakan kasus pencabulan," katanya seusai meresmikan ruang bermain anak, pojok baca kreatif dan peluncuran program Sahabat Perlindungan Anak (Saperak) di Aula Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung, Kamis, 4 Oktober 2018.

Menurut Kurnia, kasus lain yang terjadi adalah 22 kasus sodomi, 2 kasus perdagangan manusia dan 29 kasus Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Namun semua kasus sudah terlaporkan dan sebagian besar saat ini sudah ditangani.

Kurnia pun menyayangkan, sebagian besar pelaku kekerasan terhadap anak dan perempuan, justru merupakan anak di bawah umur. Setidaknya tercatat ada 136 pelaku masih berusia di bawah 18 tahun dan 23 bahkan masih tergolong anak-anak kecil.

Jumlah itu sangat mengkhawatirkan mengingat pelaku yang berusia di atas 18 tahun atau dewasa hanya 40 orang. Artinya pelaku di bawah umur hampir mencapai 4 kali lipat pelaku orang dewasa.

Penyebab



Menurut Kurnia, ada sejumlah faktor utama penyebab kekerasan terhadap anak dan perempuan. Yang paling dominan adalah pola pengasuhan keluarga yang tidak tepat, lingkungan pergaulan, pengaruh penggunaan gawai oleh anak yang tidak terkontrol oleh orangtua dan dampak media social.

“Hati-hati dengan kecanggihan gawai, dampaknya bisa baik juga bisa buruk kalau kita sebagai orang tua tidak mengontrolnya. Anak-anak bisa saja jadi korban dan bisa juga jadi pelaku,” tutur Kurnia.

Hal itulah, kata Kurnia, yang mendasari Pemkab Bandung menginisiasi program Saperak. Program itu menekankan pola pengawasan dan pencegahan agar kekerasan terhadap anak dan perempuan tidak terjadi.

“bersama-sama mari kita dukung Saperak ini, untuk menekan dan mencegah kekerasan terhadap anak dan perempuan. Kita sebagai orangtua harus tahu di mana anak bermain, dengan siapa, main permainan apa dan jangan lupa supaya pola pengasuhan anak juga disupport dari para ayah,” kata Kurnia.

Kurnia menjelaskan, Saperak merupakan gerakan bersama. Program itu terlebih harus dipahami betul oleh keluarga di mana kedua orang tuanya bekerja.

Menurut kurnia, kesibukan orang tua yang dua-duanya bekerja, tak jarang membuat pola pengasuhan kurang baik, sehingga anak kurang mendapatkan perhatian. “Para ayahpun punya peran penting dalam pola pengasuhan anak, jangan lengah dengan sibuknya bekerja," ucapnya.

Pojok baca



Sementara itu Camat Ciwidey  Karyadi Raharjo mengatakan, selain launching Saperak, pihaknya juga telah melakukan pembangunan ruang bermain anak dan pojok baca kreatif. "Ini merupakan upaua kami menuju Kecamatan Ciwidey yang layak anak," ujarnya.

Karyadi berharap, masyarakat Ciwidey bisa memanfaatkan fasilitas ruang bermain anak yang berlokasi di halaman kantor Kecamatan tersebut. Sedangkan pojok baca kreatif diharapkan agar bisa menambah pengetahuan dan wawasan masyarakat.

“Kita harap ini semua bisa berdampak positif dan bisa dimanfaatkan dengan baik oleh warga Ciwidey dan ini bisa dijadikan media rekreasi pengasuhan para orangtua. Silahkan pergunakan dan kita jaga rawat bersama,” ujar Karyadi.***

Bagikan: