Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 21.7 ° C

Tradisi Nuras Cai, Merawat Mata Air untuk Kehidupan

Ecep Sukirman
PARA sesepuh dan Tetua Adat memanjatkan doa pada prosesi upacara adat "Nuras cai" (Ruwatan mata air) di mata air Cipangasih di kampung Nenggeng Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Minggu, 16 September 2018. Pada gelaran Nuras tersebut digelar pula berbagai kesenian tradisional lainnya seperti pentas seni, memanah tradisional, seni debus dan pameran hasil karya daerah.*
PARA sesepuh dan Tetua Adat memanjatkan doa pada prosesi upacara adat "Nuras cai" (Ruwatan mata air) di mata air Cipangasih di kampung Nenggeng Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung, Minggu, 16 September 2018. Pada gelaran Nuras tersebut digelar pula berbagai kesenian tradisional lainnya seperti pentas seni, memanah tradisional, seni debus dan pameran hasil karya daerah.*

ADAT istiadat atau tradisi, tidak akan pernah lepas dari kehidupan manusia. Meski pada zaman modern sekalipun, sebuah tradisi akan tetap dijaga dan dipelihara, terutama oleh masyarakat adat.

Bahkan, adat istiadat ini menjadi salah satu panduan hidup di tengah masyarakat sehingga dijadikan sebagai norma atau peraturan yang diterapkan melalui lingkungan sosialnya.

Adat istiadat merupakan perilaku budaya dan aturan-aturan yang telah berusaha diterapkan dalam lingkungan masyarakat yang menjadi bagian atau ciri khas suatu daerah yang melekat sejak dulu dalam diri masyarakat yang melakukannya. Dalam sebuah adat istiadat ini tersimpan simbol-simbol kehidupan penuh makna.

Seperti halnya tradisi nuras yang dilakukan masyarakat Kampung Nenggeng, Desa Citaman, Kecamatan Nagreg, Kabupaten Bandung. Tradisi ini dimaknai sebagai ungkapan syukur kepada Sang Pencipta yang dilakukan masyarakat sekitar dengan cara merawat alam dan lingkungannya, khususnya untuk merawat mata air sebagai sumber kehidupan.

Masyarakat pun menggelar tradisi ini dalam sebuah upacara sakral. Amitsun, demikian masyarakat menyebutnya.

Upacara ini berisikan kegiatan bersama membersihkan saluran mata air yang terdapat di kampung tersebut, agar airnya mengalir dengan baik. Bergotong-royong masyarakat membersihkan saluran dan mata airnya.

Berada di kaki Gunung Serewen, sebuah mata air menjadi pasokan kebutuhan air bersih bagi masyarakat sekitar, baik untuk kebutuhan rumah tangga maupun untuk mengairi lahan pertanian warga.

Dikuasai swasta



Bupati Bandung Dadang M. Naser yang turut hadir dalam kegiatan tersebut mengatakan, budaya nuras cai ini perlu terus dibudayakan dalam memelihara mata air. Keberadaan mata air di Kabupaten Bandung, dikatakan Dadang, cukup banyak namun sekarang ada yang dikuasai swasta.

"Nuras cai ini yang harus terus diutamakan. Mana yang harus dikuasai desa, adat, atau pun pemerintah daerah. Akan tetapi, keberadaan mata air ini ada juga yang dikuasai swasta. Itu yang harus segera dikomunikasikan agar sumber mata air itu bisa dikuasai pemerintah setempat karena ini menyangkut kepentingan umum," ucap dia.

Nuras cai, lanjut Dadang, merupakan budaya lama yang mesti dijaga kelestariannya karena mempunyai simbol-simbol yang penuh makna dalam memelihara sumber air. Tidak hanya terfokus pada pemeliharaan sumber mata air, melainkan juga larian air (run off) yang juga harus dipelihara.

Nuras cai ini, lanjut Dadang, harus pula didukung semua elemen agar run off air tidak terganggu dengan alih fungsi lahan.

"Saya mengapresiasi adanya tradisi nuras cai ini. Selain itu, karena nuras cai ini termasuk ke dalam rangkaian festival Kendan, maka eksistensi festival ini harus lebih ditingkatkan dalam memelihara kelestarian budaya di Kabupaten Bandung. Ini bisa menjadi daya tarik wisata tematik di Kabupaten Bandung," ucap dia.

Sejarah Kerajaan Kendan



Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bandung Agus Firman Zaini menjelaskan, pelaksanaan nuras cai yang digelar di Kampung Nenggeng ini sudah memasuki tahun keempat. Pada tahun ini, lanjut Agus, Pemerintah Kabupaten Bandung mulai masuk melakukan sentuhan sebagai bentuk apresiasi adat istiadat yang berkembang di masyarakat.

Masih dikatakan Agus, sejarah nuras cai ini tidak terlepas dari sejarah keberadaan Kerajaan Kendan pada abad ke-4. Kecamatan Nagreg pun menjadi salah satu daerah yang menyimpan kesejarahan Sunda.

Dari beberapa literasi, pada raja ke-4 Kerajaan Kendan yaitu Sang Rajaresi Wretikendayun, Kendan memisahkan diri menjadi Kerajaan Galuh dengan mendirikan ibu kota baru di sebelah timur Kendan, tepatnya di antara Sungai Citanduy dan Cimuntur.

Dari nilai histori ini, Agus pun mendorong kawasan Kampung Nenggeng ini akan menjadi salah satu desa wisata di Kabupaten Bandung dilihat dari nilai sejarahnya termasuk pergelaran tradisi nuras cai ini.

"Tradisi nuras ini dikaitkan dengan nilai-nilai budaya. Dulu di sini berdiri sebuah Kerajaan Kendan. Nuras ini menjadi kearifan lokal masyarakat setempat dalam memelihara sumber air. Tentunya dari saat ini, salah satu bentuk intervensi pemerintah dalam melestarikan kebudayaan nuras cai ini akan menjadi agenda rutin. Terlebih di daerah ini pernah berdiri sebuah kerajaan, ini akan menjadi nilai tambah bagi daerah ini. Tentunya ini memerlukan sebuah komitmen dari semua elemen masyarakat," ucap dia.

Agus menegaskan, melalui tradisi budaya yang digelar ini diharapkan mampu menggali potensi dan budaya di Kabupaten Bandung. Pasalnya, budaya akan menjadi pendorong peradaban dan menjadi lokomotif pembangunan karakter masyarakat termasuk daerah.***

Bagikan: