Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sebagian berawan, 18.8 ° C

Gedung Sarinah di Jalan Braga Bandung Selesai Bersolek

Muhammad Fikry Mauludy
WARGA melintasi bangunan heritage Sarinah yang kini menjadi Hotel de Braga by Artotel di Jalan Braga, Kota Bandung, Sabtu 15 September 2018. Hotel butik pertama di Kota Bandung itu merupakan hasil kerja sama sinergi BUMN yaitu PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. dengan pemilik Iahan PT Sarinah seluas 1.763 meter persegi.*
WARGA melintasi bangunan heritage Sarinah yang kini menjadi Hotel de Braga by Artotel di Jalan Braga, Kota Bandung, Sabtu 15 September 2018. Hotel butik pertama di Kota Bandung itu merupakan hasil kerja sama sinergi BUMN yaitu PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk. dengan pemilik Iahan PT Sarinah seluas 1.763 meter persegi.*

SETELAH lama terbengkalai, Gedung Sarinah di Jalan Braga kembali bersolek. Lebih dari 10 tahun terakhir, Sarinah Braga menjadi bangunan pengganggu wisata sejarah Kota Bandung.

Selama lebih dari 7 tahun, gedung Sarinah merupakan bangunan tua lusuh dengan lahan bongkaran yang ditutup seng.

Kini, Sarinah kembali cantik. Rehabilitasi bangunannya mulai melengkapi revitalisasi koridor bersejarah di Jalan Braga pendek yang sebelumnya telah dilakukan Hotel Ibis dan De Majestic di seberangnya.

Sebagai ciri khas bangunan, bidang luas pada fasad di bagian depan dicat ulang berwarna putih. Dominasi warna putih itu diterapkan sebagai upaya mengembalikan eksistensinya di Braga sebagai toko busana yang sempat ramai menjelang tahun 1970, era awal Sarinah Braga.

Di tengah fasad, logo Sarinah berkelir merah menjadi aksen pencuri perhatian. Jenis huruf yang berasal dari tulisan tangan Bung Karno dan digunakan pada gerai pertama Sarinah di Jakarta, tetap dijaga.

PT Sarinah pun mengajak PT Wika Gedung untuk menghidupkan kembali gedung bekas toko busana Onderling Belang zaman kolonial itu.

Manajer Proyek PT Wika Gedung, Dede menuturkan, upaya membangkitkan Sarinah Braga dibarengi pembangunan hotel di lahan seluas 1.763 meter persegi itu. Maka, prosesnya tidak mudah.

Mereka harus mendapatkan rekomendasi dan penilaian dari Tim Cagar Budaya Kota Bandung. Sejumlah arahan pun muncul.

Selain bidang tembok di bagian fasad, sejumlah pilar yang menopang bawahnya pun harus terjaga saat pemugaran.

“Awalnya bangunan Sarinah ini masuk kategori A, tetapi karena lahan di belakangnya sudah habis, sudah hilang, maka tergolong kategori C,” ujarnya, di Bandung, Sabtu 15 September 2018.

Meski begitu, kata dia, pembangunan tetap harus mengikuti peraturan daerah, peraturan wali kota Bandung, dan rekomendasi Tim Cagar Budaya.

Wika tetap mempertahankan arsitektur hasil arahan Tim Cagar Budaya. Mereka diperbolehkan membangun 14 lantai dengan 112 kamar. Asalkan, bentuk tiga lantai awal bisa selaras dengan Gedung Denis (Bank BJB) di sampingnya.

Di selasar penghubung tembok tua dengan bangunan hotel dipasang rangka berkaca. Gerai Sarinah ditempatkan satu lantai dengan lobi hotel. Menyasar kunjungan turis asing, gerai diisi loket penukaran uang, serta produk, dan cendera mata mulai dari batik, aksesoris, makanan khas Bandung, hingga kerajinan lokal.

Bergaya hotel butik, interiornya didominasi warna hitam dan putih. Hotel de Braga by Artotel itu menebar banyak karya seni kontemporer di hampir seluruh ruangan hasil karya tujuh seniman lokal. 

Sekretaris Perusahaan PT Wika Gedung, Bobby Kusuma mengatakan, dalam rancang bangun pengaktifan kembali Gedung Sarinah Braga tidak sekadar menaati aturan daerah setempat.

Menjaga bangunan cagar budaya bisa turut menghidupkan kembali kawasan bersejarah Jalan Braga yang telah dikenal sejak zaman kolonial.

“Komitmen kami dalam membangun Sarinah Braga dengan hotel de Braga ini agar dapat membuat konsumen merasakan 5 sense dari semua panca indera, dibuat nyaman. Hotel yang memiliki jiwa adalah yang memahami lingkungan sekitarnya. Kami ingin menjaga kekhasan dan rasa lokal, tujuan wisata sejarah, dengan dukungan pameran seni,” ujarnya.***

Bagikan: