Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Kisah Pabrik Kina Bandung dan Kejayaan Farmasi Indonesia di Dunia

Kodar Solihat
KENDARAAN melintasi pabrik Kina di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Selasa, 7 Maret 2017. Kawasan pabrik Kina akan dikembangkan sebagai kawasan wisata heritage dan ekonomi kreatif hi-tech.*
KENDARAAN melintasi pabrik Kina di Jalan Pajajaran, Kota Bandung, Selasa, 7 Maret 2017. Kawasan pabrik Kina akan dikembangkan sebagai kawasan wisata heritage dan ekonomi kreatif hi-tech.*

PABRIK Kina Bandung yang lokasinya di Nieuwe Kerkhofweg (kini Jalan Pajajaran) Kota Bandung, memiliki kisah yang memuat kejayaan Indonesia dalam dunia farmasi.

Dalam catatan umum sejarah Perang Dunia II kancah Asia-Pasifik 1941-1945, pada bulan September 1945, pihak Sekutu banyak memasuki kawasan Asia Tenggara. Ini dilakukan seusai pernyataan menyerahnya pihak Jepang kepada Sekutu di atas kapal perang Amerika Serikat, USS Missouri, 2 September 1945.

Pada catatan umum sejarah Indonesia, pada hari yang sama seusai penyerahan Jepang, pasukan Sekutu, yakni AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) yang di­pimpin Inggris memasuki Jakarta untuk mengurusi para tawanan perang Jepang. Begitu pula ke Kota Bandung, sejumlah instalasi penting langsung diurus oleh AFNEI, yang tercatat masuk ke Bandung pada 15 September 1945.

Di antara instalasi penting yang menjadi perhatian untuk diamankan oleh pihak AFNEI yang diboncengi NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie), adalah Pabrik Kina Bandung. Ceceran kisah Pabrik Kina Bandung pada pertengahan September 1945 atau masa-masa yang sama September 2018 ini pada 73 tahun lalu, juga tercatat pada arsip sejumlah surat kabar yang tersimpan di Koninklijke Bibliotheek Delpher Belanda dan  Erfgoed Leiden en Omstreken Leiden Belanda. 

Arsip sejarah Keesings terbit­an edisi 9 sampai 15 September 1945 memuat catatan, pada 13 September ada perhitungan bahwa Pabrik Kina Bandung berpeluang kembali memasok kina ke pasar dunia segera setelah dilakukan pendudukan kembali Pulau Jawa (yang dimaksud, oleh pihak Sekutu termasuk Belanda). Selama pendudukan Jepang di Pulau Jawa pada Perang Dunia II tahun 1942-1945, pabrik ini dikuasai Jepang untuk kepentingan perang.

Pabrik Kina Bandung pemasok terbesar dunia



Disebutkan, pada tahun 1941, pabrik kina ini mampu mengolah 9.300 ton kulit kina. Pabrik itu menghasilkan 140 ton quinine (serbuk kina), yang kira-kira sama dengan kebutuhan seluruh dunia saat itu. Kapasitas produksi dari Pabrik Kina Bandung merupakan yang terbesar di dunia sehingga Hindia Belanda menjadi pemasok terbesar serbuk kina dunia sampai menjelang Perang Dunia. 

Berikutnya, Bredasche Courant pada 15 September memberitakan, Pabrik Kina Bandung dalam kondisi baik dan utuh. Setelah didudukinya Pulau Jawa oleh pihak Sekutu, produksi kina dapat kembali segera dilanjutkan untuk memasok kebutuhan seluruh dunia.

Het financieele dagblad terbitan 26 September 1945, memberitakan, berbagai unit perkebunan kina di wilayah Priangan (Jawa Barat) dan Pabrik Kina Bandung sudah dapat kembali dilanjutkan usahanya. Saat itu, Pabrik Kina Bandung dicoba ditingkatkan produksinya menjadi lebih besar dari kebutuhan dunia.

Berubahnya peta bisnis kina dunia diberitakan De Volkskrant terbitan 6 Desember 1948. Kisahnya diawali kondisi pabrik ini yang cukup menyedihkan saat didapati seusai Perang Dunia II. Walau pemulihan segera dilakukan, ada fenomena kebutuhan kina dunia ternyata sudah berkurang karena munculnya sintetis untuk kina ­(atebrin, paludrine, dll), ditam­bah sejumlah negara ternyata ikut membudidayakan tanam­an kina.

Data Nationaal Museum van Wereldculturen Belanda dan PT Kimia Farma (Persero) selaku pengelola, menyebutkan Pabrik Kina Bandung telah berdiri tahun 1896 dengan pengelolanya adalah perusahaan NV Bandoengsche Kininefabriek. Surat kabar Algemeen Handelsblad terbitan 4 Maret 1912, memberitakan, adanya sebuah pertemuan di Bandung yang dipimpin KAR Bosscha. Rapat tersebut membahas rencana pembangunan pabrik kina baru di Bandung.

Saksi hidup sejarah Pabrik Kina Bandung



Berdasarkan buku Handboek Voor Cultuur en Handels-Ondernemingen in Ne­derlandsch-Indie yang disusun JW de Bussy tahun 1936, per­usahaan NV Bandoengsche Kininefabriek selaku pengelola Pabrik Kina Bandung sebenarnya menginduk kepada perusahaan induknya, yaitu NV Semarangsche Administratie Maatschappij yang berpusat jauh di Kota Semarang, tepatnya beralamat di Kerskstraat Nomor 10-12.  

Sejak tahun 1950-an, jalan tersebut berubah nama menjadi Jalan Suari yang juga ditunjukkan sebuah iklan pada surat kabar de Preangerbode ter­bitan 3 Oktober 1957. Iklan itu terkait dengan rapat pemegang saham NV Bandoengsche Kininefabriek di kantor direksi perusahaan induk pengelola, yaitu NV Semarangsche Administratie Maatschappij yang beralamat di Jalan Suari Nomor 10-12 Semarang.

Tahun 2018 ini, bekas kantor Semarangsche Administratie Maatschappij masih utuh dalam kondisi sudah direhabilitasi seperti aslinya. Sebelumnya, bangunan tersebut tampak mengenaskan setelah dilanda kebakaran tahun 2010.  

Berdasarkan catatan ”PR” dari Daftar Perusahaan Perkebunan Seluruh Indonesia terbitan Departemen Pertanian tahun 1975, bangunan bekas kantor NV Semarangsche Administratie Maatschappij tersebut sampai tahun 1975 dijadikan kantor Direksi PT Perkebunan XVIII (persero). Sejumlah warga usia lanjut di sekitaran Jalan Suari, saat iseng ditanyai oleh ”PR”, rata-rata masih mengingat bangun­an Jalan Suari 10-12 tersebut dahulunya adalah bekas kantor direksi PT Perkebunan XVIII.

 Salah seorang sesepuh perkebunan negara asal Bandung, almarhum Dede Suganda Adiwinata sempat menga­takan, semasa ia menjadi Direktur Utama PT Perkebunan XVIII awal tahun 1980-an, kemudian memindahkan kantor direksi di Jalan Suari 10-12 tersebut dan membuat kantor baru di Jalan Mugas Dalam (atas). Sejak tahun 1996, kantor itu dikenal sebagai kantor Direksi PT Perkebunan Nusantara IX. ***

Bagikan: