Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Sering Dipadati Wisatawan, Lembang Merupakan Jalur Rawan Kecelakaan

Cecep Wijaya Sari
SUASANA lalu lintas di Jalan Kolonel Masturi, Kampung Kramat, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 11 September 2018.*
SUASANA lalu lintas di Jalan Kolonel Masturi, Kampung Kramat, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 11 September 2018.*

LALU lintas di Jalan Kolonel Masturi menuju kawasan wisata Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 11 September 2018 menjelang siang terpantau lancar. Meski hari libur, tak ada antrean kendaraan yang mengular seperti biasa terjadi pada akhir pekan.

Antrean kendaraan hanya terjadi di sekitar objek wisata Imah Seniman, tepatnya di Kampung Kramat, Desa Cikahuripan, Lembang. Bukan karena tingginya volume lalu lintas, melainkan lantaran sedang ada perbaikan jalan di sekitar kawasan itu.

Di bibir jalan di sekitar Kampung Kramat, ada pita pembatas, sehingga kendaraan  dari dua arah harus bergantian melewati jalur tersebut. Tampak beberapa warga sekitar yang mengatur arus lalu lintas. "Dulu pernah ada longsor yang menewaskan empat orang sekeluarga. Sekarang, kondisi jalan juga agak miring dan ada retakan," ujar Depi Gunawan (33), warga sekitar.

Lokasi tersebut memang merupakan salah satu daerah rawan longsor di Bandung Barat. Kondisi jalan menurun dan tikungan tajam di kawasan perbukitan itu juga rawan menyebabkan kecelakaan lalu lintas. 

Pada 13 November 2016, kejadian nahas menimpa empat warga Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua dan Desa Pakuhaji, Kecamatan Ngamprah. Mobil yang ditumpangi keluarga itu tertimbun longsor saat melintasi jalur tersebut pada malam hari. Tiga hari kemudian, jasad mereka baru ditemukan dengan kondisi terjebak di dalam mobil.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah KBB melaporkan, jasad para korban ditemukan setelah petugas melihat plat nomor mobil yang muncul ke permukaan di sela timbunan tanah. Setelah ditelusuri, ternyata ditemukan empat korban tewas di dalamnya. Lokasi tersebut berada di jurang sedalam 50 meter dekat objek wisata Imah Seniman.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Dicky Maulana menuturkan, longsor saat itu dipicu pergerakan tanah di tebing setinggi 60 meter dan panjang 100 meter. "Hal ini menyebabkan daerah itu rawan longsor," ujarnya. Selama beberapa pekan sejak kejadian itu, jalur tersebut ditutup, sementara petugas membersihkan material longsor yang menutupi badan jalan.

Rawan bencana akibat longsor



Kepala Bidang Lalu Lintas pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung Barat Vega membenarkan, Jalan Kolonel Masturi menuju Lembang merupakan salah satu titik rawan kecelakaan. Namun, bukan termasuk daerah blank spot.

"Kecelakaan di sana saat itu hanya insidentil akibat longsor. Namun, tetap harus diwaspadai karena kondisi jalan curam mengingat ada di daerah perbukitan," tuturnya.

Di Lembang, lanjut dia, daerah rawan kecelakaan juga berada di sepanjang Jalan Tangkubanparahu. Di sekitar lokasi tersebut, petugas juga kerap melakukan ram cek kendaraan, terutama untuk bus pariwisata.

Meski demikian, menurut dia, tingkat kecelakaan di wilayah Lembang terbilang minim, terutama saat terjadi kemacetan ketika akhir pekan ataupun libur panjang.  Lokasi dengan tingkat kecelakaan tertinggi atau blank spot berada di Jalan Raya Cipatat menuju Cianjur dan Jalan Cikalongwetan menuju Purwakarta.

"Di kedua jalan nasional itu, sering terjadi kecelakaan hingga menyebabkan korban meninggal. Sebagian besar kecelakaan motor yang diduga pengendaranya melaju cepat dan tidak bisa mengendalikan kendaraannya," ujar Vega seraya menyebutkan, terkahir ada dua korban meninggal di Jalan Raya Cipatat pekan lalu.

Untuk meminimalisasi kecelakaan lalu lintas, menurut Vega, pihaknya terus berkoordinasi dengan kepolisian. Upaya yang dilakukan di antaranya dengan mengoptimalkan pemasangan rambu-rambu lalu lintas, sosialisasi keselamatan berkendara, serta ramcek kendaraan. Sementara kepolisian, kerap menggelar operasi untuk memeriksa kelengkapan administrasi kendaraan.

Vega menambahkan, ramcek kendaraan terus dilakukan untuk mengantisipasi kecelakaan di jalur tengkorak, baik di wilayah Kabupaten Bandung Barat maupun sekitarnya. Jika tak lolos pemeriksaan, kendaraan tersebut tidak diizinkan untuk melanjutkan perjalanan.

"Sempat ada yang kami berhentikan dan minta pengganti kendaraan tersebut. Sebab jika diizinkan jalan, dikhawatirkan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," ujarnya.***

Bagikan: