Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22.8 ° C

Temuan Kekerasan Fisik pada Perundungan Siswa SDN Pajagalan

Muhammad Fikry Mauludy

BANDUNG, (PR).- Kejadian persekusi yang terjadi di SDN 023 Pajagalan Bandung diduga telah mengarah pada kekerasan fisik. Bahkan, korban persekusi, B (13), telah mengalami perundungan dari teman sebayanya sejak dua tahun lalu. Dalam pengungkapan kasus yang beredar melalui video sebelumnya, kejadian persekusi hanya diketahui sebagai kekerasan verbal.

Temuan adanya luka dan cedera pada B itu diungkap orang tuanya EM (40) saat audiensi dengan Anggota Komisi D DPRD Kota Bandung, Rabu 5 September 2018. Mereka mengadu ke anggota dewan dengan didampingi pengacara. Pertemuan itu juga dihadiri Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Bandung Mia Rumiasari dan Kepala SDN 023 Pajagalan Dante Rigmalia.

Dalam video yang beredar luas itu, B dipukul dan diinjak hingga tersungkur. Setelah video hasil rekaman Selasa 28 Agustus 2018 itu muncul dan diketahui orang tuanya, B mulai mengungkap kejadian-kejadian sebelumnya. Pada Kamis 23 Agustus 2018 lima hari sebelum kejadian terekam video, B sudah mengalami pemukulan hingga menyebabkan giginya patah.

Lalu, pada Senin 27 Agustus 2018 terjadi pemukulan yang mengakibatkan wajah lebam dan hidung berdarah.

“Setelah saya tanya anak saya tentang video itu, saya tanya gigi patah sama siapa, katanya sama ‘dia’. Anak saya baru bilang karena takut, diancem. Kalau bilang sama ibu, dia dipukulin lagi,” ujar EM.

B lalu membeberkan jika perundungan itu sudah berlangsung sejak dua tahun lalu, saat ia masih kelas 4 SD. Akhir Agustus kemarin menjadi puncaknya, dengan terjadinya kekerasan fisik. Perundungan itu terjadi di saat jam pergantian Pendidikan Agama Islam menuju pelajaran Olahraga.

Tidak ada satu pun guru di sekitarnya. Seorang anak perempuan diketahui sebagai perekam video yang tidak kuasa menghentikan perundungan itu. Diceritakan, dari siswa yang sering bergerombol itu terdapat satu yang menonjol dan mendominasi perundungan.

“Ada teman anak saya yang katanya juga pernah diludahin sama anak itu. Anak saya ngomong mau sekolah kalau ‘dia’ dikeluarkan. Beberapa temannya bilang daripada anak saya yang keluar mending ‘dia’ aja yang keluar, katanya suka pada bikin ricuh,” katanya.

Rencana perbaikan

Sejak enam hari sejak kasus video itu diramaikan, B belum mau sekolah. Untuk sementara, EM ingin anaknya tetap mendapat pelajaran dengan sekolah mandiri di rumah dengan kunjungan guru (home schooling).

Kepala SDN 023 Pajagalan Dante Rigmalia mengaku telah menyusun rencana perbaikan sesuai refleksi yang sudah dilakukan tentang aspek yang harus diperbaiki terutama pengawasan, serta soal jam piket yang dioptimalkan.

“Bisa jadi ya mungkin tadi pengawasan yang tidak optimal. Yang jelas ini kejadiannya di sekolah kami lengah kenapa ini bisa terjadi. Sebetulnya sudah dilakukan pengamanan dari satu tahun lalu yang diperuntukkan dua kelas tertentu untuk anak-anak yang aktif dan dinamis. Ternyata program ini harus dilakukan di semua kelas,” tuturnya.

Peringatan

Ketua Komisi D DPRD Kota Bandung Ahmad Nugraha mengatakan, mereka akan membuat surat peringatan bagi sekolah agar ada tindakan Dinas Pendidikan Kota Bandung untuk mendidik para pengajar. Untuk perlindungan anak di bawah umur, ia meminta sisi psikologi anak yang diberikan hukuman tidak sampai mengganggu kejiwaan.

“Di Kota Bandung saya minta zero bullying. Tidak ada lagi bullying di Bandung. Maka saya meminta Disdik memanggil seluruh kepala sekolah, memanggil seluruh pengajar agar tidak terjadi di sekolah lain. Karena kalau sudah zero, pendidik menyikapi ini sangat serius karena dampak dari bullying ini membahayakan karakter anak ke depan,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan kepada para tenaga pendidik untuk serius memperhatikan perkembangan siswa. Dari pengawasan kepada siswa, korban yang mengalami perubahan perilaku bisa dideteksi dan ditangani.

“Guru dan wali kelas 32 atau 35 siswa (per kelas) itu harus hapal siswanya. Kalau dia betul-betul seorang guru dan serius mengajar. Mana anak ini yang pelajarannya kurang, mana yang sedang, itu perkembangannya harus diketahui. Mana perilaku, tindak tanduk, attitude secara moral di sekolah itu, harus tahu persis guru itu. Kalau tidak, berarti kurang mengajar,” ujarnya.***

Bagikan: