Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Harga Naik, Bulog Jabar Gelontorkan Beras Medium

Ririn Nur Febriani

CIMAHI, (PR).- Perum Bulog Divre Jawa Barat menggelontorkan beras medium ke pasaran guna menjaga stabilisasi harga kebutuhan pokok masyarakat tersebut. Hal itu dilakukan karena adanya peningkatan harga beras premium.

Pendistribusian beras tersebut melalui kegiatan Ketersediaan Pasokan dan Stabilisasi Harga (KPSH) Beras Medium digelar di Gudang Bulog Subdivre Bandung untuk wilayah Bandung Raya di Jalan Mahar Martanegara Kota Cimahi, Rabu 5 September 2018. Kendaraan pengangkut truk dijadwalkan disebar ke kecamatan agar dapat langsung diserap masyarakat. 

Kepala Perum Bulog Divre Jabar Ahmad Makmun mengatakan, terdapat peningkatan harga beras medium di kalangan masyarakat. "Ini sebagai upaya stabilisasi harga di pasaran," ujarnya.

Beras yang didistribusikan dalam bentuk kemasan renceng dengan harga Rp 9000/kg kualitas medium dan Rp 11.000/kg kualitas premium. Stok beras di wilayah Jabar berkisar 5.000 ton/bulan, di Gudang Bandung stok berkisar 12.000 ton. Pada pelepasan kali ini, beras disalurkan ke Kecamatan Regol dan Kecamatan Ujungberung Kota Bandung. 

"Beras ini dikirim ke kecamatan, nanti mereka yang bakal menginformasikan ke masyarakat soal adanya beras dari Bulog yang bisa diserap. Sebelumnya kita sudah koordinasi dengan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Satgas Pangan tiap pemerintah daerah," ujarnya.

Jika antusiasme masyarakat tinggi, pihaknya bakal memfasilitasi kebutuhan masyarakat.  "Misalnya kecamatan atau kelurahan membutuhkan penyaluran kami siap fasilitasi, tinggal hubungi saja. Bisa juga nanti bekerjasama dengan toko besar, atau lainnya," katanya mengimbuhkan.

Komersialisasi



Dewan Pengawas Bulog Spudnik Sujono yang turut hadir di lokasi menyatakan apresiasi kepada Bulog Divre Jabar yang berupaya memperbaiki pelayanan dan kualitas dalam rangka peningkatan komersial. Misalnya, penjualan beras kemasan yang dapat meningkatkan penjualan komersil. 

"Kebutuhan pangan masyarakat harus terpenuhi. Dan penyaluran ini juga menjadi upaya komersialisasi beras kemasan Bulog dengan cakupan yang lebih luas," katanya yang juga menjabat Tenaga Ahli Menteri Bidang Cadangan dan Distribusi Pangan Strategis.

Spudnik juga memastikan jika harga jual beras di pasaran saat ini masih standar, tak terpengaruh oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar yang belakangan menyentuh angka Rp 15.090.

"Untuk penyaluran ini kita yakin harga akan tetap stabil, jadi kenaikan nilai tukar dolar tidak akan berpengaruh juga. Ketahanan pangan kita tetap aman lah," tuturnya.

Secara keseluruhan, stok beras di Gudang Bulog nasional mencapai 1,3 juta ton beras yang berasal petani lokal, sedangkan jumlah beras impor mencapai 1,2 juta ton.

Peningkatan Kualitas



Dalam kegiatan tersebut, ikut dilaunching mesin Rice To Rice. Mesin tersebut dapat meningkatkan kualitas beras stok di gudang sehingga masyarakat dapat menerima beras dengan layak.

Menurut Kepala Perum Bulog Divre Jabar Ahmad Makmun, mesin tersebut baru ada di wilayah Bandung Raya. "Mesin ini untuk menyegarkan kembali beras stok yang ada di gudang. Ini jadi percontohan dulu," ujarnya.

Diakui Makmun, beras yang tersimpan di gudang bakal dihinggapi debu hingga hama meski dilakukan pemeliharaan secara rutin. Kapasitas mesin dapat membersihkan 1.000 ton/jam, dalam sehari bisa mengolah 8.000 ton beras.  Maksimal masa simpan beras dapat tahan hingga 1 tahun. Namun, dalam 3  bulan penampakan berubah.

"Beras dalam kondisi simpan biasanya penampakan berkurang, ada debu. Dengan pengolahan pada mesin ini bisa meningkat kualitasnya, nanti jangan ada lagi beras Bulog ada hama, kutu, kotor sehingga masyarakat dapat mengkonsumsi beras berkualitas baik," ungkapnya. ***

Bagikan: