Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 22.7 ° C

Kemenhub Kaji Penerapan Sistem Bus Rapid Transit di Kota Bandung

Muhammad Fikry Mauludy
Damri.*
Damri.*

BANDUNG, (PR).- Kementerian Perhubungan tengah mengkaji kemungkinan pembangunan jalur khusus bus di Kota Bandung dengan system Bus Rapit Transit (BRT). Jika Kota Bandung terpilih di antara kandidat kota lainnya, akan ada dana hibah untuk rintisan sistem BRT dengan kelas internasional.

Hal itu menjadi simpul pertemuan antara Kasubdit Direktur Angkutan Multimoda Kementerian Perhubungan Ahmad Wahyudi dan Program Director Sutrinama-Indobus Udo Beran, yang diterima oleh Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial, di Kantor Dinas Perhubungan Kota Bandung, Senin 3 September 2018.

Wahyudi mengatakan, pertemuan itu merupakan penjajakan untuk mendapatkan komitmen secara politik dari eksekutif. “Kebetulan yang hadir Pak Wakil Wali Kota yang juga wali kota terpilih. Pada dasarnya percontohan ini bagaimana menciptakan angkutan perkotaan yang mempunyai standar internasional. Bukan hanya kerja sama di atas kertas, tetapi sudah mengarah ke arah implementasinya,” katanya.

Rencananya akan ada lima sampai tujuh kota yang akan dijadikan percontohan. Selain sarana, sistem transportasi terintegrasi ini juga dituntut membentuk SDM yang siap. Bagaimana perpindahan intermoda untuk penumpang bisa langsung menjangkau halte bus.

“Beberapa penumpang harus berpindah sekian kali. Jadi kita akan buat minimal agar dibuat lebih mudah, artinya transfer yang tadinya lima atau enam kali bergantian, ini menjadi hanya dua hingga tiga kali perpindahan.

Dalam kajian dan studi nanti, rute-rute diidentifikasi sesuai dengan kondisi Kota Bandung. Trans Metro Bandung (TMB) akan ditingkatkan menjadi standar BRT kelas internasional. Dari banyak contoh di negara berkembang, kata dia, dari sisi kapasitas dan pembiayaan operasional BRT lebih murah daripada kereta ringan (LRT). Bahkan di Indonesia pun BRT berstandar internasional hanya satu koridor Blok M-Kota, di Jakarta.

Program Director Sutrinama-Indobus Udo Beran menjelaskan, jangka waktu pelaksanaan proyek direncanakan hingga akhir Desember 2022. Proyek kami menyediakan hibah dengan total 21 juta uero yang terdiri dari bantuan teknis 5.5 juta euro, dan  bantuan keuangan sebesar 8.5 juta euro. Untuk komponen Indobus berupa sistem teknik sebsesar 7.1 juta euro.

“Sumber pendanaan untuk Sutrinama berasal dari kerja sama dari pihak Jerman diwakili Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kementerian Industri dari pihak pemerintah Inggris. Sementara Indobus donornya adalah Swiss,” ujarnya.

Dengan berbekal studi dan kajian mendalam, mereka ingin membantu Bandung membangun dan mengimplementasikan BRT sesuai dengan standar internasional. Termasuk memitigasi dampak sosial dari pengembangan BRT.

“Sistem angkutan kota di seluruh kota menggunakan sistem angkot. Kami akan mengombinasikan angkot tersebut dengan sistem BRT. Selain itu, juga harus diantisipasi dampak sosial lain yang akan muncul dari sistem tersebut,” ujarnya.

Kerangka kerja sistem BRT juga mengedepankan pengembangan pembiayan dan kelembagaan. Dari hasil kajian awal, aspek kelembagaan pembiayaan menjadi masalah pengembagan BRT. Terkait dengan perubahan iklim, mereka juga akan mencoba mengukur untuk dapat melihat sejauh mana kontribusi sistem BRT terhadap penurunan emisi gas buang, sebelum dan seudah proyek berjalan.

Tahun 2020



Kadishub Kota Bandug Didi Ruswandi menyatakan, jika disetujui, hasil studi dan kajian hingga tahun depan akan merealisasikan pembangunan BRT pada 2020. Syarat BRT versi Jerman mewajibkan bus dengan dek rendah. Halte pun harus pendek, sejajar trotoar. Versi internasional juga memenuhi syarat tepat waktu, jalur terpisah, termasuk meminimalisir hambatan di persimpangan.

“Mereka menunggu komitmen pemerintah daerah yang ingin meningkatkan faktor penumpang banyak dan terintegrasi. Nanti akan dibuat satu rintisan yang terintegrasi. Satu koridor harus sukses, kalau tidak, dianggap tidak potensial,” ujarnya.

Oded merespons positif rencana itu. Kerja sama itu bisa menghadirkan manfaat untuk sistem transportasi pubilk di Kota Bandung.

“Ketika ada ruang-ruang yang bisa kita lakukan, baik itu darat, ataupun LRT, saya kira sesungguhnya asal hasil kajiannya baik dan bisa bermanfaat saya kira kenapa tidak? Semuanya tidak boleh parsial. Bandung ini merupakan kota padat, dengan jalan yang kecil, seninya adalah kita bisa memberdayakan memanfaatkan ruang-ruang Bandung agar lebih maksimal,” tuturnya.***

Bagikan: