Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Mengenang 79 Tahun Pecahnya Perang Dunia II, Bandung Pusat Komunikasi Penting

Kodar Solihat

DALAM catatan sejarah umum dunia, 1 September tahun 1939 dikenal sebagai awal pecahnya Perang Dunia II di Eropa. Pada tanggal dan bulan sama tahun 2018, peristiwa itu sudah 79 tahun berlalu. Saat itu, pihak Jerman semasa peme­rintahan Nazi yang ­dipimpin Adolf Hitler memulai perang di Eropa melalui serangan ke Polandia.

Situasi menjelang maupun saat pecahnya Perang Dunia II di Eropa tersebut, dari berbagai data yang Pikiran Rakyat kumpulkan, cukup berpengaruh ke Kota Bandung yang saat itu sudah menjadi kota penting saat pemerintahan kolonial di Hindia Belanda.

Kota Bandung memiliki akses penting ke Eropa, baik secara ekonomi dan politik dan menjadi salah satu kota yang menjadi perhatian warga dunia.

Namun, dalam situasi politik di Eropa yang memanas, menurut arsip Nederlands Instituut voor Militaire Historie (NIMH), pemerintah Hindia Belanda lebih mengkhawatirkan munculnya Jepang sebagai negara adidaya baru yang berperilaku makin agresif pada tahun 1930-an.

Repotnya, angkatan bersenjata Hindia Belanda, yaitu KNIL (Koninklijke Nederlands-Indische ­Leger), kurang personel dan peralatan tempur sangat buruk, sebagai dampak krisis ekonomi yang terjadi sejak awal tahun 1930-an. 

Berdasarkan sejumlah arsip surat kabar yang tersimpan di ­Erfgoed Leiden en Omstreken Leiden Belanda, Koninklijke ­Bibliotheek Belanda, maupun ­National Library of Australia, ­pada 1 September 1939 tersebut, tergambar situasi di Kota ­Bandung masih relatif tenang.

Akan tetapi, kewaspadaan oleh ­pemerintah Hindia Belanda ­dilakukan mengingat posisi ­negara Belanda di Eropa yang bertetangga dengan Jerman ­sehingga rawan kembali terseret pada situasi perang.

Dalam pengaruh situasi politik di Eropa atau sehari menjelang terjadinya Blitzkrieg (serangan kilat) pasukan Jerman ke Polandia, surat kabar Nieuwe Leidsche Courant, terbitan 1 September 1939, memberitakan, pada 31 Agustus 1939, di Kota Bandung dan Cimahi, pihak militer Belanda mengadakan parade besar. Kantor berita Aneta menysebut, parade besar militer Belanda tersebut diperintahkan oleh Kolonel Kemmerling, ­sedangkan Mayor Jenderal Cox melakukan inspeksi.

Dalam berita itu juga disebutkan, sejumlah jalan utama di Kota Bandung menjadi seakan menjadi ”lautan” warna oranye, sebagai warna Kerajaan Belanda. Sebanyak 27 pesawat pengebom ringan Glenn Martin ­B-10/­WH139 dan 20 pesawat latih bersayap ganda, Koolhoven FK-51 melintas di atas parade militer Belanda tersebut.

Nieuwe Leidsche Courant ter­bitan 28 Agustus 1939 memberitakan, bahwa sehari sebelumnya, yaitu 27 Agustus 1939, kantor PTT (Post, Telefoon en Telegraaf Maatschappij) di Bandung telah menerima pesan komunikasi dari Ratu Belanda, Wilhelmina, untuk disebarkan ke seluruh  masyarakat Hindia Belanda.

Mortimer Epstein dalam bukunya, The Statesman's Year-Book 1941: Statistical and Histo rical Annual of the States of World for the year 1941, terbitan tahun 1941, menyebutkan, menjelang pecahnya Perang Dunia II, dalam situasi mulai memanas, Bandung menjadi kota berperan penting. Soalnya, telekomunikasi radio telefon antarpihak Britania Raya, sejumlah negara Eropa, dan Amerika Serikat, dilakukan dari Bandung.

Akan tetapi, kemudian terjadi krisis internasional seluruh layanan radio tersebut kemudian dihentikan sementara sejak awal September 1939. Yang dimaksud, tampaknya adalah pascaterjadinya serangan Jerman ke Polandia, 1 September 1939 itu.

Leidsch Dagblad terbitan 18 September 1939 menyebutkan, pada 17 September 1939, ­Kementerian Perang Hindia ­Belanda di Bandung ­mengumumkan, kondisi ­kewaspadaan terhadap situasi politik dunia mengacu kondisi perang di Eropa tersebut agar ­diwaspadai menjalar ke Hindia Belanda.

Militer Hindia ­Belanda di seluruh Pulau Jawa diperintahkan melakukan ­kesiap-siagaan karena mewaspadai ­pulau ini pun kemudian ikut terseret perang.

Pengiriman pos banyak terganggu



Terjadinya sejumlah perang di Eropa karena Jerman me­nyerang Polandia pada 1 September 1939 yang memicu Perang Dunia II juga berdampak pada sejumlah urusan di Hindia Belanda, termasuk di Pulau Jawa.

Gambaran tersebut muncul dari berita yang dimuat Soerabaijasch Handelsblad terbitan 8 September 1939 yang arsipnya tersimpan di Koninklijke Bibliotheek Delpher Belanda.

Diberitakan dengan mengutip Kantor Berita Aneta, perang di Eropa ­berpe­ngaruh terhadap pengiriman pos dari Hindia Belanda, baik surat maupun paket, termasuk dari Pulau Jawa.

Sejak 2 September 1939, sejumlah jadwal keberangkatan pesawat terbang dari Hindia Belanda dibatalkan dan belum ada kepastian ka­pan layanan kembali dilakukan.

Akibat kondisi tersebut, kata berita itu, semua kiriman pos uda­ra ­dipindahkan ke Poelau Rubiah (pulau ini ada di dekat Sabang, Aceh).

Banyak ­pengirim berharap, berbagai kiriman pos ini akan diambil lalu diteruskan oleh perusahaan penerbangan Belanda, yaitu KLM (Koninklijke Luchtvaart Maatschappij) ke tangan pe­ne­rima.

Disebutkan pula, pemerintah Hindia pun kemudian melakukan larangan kepada warga negaranya, untuk tidak menelefon di pe­la­buhan luar negeri. Sejumlah surat yang dikirim melalui pos udara masih dapat dikirim pada ­saat-saat terakhir ke Belanda.

Bahkan, kata berita itu pula, ­pemerintah Hindia Belanda sempat ­mengeluarkan pengumuman bahwa aktivitas pengiriman pos baru akan dilakukan lima tahun lagi. Ini jika kemudian perang berakhir sehingga kondisinya normal lagi.

Sementara itu, layanan kantor PTT yang berpusat di Bandung, ­mengumumkan bahwa Javapost ­(sebutan ekspedisi pos asal Pulau Jawa) yang akan dikirim untuk Sumatra Utara, yang Sabtu, September 1939, kapal uap SS p lalu, s.s. "Op ten Noort" yang telah diberangkatkan dari Pelabuhan Tanjung Priok Batavia, ternyata ditahan oleh pihak berwenang di Singapura.

Sejumlah pengirim yang kemudian mengetahui kondisi itu, men­desak pihak PTT agar ganti menggunakan pesawat terbang oleh perusahaan penerbangan Hindia Belanda, yaitu KNILM (Koninklijke Nederlandsch Indie Luchtvaart Maatschappij).

Pihak PTT kemudian menyanggupi, tetapi ­kemudian memberitahukan kepada ­publik para pengguna layanan pos agar mencantumkan keterangan tujuan ­pengirim dengan ditulis "tidak melalui Singapura”. Pengiriman itu kemudian lewat Padang, lama transit pengiriman antara Batavia dan Medan atau ­sebaliknya adalah 6 hingga 7 hari.***

Bagikan: