Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan, 21.6 ° C

Viral Warga Buang Sampah di Perbatasan, Masalah Dilematis Cimahi

Ririn Nur Febriani
PETUGAS kebersihan menunggu truk sampah yang datang di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) Cilember, Jalan AMir Machmud, Kota Cimahi, Senin, 12 Maret 2018. Aksi mogok pengendara truk sampah di TPA Sarimukti berimbas terhambatnya pengangkutan sampah dari Kota CImahi.*
PETUGAS kebersihan menunggu truk sampah yang datang di Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPSS) Cilember, Jalan AMir Machmud, Kota Cimahi, Senin, 12 Maret 2018. Aksi mogok pengendara truk sampah di TPA Sarimukti berimbas terhambatnya pengangkutan sampah dari Kota CImahi.*

CIMAHI, (PR).- Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi dilematis menyikapi masih banyaknya masyarakat yang membuang sampah sembarangan termasuk ke badan sungai. Tiap tahun disediakan anggaran penyediaan tempat pengolahan sampah (TPS), namun sulit mendapat lahan karena masyarakat kerap menolak keberadaan TPS di lingkungannya.

Demikian diungkapkan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 pada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Djani Ahmad Nurjani, di kantornya di Kompleks Pemkot Cimahi Jalan Raden Demang Hardjakusumah Kota Cimahi, Jumat 31 Agustus 2018.

"Dalam kegiatan sosialisasi persampahan sudah disampaikan ke masyarakat agar tidak buang sampah sembarangan apalagi ke sungai. Kalau alasan minim sarana prasarana, kami berusaha mencari lahan untuk TPS tapi sering ditolak masyarakat," ujarnya.

Pernyataan tersebut dilontarkan menanggapi viralnya aksi buang sampah warga ke Sungai Citopeng yang terekam video di perbatasan RT 4 RW 10 Kel. Cijerah Kec Bandug kulon Kota Bandung- RT 6 RW 22 Kel. Melong Asih Kec. Cimahi Selatan Kota Cimahi. 

Menurut Djani, pihaknya terus menerus berkoordinasi dengan kelurahan dan RT/RW untuk mendirikan TPS. "Apalagi kalau ada masyarakat yang mengajukan silahkan kami terbuka. Bahkan, tiap tahun menganggarkan untuk pembuatan TPS," ucapnya.

Kesulitan lahan membuat pembangunan TPS kerap terhambat. "Memang lahan terbatas. Ditambah masyarakat tidak mau dekat lokasi TPS. Jadi, bukan pemerintah tidak menyediakan sarana atau pembiaran," tuturnya.

Penempatan kontainer sebagai pengganti TPS juga sering kali ditolak masyarakat. "Ada lahan buat TPS tapi masyarakat menolak. Sediakan juga kontainer yang bisa mobile, tetap sulit. Silahkan khususnya di lokasi terjadi pembuangan sampah kalau ada lahan untuk TPS atau kontainer kami siap," tuturnya.

Ketersediaan TPS yang ada tidak mampu menampung sampah dari masyarakat Kota Cimahi. Saat ini Kota Cimahi baru memiliki 21 TPS dan 6 TPS 3R di 15 kelurahan untuk melayani 600 ribu warga Cimahi. Idealnya, setiap RW di semua kelurahan memiliki satu TPS.

TPS 3R



TPS 3R merupakan program pengolahan sampah di kawasan padat penduduk sebagai upaya pengolahan sampah mandiri dari masyarakat, sebelum akhirnya sisa residu sampah itu akan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Menurut Djani, untuk membangun sebuah TPS 3R, harus tersedia lahan kurang lebih 200 meter², dengan akses jalan yang memadai untuk kendaraan pengangkut sampah.

Diungkapkan oleh Djani, pengolahan sampah di TPS 3R berbeda dengan TPS biasa yang hanya sebagai tempat penyimpanan sementara. Di TPS 3R, sampah dari rumah tangga akan dipilah antara yang organik dan anorganik.

"Untuk melakukan proses Reuse, Reduce, dan Recycle, di TPS 3R ada alat pemilahan, daur ulang, dan pengomposan. Jadi nanti kompos yang diolah di TPS 3R akan diberikan lagi ke masyarakat yang membutuhkan untuk pertanian atau berkebun," tuturnya.

Pihaknya berharap jika di setiap kelurahan minimal tersedia satu TPS 3R. Mengingat jumlah sampah yang dihasilkan rumah tangga di Kota Cimahi setiap tahunnya selalu meningkat.

Jika kebutuhan untuk TPS dan TPS 3R sudah terpenuhi, Pemerintah Kota Cimahi dapat memikirkan untuk membangun TPS Terpadu sehingga dapat menampung sampah rumah tangga skala kota.

"TPS Terpadu jadi rencana jangka panjang. Selain lahan yang luas, anggaran yang dibutuhkan juga sangat besar," ungkapnya. 

Zero waste



Sejak tahun 2016 sampai sekarang, Djani mengatakan DLH Kota Cimahi terus edukasi ke masyarakat menuju program zero waste. "Kami door to door, sudah 40 RW yang didatangi bagaimana mengolah sampai yang benar. Mudah-mudahan masyarakat paham, bahwa sampah bukan harus dibuang tapi bisa diolah. Sampah bisa bernilai ekonomis apapun jenisnya, organik bisa dibuat pupuk anorganik bisa ditabung ke bank sampah atau dikreasikan sehingga didaur ulang," ungkapnya.

Pihaknya juga tengah menyelesaikan perubahan Perda No. 16 tahun 2011 tentang Pengelolaan Sampah. "Mudah-mudahan tahun ini bisa rampung. Pada regulasi tersebut, akan lebih rinci dan ketat lagi soal pengolahan sampah hingga pembuang sampah bisa kena sankai administrasi hingga pidana. Untuk pengawasan dan penegakan aturan, ada dinas terkait yang lebih berwenang," ucapnya.***

Bagikan: