Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.5 ° C

Sungai Cijanggel Surut, Ribuan Keluarga Rasakan Dampak

Hendro Susilo Husodo
DEBIT air tampak berkurang di Sungai Cijanggel, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 31 Agustus 2018. Akibat kemarau pasoakan air PDAM yang berasal dari sungai tersebut berkurang hingga 40 persen.*
DEBIT air tampak berkurang di Sungai Cijanggel, Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 31 Agustus 2018. Akibat kemarau pasoakan air PDAM yang berasal dari sungai tersebut berkurang hingga 40 persen.*

 

NGAMPRAH, (PR).- Pada musim kemarau ini Situ Lembang yang mengaliri air ke Sungai Cijanggel di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mengalami penurunan volume air. Pasokan air untuk ribuan rumah tangga pun turut terdampak, karena sejumlah perusahaan daerah air minum (PDAM) memanfaatkan air dari Cijanggel.

Aktivitas pemanfaatan air di hulu Cijanggel dilakukan oleh lebih dari 20 perusahaan/instansi. Di antaranya ialah PT Perdana Multiguna Sarana (PMgS) yang merupakan PDAM milik Pemkab Bandung Barat, PDAM Tirta Raharja milik Pemkab Bandung, dan PDAM Tirtawening milik Pemkot Bandung. 

Manager Junior Humas dan Sekretariat PDAM Tirta Raharja Sri Hartati mengatakan, posisi terakhir debit air Cijanggel yang mengalir ke pipa Tirta Raharja ialah 100 liter/detik. Padahal, biasanya debit air mencapai 180 liter/detik. Penurunan volume air itu, kata dia, sudah terjadi beberapa minggu terakhir ini. 

"Untuk pelanggan kami di Cimahi, memang terjadi penurunan yang signifikan. Dari 180 liter/detik, sekarang 100 liter/detik. Artinya, ada penurunan debit air 40 persen dampak dari musim kemarau. Namun, untuk pelanggan di Cimahi ini sudah kami antisipasi segala sesuatunya, teknis dan nonteknis," katanya, Jumat 31 Agustus 2018.

Sebagai langkah antisipasinya, lanjut dia, digunakan sistem rekayasa pendistribusian air kepada pelanggan. Air ke sambungan rumah tetap mengalir, tapi ada ada pengurangan volume untuk waktu tertentu. "Jadi, kalau biasanya full 24 jam, sekarang ada pengurangan selama 12 jam. Namun, Kami berusaha memenuhi kebutuhan air," katanya. 

Per Juli 2018, dia menjelaskan, Tirta Raharja memiliki total pelanggan sebanyak 94.126 sambungan rumah. Per Juni 2018, pelayanannya tercatat mencakup Kabupaten Bandung 70,58 persen, Kota Cimahi 17,06 persen, dan Kabupaten Bandung Barat 12,36 persen. "Khusus untuk di Cimahi, kami menggunakan sumber air dari Cijanggel," ujarnya.

Sumur dalam



Tati menyebutkan, untuk pelanggan di Bandung Barat yang berjumlah 11.407 sambungan rumah, Tirta Raharja menggunakan sumur dalam sebagai sumber air bakunya. Di Bandung Barat, pelanggan Tirta Raharja terdapat di wilayah Cisarua, Lembang, Cililin, Padalarang, Batujajar, dan Cikalongwetan. 

Lantaran memanfaatkan sumur dalam, kata dia, pasokan air bagi pelanggan di Bandung Barat tidak terdampak kemarau. "Misalnya, di Batujajar debit airnya tetap 20 liter/detik, atau di Cikalongwetan 5 liter/detik. Di Cikalongwetan itu debit airnya kecil, karena memang cuma ada 402 sambungan rumah. Debit air 1 liter/detik itu bisa untuk 80-100 sambungan rumah," terangnya. 

Sementara itu, penurunan debit air dirasakan oleh pelanggan PT PMgS. Seorang warga, Freni Mulya (37) menuturkan, dampak penurunan debit air terasa di tempat tinggalnya, di Kampung Cilengkrang, Desa Pasirhalang, Kecamatan Cisarua. Penurunan debit air itu terjadi setiap musim kemarau, bahkan terkadang aliran airnya terhenti.

"Air yang mengalir sedikit sekali, itu juga pada malam hari. Saya sudah menanyakan ke pihak PMgS, dijawab bahwa suplai air memang bekurang karena kemarau. Yang dikhawatirkan, kalau ini tidak diantisipasi, aka persoalan ini akan terus berulang pada setiap tahun," katanya.***

Bagikan: