Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Setahun Berlalu, Petualangan Watimin Jalan Kaki Keliling Indonesia Belum Berakhir

Hendro Susilo Husodo
PEMUDA asal Cilacap, Watimin (36), berjalan dengan membawa bendera melintasi Jalan Amir Mahmud, Kota Cimahi, Selasa, 4 Juli 2017 tengah malam. Selain untuk memenuhi nazar, Watimin berencana keliling Indonesia dengan berjalan kaki untuk membuktikan rasa cintanya terhadap Tanah Air Indonesia.*
PEMUDA asal Cilacap, Watimin (36), berjalan dengan membawa bendera melintasi Jalan Amir Mahmud, Kota Cimahi, Selasa, 4 Juli 2017 tengah malam. Selain untuk memenuhi nazar, Watimin berencana keliling Indonesia dengan berjalan kaki untuk membuktikan rasa cintanya terhadap Tanah Air Indonesia.*

SATU tahun berselang, Watimin (36) kembali melangkahkan kaki di Jalan Raya Gadobangkong, Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 30 Agustus 2018. Dia masih membawa atribut yang sama, yaitu banner bertuliskan "Jalan Kaki Keliling Indonesia" dan bendera Merah Putih.

Namun, kali ini dia berjalan dengan arah yang berbeda dibandingkan setahun lalu, yaitu dari arah barat ke timur. "Ini mau ke Papua. Saya mau ke Surabaya, menyebrang naik kapal ke Makassar, terus ke Sorong dan Manokwari naik kapal feri," katanya.

Setahun lalu, pria asal Cilacap tersebut melewati Jalan Amir Machmud di Kota Cimahi lalu melintas di Jalan Raya Gadobangkong. Saat itu, dia berjalan dari Cilacap ke Jakarta, dengan tujuan menjangkau Istana Negara. Itu dia lakukan untuk memenuhi nazar, setelah orangtuanya sembuh dari penyakit tumor di mata, ia ingin jalan kaki keliling Indonesia.

"Awalnya saya kan punya nazar, karena orangtua sudah sembuh dari penyakit, ada tumor besar di matanya. Nazar itu sudah saya bayar, dari Cilacap ke Istana. Ini dari hati saya, karena cinta Tanah Air. Saya ingin keliling Indonesia, sekarang baru 32 provinsi," katanya.

Dengan berjalan kaki keliling Indonesia, dia mengaku bisa lebih mengenal dan mencinta Tanah Air. Dia pun berharap perjalanannya tersebut dapat menginspirasi orang lain, sehingga turut berbangga terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Tujuan saya ini sebagai wujud kecintaan terhadap Tanah Air. Makanya, saya menjual sawah buat keliling Indonesia. Uangnya ada di rekening, tapi saya berusaha berhemat. Makan sehari sekali. Yang penting, air untuk minum. Kalau capek, istirahat dulu. Kalau tidur, biasanya saya ke koramil," katanya.

Bertemu harimau hingga disambut hormat di Batam



Kendati sejumlah orang ada yang menganggapnya gila, Watimin tak surut melangkah. Sejak memulai perjalanan dari rumahnya di Desa Pucung Lor, Kecamatan Kroya, pada 9 Agustus 2016, sudah banyak sekali pengalaman manis dan pahit.

"Di Jambi saya mendapat pengalaman pahit, ketika bertemu dengan harimau. Waktu itu jam 11 malam, sedang gerimis. Saya kaget enggak tahu kalau ada harimau. Suaranya sudah di depan saya. Kalau saya menatapnya, mungkin saya sudah diterkam," katanya.

Pengalaman manis jalan kaki keliling Indonesia, kata dia, terjadi ketika tiba di Batam. Watimin disambut oleh jajaran DPRD Batam. Selain itu, dia merasa berkesan dengan keindahan di Bali. Walau baru menjejakkan kaki ke Bali untuk pertama kalinya, dia menyatakan tak akan lewat ke Bali lagi buat mendatangi Papua. 

"Saya juga enggak akan pulang dulu ke Cilacap, walau kangen dengan orangtua dan saudara, saya mau langsung ke Papua. Saya dimonitor terus. Saya juga sudah dibina oleh saudara saya, mayor di TNI Angkatan Udara," tuturnya.***

Bagikan: