Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 20.9 ° C

KB Jangan Cuma Dibebankan pada Perempuan

Cecep Wijaya Sari
WARGA menggendong anaknya di dekat bus tempat pemasangan alat kontrasepsi IUD di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.*
WARGA menggendong anaknya di dekat bus tempat pemasangan alat kontrasepsi IUD di Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, beberapa waktu lalu.*

NGAMPRAH, (PR).- Pemasangan alat kontrasepsi untuk menekan kelahiran jangan hanya dibebankan kepada perempuan. Sebab, pria pun bisa melakukannya, yakni dengan menggunakan kondom ataupun vasektomi.

"Ketika berbicara kontrasepsi untuk KB (Keluarga Berencana), seolah-olah hanya perempuan yang jadi sasaran. Padahal, pria pun bisa berperan," kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak Kabupaten Bandung Barat Asep Wahyu didampingi Kabid KB dan Kesehatan Reproduksi Aam Lativah, Rabu 29 Agustus 2018.

Dia menuturkan, partisipasi pria dalam KB dibutuhkan ketika perempuan mengalami kendala saat akan dilakukan pemasangan alat kontrasepsi, berupa suntik ataupun pemasangan IUD. Pria berperan agar tingkat kelahiran bisa tetap ditekan, sehingga laju pertumbuhan penduduk juga bisa dikendalikan.

Di Bandung Barat, partisipasi pria dalam KB cukup menggembirakan. Tahun ini, partisipasi KB pria sekitar 1,5 persen, terdiri atas 0,89 persen pengguna kondom dan 0,62 persen vasektomi.

"Target kami untuk KB pria memang tak terlalu tinggi, yaitu sekitar 2 persen saja sudah cukup. Namun kami tegaskan, KB ini jangan hanya dibebankan kepada perempuan," ujarnya.

Usia subur



Data Bidang KB dan KS, pengguna kondom terbanyak berada di Parongpong (1,80%) dan Cikalongwetan (1.57%). Sementara penggunaan vasektomi tertinggi di Saguling (1,84%), lalu Cililin (1,58%).

Asep menuturkan, para peserta aktif KB pria ini masih dalam rentang usia subur. Namun, mereka berkomitmen untuk tidak lagi memiliki keturunan setelah memiliki dua anak.

"Partisipasi KB pria ini terus meningkat. Apalagi, saat ini banyak yang terdesak faktor ekonomi, sehingga ini pun cukup berpengaruh," katanya.

Dia menambahkan, pihaknya terus menyosialisasikan program KB terutama kepada pasangan usia subur yang tidak ingin memiliki anak lagi setelah dikaruniai dua anak ataupun mereka yang ingin menunda kelahiran anak. Tahun ini, ada sebanyak 45.842 pasangan usia subur yang menjadi sasaran program Keluarga Berencana.

Sementara itu, warga Padalarang, Adi Harianto (37) mengaku dirinya tak aktif menjadi peserta KB. Sebab, istrinya sudah lebih dulu aktif menggunakan alat KB. "Istri saja sudah cukup karena tidak mengalami kendala," ujar ayah dua anak ini.

Meski belum memiliki anak laki-laki, ia mengaku cukup dengan dua anak perempuannya. Sebab menurut dia, jenis kelamin bukan hal utama dalam mendapatkan keturunan.

"Namun, lebih ke bagaimana mempersiapkan kebutuhan anak ke depannya. Jangan sampai anak banyak, tetapi kebutuhan dan hak mereka tidak terpenuhi," ucapnya.***

Bagikan: