Pikiran Rakyat
USD Jual 14.644,00 Beli 14.546,00 | Umumnya berawan, 25.3 ° C

Belum Berfungsi, Tol Cisumdawu Tahap I Dinilai Mubazir

Novianti Nurulliah
PENJABAT Gubernur Jawa Barat Mochamad memantau pembanguna tol Cisumdawu di Desa Rancakalong, Sumedang, Rabu 11 Juli 2018.*
PENJABAT Gubernur Jawa Barat Mochamad memantau pembanguna tol Cisumdawu di Desa Rancakalong, Sumedang, Rabu 11 Juli 2018.*

BANDUNG, (PR).- Pembangunan jalan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) tahap pertama yang sebagian telah tuntas dinilai mubazir karena belum bisa difungsikan. Sementara saat ini pemerintah tengah mengebut pengerjaan tahap selanjutnya yang meliputi seksi 3, 4, 5, dan 6.

Untuk diketahui, tahap satu Cisumdawu yang meliputi dua seksi, 6 km bagian tol Cisumdawu di Tanjungsari dari 28 km total tahap pertama sudah bisa berfungsi sejak 2017 lalu. Namun ternyata tidak bisa dipergunakan oleh masyarakat.

"Fase ini sudah selesai sejak tahun lalu sekitar 6 km. Dewan minta jangan sampe tahap dua ini pekerjaan selesai tapi belum bisa beroperasi. Jadi kan sayang,  6 km ini jadi mubazir. Kenapa tidak diselesaikan dulu tahap 1 sampai Sumedang paling tidak bisa kita gunakan," ujar Wakil Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Jawa Barat Daddy Rohanady usai meninjau lokasi pembangunan seksi 3 Cisumdawu, Kamis 30 Agustus 2018.

Sementara itu, kata dia, pada tinjauan 4,05 km di tahap dua, di mana Jasa Sarana (BUMD Jabar) memiliki saham di sana eksisting lahan baru 4 km yang bebas dan tengah dalam pengerjaan fisik. Lainnya belum terbebaskan.

"Kalau on schedule, seksi 3 tuntas akhir  2019. Namun, pekerjaan itu menjadi mubazir kalau Seksi 1 dan 2 belum tuntas. Kami berharap hal itu tidak terjadi. Andai saja Seksi 1-3 selesai, praktis ruas Cilenyi-Sumedang bisa dioprasionalkan. Jadi, jangan sampai Seksi 3 selesai tetapi menjadi mubazir seperti 6 km di Fase 1 yang sudah selesai 2 tahun lalu tetapi belum dipakai," ujar Daddy.

Lahan mubazir akibat pengalihan trase Tol Cisumdawu



Lebih lanjut ia menambahkan bahwa, masih ada beberapa kendala yang harus diselesaikan untuk mewujudkan jalan bebas hambatan yang menghubungkan Cileunyi-Sumedang-Dawuan tersebut. Di antaranya pembebasan lahan dilakukan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Lahan di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

"Ada masalah dengan pembebasan lahan, baik untuk Fase 1 maupun Fase 2," ujar Daddy menambahkan.

Memang, dalam hampir semua pekerjaan berskala besar seperti itu, persoalan pembebasan lahan selalu mengemuka.

"Fase 1 menyisakan lahan cukup besar di Seksi 1 (Jatinangor/STPDN), sedangkan Fase 2 di Seksi 3 lahan sudah bebas 99 persen lebih. Sementara itu, lahan di Seksi 4-6 belum dibebaskan sama sekali," ujar Sekretaris Fraksi Partai Gerindra DPRD Jabar itu.

Lahan di Seksi 4-6 kondisinya seperti itu sebagai akibat adanya pengalihan trase. Pengalihan trase itu sendiri dilakukan karena lahan di trase lama dianggap sangat rawan karena kondisi tanah yang sangat labil.

Persoalan lain yang ada adalah outramp ujung Seksi 3 ke arah Cimalaka. Ujung jalurnya bergabung dengan jalan kabupaten yang hanya memiliki badan jalan 4,5 meter. Tentu kondisi tersebut akan sangat mengganggu arus lalu lintas ketika nantinya outramp itu dipergunakan.

"Kami akan usulkan adar dilakukan pelebaran jalan kabupaten tersebut sampai ke jalam nasional (Sumedang-Majalengka). Status jalannya juga bisa kita usulkan naik menjadi jalan provinsi atau jalan nasional. Terkait lahan di Jatinangor (IPDN), kami akan konsultasikan ke Jakarta agar dilakukan musyawarah oleh semua stakeholders," kata Daddy.

Dengan melihat perkembangan tersebut pembangunan Tol Cisumdawu baru akan selesai tahun 2020/2021. 

Pada awalnya jalan Tol Cisumdawu direncanakan mulai beroperasi pada akhir 2017. Hal itu diharapkan bersamaan waktunya dengan selesainya pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Tol Cisumdawu diharapkan dapat menjadi akses masyarakat Jabar bagian selatan ke bandara yang terletak di Kabupaten Majalengka tersebut.

Sementara itu, BUMD PT Jasa Sarana dan DPRD Jabar mendorong Pembangunan tol Cileunyi-Sumedang-Dawuan (Cisumdawu) pembangunan seksi I & II disegerakan pemerintah.

Pemerintah pusat harus mendorong penyelesaian seksi Cileunyi-Sumedang



Direktur Keuangan PT Jasa Sarana Indrawan Sumantri mengatakan, sebagai afiliasi di Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT) kini tengah menggarap seksi III Sumedang-Cimalaka sepanjang 4,05 kilometer. “Sampai saat ini kami berkomitmen mendorong infrastruktur strategis ini,” kata dia dihubungi terpisah.

Menurut dia, dalam proyek ini, pihaknya mendorong percepatan lewat keikutsertaan PT Jabar Bumi Konstruksi yang tergabung dalam PT CKJT dengan saham 10%. Namun  percepatan di porsi BUJT dinilai percuma jika Pusat tidak segera mendorong penyelesaian di seksi Cileunyi-Sumedang.

”Jangan sampai CKJT keasyikan membangun seksi 3 dan selanjutnya, tapi kurang peduli terhadap upaya percepatan solusi penyelesaian Seksi 1 & 2 yang merupakan milik Pemerintah,” tutur dia dalam siaran persnya.

Sejak 2006, PT Jasa Sarana sendiri merupakan inisiator pembangunan Jalan Tol Cisumdawu, dengan total panjang 60,1 km yang terbagi menjadi 6 seksi pembangunan. 

Sebagai afiliasi Jasa Sarana, PT Citra Karya Jabar Tol (CKJT) melakukan pembangunan pada seksi 3 (sumedang-cimalaka 4,05km), seksi 4 (cimalaka-legok 8,20km), seksi 5 (legok-ujung jaya 14,9 km) dan seksi 6 (ujung jaya-dawuan 6,07km).

“Sampai saat ini, Kami berkomitmen mendukung kemajuan pembangunan infrastruktur strategis ini, sekaligus mendorong anak perusahaan, yakni PT Jabar Bumi Konstruksi untuk ikut andil dalam pembangunan,” ujar Ayi Mohamad Sudrajat, Direktur Investasi PT Jasa Sarana.***

Bagikan: