Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 29.3 ° C

192.000 Warga Bandung Barat Masuk Kategori Miskin

Hendro Susilo Husodo

NGAMPRAH, (PR).- Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kabupaten Bandung Barat, sekitar 192.000 warga atau 11,49 dari jumlah penduduk di Kabupaten Bandung Barat hidup dalam kemiskinan. Pada kepala desa diminta jadi ujung tombak dalam menanggulanginya. 

Kepala Bidang Perencanaan Bappelitbangda Kabupaten Bandung Barat, Kamal Mustofa menyatakan, data tersebut ialah data 2018. Tanpa menyebut data 2017, dia mengklaim bahwa angka kemiskinan pada tahun ini sedikit berkurang dibandingkan tahun lalu. Bappelitbangda berupaya menurunkan angka kemiskinan melalui koordinasi dengan para kades. 

"Mereka (kades) adalah pihak yang lebih mengetahui kondisi masyarakat secara langsung dan terperinci. Jadi, para aparat desa merupakan ujung tombak penanggulangan kemiskinan, karena mereka bersentuhan secara langsung dengan masyarakat," kata Kemal, melalui siaran pers dari Humas Setda Kabupaten Bandung Barat, Kamis 30 Agustus 2018. 

Selain lebih tahu soal data kemiskinan, lanjut dia, kades beserta aparatnya pun dinilai mengetahui solusi dan metodologi seperti apa yang bisa dilakukan untuk menanggulangi kemiskinan di desanya. Penanggulangan kemiskinan oleh pemerintah desa sekaligus menjadi salah satu bentuk penajaman dari fungsi pemerintab desa.

Jika dilihat sudut pandang yang lain, Kemal menilai, pengentasan kemiskinan di Kabupaten Bandung Barat sudah relatif bagus. Dia beralasan, berbagai kearifan lokal bisa dimanfaatkan sebagai media dalam program percepatan penanggulangan kemiskinan. Di antaranya, tradisi perelek dan gotong royong. 

"Jadi, sebenarnya penanggulangan kemiskinan juga sudah dilakukan oleh masyarakat sendiri, dengan adanya beberapa kearifan lokal sehingga terbangun pemberdayaan masyarakat, di samping terus meningkatnya partisipasi pemerintah desa yang dimulai dari lokasi di mana masyarakat miskin berada," katanya.

Metode



Penjabat Bupati Bandung Barat Dadang M Ma'soem menilai, metode penanggulangan kemiskinan yang tepat belum ditemukan. "Saya rasa kendalanya pada metodologinya yang masih belum pas, sehingga belum diperoleh model penanggulangan kemiskinan yang terbaik," katanya. 

Meskipun penanggulangan kemiskinan sudah dilakukan secara terkoordinir, menurut dia, persentase warga miskin masih tetap tinggi dari tahun ke tahun. Selain karena menyangkut hajat hidup orang banyak, dia menilai, penanggulangan kemiskinan tidak mudah dilakukan karena harus melibatkan banyak pihak terkait. 

Dia pun menilai bahwa sejumlah model yang pernah diterapkan dalam penanggulangan kemiskinan tidak tepat. Pasalnya, model tersebut seolah-olah memanjakan masyarakat yang terkategorikan sebagai warga miskin dengan bantuan yang bersifat konsumtif. Dengan demikian, warga miskin tidak menjadi lebih berdaya.

"Model yang paling pas adalah lebih kepada pemberdayaan perekonomian masyarakat. Dengan kata lain, berikan mereka kail serta pancing dan biarkan mereka berusaha menangkap ikan sendiri. Jadi, jangan hanya memberi mereka ikan, karena itu akan membuat mereka terlena," ucapnya.**

Bagikan: