Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Berawan, 21.4 ° C

Bandung Butuh 20 Kolam Retensi

Muhammad Fikry Mauludy
SEORANG pekerja berada di kawasan pembangunan kolam retensi di Jalan Sirnaraga, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Senin, 27 Agustus 2018. Kota Bandung selayaknya memiliki setidaknya 20 kolam retensi untuk mampu menangani derasnya aliran air dari wilayah utara saat curah hujan tinggi. Saat ini Kota Bandung baru memiliki dua kolam retensi.*
SEORANG pekerja berada di kawasan pembangunan kolam retensi di Jalan Sirnaraga, Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, Senin, 27 Agustus 2018. Kota Bandung selayaknya memiliki setidaknya 20 kolam retensi untuk mampu menangani derasnya aliran air dari wilayah utara saat curah hujan tinggi. Saat ini Kota Bandung baru memiliki dua kolam retensi.*

BANDUNG, (PR).- Kota Bandung selayaknya memiliki 20 kolam retensi untuk mampu menangani derasnya aliran air dari wilayah utara saat curah hujan tinggi. Saat ini Kota Bandung baru memiliki dua kolam retensi.

“Idealnya kita mempunyai 20 kolam retensi. Kita baru punya retensi Sarimas, Taman Lansia, sama Sirnaraga tahun ini, baru ada 3. Makanya setiap tahun harus dibangun. Saya memperkirakan butuh 20 kolam retensi untuk mengendalikan banjir kiriman saat cuaca ekstrim di musim hujan,” ujar Kepala Bidang Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum Kota Bandung Tedi Setiadi, di Bandung, Senin, 27 Agustus 2018.

Sebagai wilayah cekungan, Kota Bandung paling rawan menghadapi kiriman debit air tinggi di saat musim hujan. Tanpa serapan air yang baik di wilayah hulu, hampir di setiap wilayah Kota Bandung membutuhkan pengendalian kiriman air di sejumlah titik.

Saat ini, kata Tedi, Pemerintah Kota Bandung masih memfokuskan penanganan banjir di aliran Sungai Citepus. Dampak dari derasnya kiriman air dari wilayah utara telah dialami warga di kawasan Pagarsih.

Setelah membangun tol air di Pasteur dan Pagarsih, DPU Kota Bandung mulai membangun kolam retensi Sirnaraga sebagai kendali aliran Sungai Citepus. Meski begitu, kolam retensi Sirnaraga belum cukup untuk mengerem derasnya aliran air dalam momen puncak musim hujan.

“Dukungan dari kolam retensi lain itu untuk menangani cuaca hujan ekstrim. Tetapi minimal kita sudah mengurangi derasnya debit air dan menekan dampak buruk yang dialami warga, terutama di kawasan Pagarsih,” tuturnya.

Oleh karena itu, kata Tedi, kolam retensi Sirnaraga harus didukung oleh kolam retensi lainnya di kawasan utara, idealnya di wilayah Setrasari. Di bagian bawah Sirnaraga, diperlukan juga pembangunan kolam retensi di Bima sesuai yang telah direncanakan sejak lama, dan satu lokasi tambahan di sekitaran tol air Pagarsih.

“Idealnya di Setrasari dibikin juga, di Bima juga. Di Pagarsih atau Astanaanyar juga, kita cari setelah atau sebelum tol air Pagarsih. Minimal dengan luas kolam 500 meter persegi itu bisa menampung lebih dari satu juta liter air,” katanya.

Selain di aliran Sungai Citepus, Tedi menambahkan, kolam retensi juga harus dibangun di wilayah lain. Peristiwa banjir bandang di Jatihandap, Cicaheum, Maret lalu menjadi contoh terjangan air bercampur lumpur melalui aliran Sungai Cipamokolan yang harus segera dibendung.

Belum lagi sungai lain yang juga mengancam wilayah permukiman warga. Di bulan yang sama, aliran air di Sungai Cironggeng menjebol tanggul penahan sungai dan merusak rumah warga.

“Cicaheum Utara, contohnya, tentu perlu kolam retensi. Intinya kalau ada lahannya di atas lebih bagus. Kalau tidak ada, kita cari yang lokasinya bisa membuat airnya tertahan. Di perbatasan wilayah Kota Bandung juga lebih bagus,” ujarnya.

Kolam retensi Sirnaraga dibangun dengan kedalaman kolam 3.1 meter dengan dilapisi cor beton. Dengan luas 1.000 meter persegi, kolam ini akan menahan laju air Sungai Citepus, sebelum mencapai tol air Pagarsih yang berjarak tiga kilometer.

Kapasitas kolam hingga 4.500 meter kubik itu akan berfungsi sebagai parkir lebih dari dua juta liter air. Terdapat pintu masuk dan keluar air setinggi 90 sentimeter. Di pintu masuk kolam dilengkapi penyaring sampah.

“Nanti dibuat mercu. Pada saat Sungai Citepus permukaan airnya naik, sebagian airnya masuk ke dalam kolam. Jika kolam penuh, sedikit-sedikit dipompa kembali keluar ke Sungai Citepus,” tuturnya.***

Bagikan: