Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 20.8 ° C

RSUD Cikalongwetan Upayakan Kerja Sama dengan BPJS

Hendro Susilo Husodo
Suasana di RSUD Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.
Suasana di RSUD Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat.

NGAMPRAH, (PR).- Peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan belum bisa terlayani di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cikalongwetan, Kabupaten Bandung Barat. Pasalnya, sarana dan prasarana RSUD Cikalongwetan masih belum lengkap, sehingga kerja sama dengan BPJS Kesehatan belum bisa dilakukan.

Direktur RSUD Cikalongwetan, Ridwan Abdullah Putra mengakui bahwa RSUD Cikalongwetan belum memiliki kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Meski begitu, dia menyatakan bakal mengupayakan agar kerja sama itu dapat terealisasi dalam waktu dekat ini. Soalnya, sejumlah kekurangan yang ada kini telah dilengkapi.

"Pasien BPJS belum (terlayani), kami masih dalam proses. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ini selesai. Memang banyak masyarakat yang menanyakannya, tapi kami belum di-acc (disetujui) oleh BPJS. Jadi, sementara ini pasien BPJS yang ke sini dirujuk ke RSUD Cibabat atau RS lainnya," kata Ridwan di kantornya, baru-baru ini.

Sejak RSUD Cikalongwetan mulai beroperasi pada akhir Juli 2017, dia menjelaskan, pihaknya bersama Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat berupaya terus melakukan penyempurnaan. Lantaran beberapa fasilitas masih belum ada, grand opening pun belum dilakukan. Yang penting, kata Ridwan, masyarakat bisa terlayani dulu. 

"Untuk bekerja sama dengan BPJS, permasalahan kami di antaranya ialah pada sarana IPAL (instalasi pengolahan air limbah), surat izin praktik dokter bedah, maupun ketersediaan obat-obat kronis. Itu semua saat ini sudah bisa kami lengkapi. Sekarang kami sedang menunggu visitasi dari BPJS lagi," tuturnya. 

Kelengkapan



Lebih lanjut, dia memaparkan, di RSUD Cikalongwetan telah tersedia ruang rawat inap kelas 1 dan kelas 2, tetapi sampai sekarang masih belum bisa dimanfaatkan. Dari total 130 tempat tidur yang ada, tempat tidur yang digunakan pun baru sekitar 50 unit. Setiap bulan, RS tipe D itu rata-rata memiliki sekitar 500 pasien rawat jalan, 120-130 pasien rawat inap, dan 500 pasien di instalasi gawat darurat. 

"Kami masih belum begitu sempurna, tapi yang penting masyarakat terlayani. Belum setahun, kami pun sudah dua kali menggelar bakti sosial. Untuk ruangan kami sudah lengkap, tinggal sumber daya manusia dan fasilitas penunjang. SDM kami masih kurang, perawat baru sekitar 30 orang. Kalau dokter umum sudah cukup, paling dokter-dokter spesialis yang belum," katanya.

Ridwan menyebutkan, kebutuhan untuk dokter spesialis di RSUD Cikalongwetan meliputi dokter bedah, dokter mata, doktet syaraf, dokter anak, dokter rehabilitasi medis, dan dokter bedah tulang (ortopedi). "Dokter spesialis itu ada yang butuh dua orang, misalnya, tapi kami baru ada seorang. Dokter mata belum ada, kemudian juga dokter rehabilitasi medis, radiologi, dan bedah tulang," ucapnya.

Guna memenuhi kebutuhan SDM tersebut, Ridwan mengaku telah mengusulkannya ke pemerintah daerah. Namun demikian, proses rekrutmen pegawai dapat memakan waktu lama, sekitar 3-6 bulan, karena perlu dilakukan uji kelayakan dulu. Selain itu, RSUD Cikalongwetan juga berupaya melakukan rekrutmen sendiri. 

"Kami juga mencari tenaga kerja kontrak buat dokter spesialis. Itu sudah dibuka, tapi sampai sekarang belum ada yang mau. Kalaupun ada yang mau, dia belum mau menyanggupi salary dan fasilitas yang ditawarkan. Kami memang belum bisa menyediakan rumah dinas atau kendaraan dinas. Namun, sekarang ini memang sudah ada yang tenaga kerja kontrak," tukasnya. ***

Bagikan: