Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan petir singkat, 21.4 ° C

Resmikan Orchid Forest, Menpar Arief Yahya Disambut Unjuk Rasa Warga

Hendro Susilo Husodo
Warga berunjuk rasa di depan gerbang masuk Orchid Forest, Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 24 Agustus 2018.*
Warga berunjuk rasa di depan gerbang masuk Orchid Forest, Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 24 Agustus 2018.*

NGAMPRAH, (PR).- Kedatangan Menteri Pariwisata RI Arief Yahya untuk meresmikan tempat wisata Orchid Forest di Cikole, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jumat, 24 Agustus 2018, disambut unjuk rasa warga. Dalam tuntutannya, warga mendesak pemerintah agar serius dalam upaya pelestarian kawasan hutan. 

Koordinator aksi, Suherman mengatakan, penataan dan pemadatan tanah untuk kepentingan wisata di kawasan hutan lindung dapat mengakibatkan fungsi tangkapan dan resapan air jadi berkurang. Terlebih lagi, jika tidak diikuti dengan upaya reboisasi. 

"Bahkan, sebagian besar (tempat wisata di kawasan hutan lindung) disinyalir tidak dilengkapi dengan kajian lingkungan berupa amdal (analisis mengenai dampak lingkungan) serta dokumen perizinan yang diwajibkan oleh perundang-undangan," katanya, Jumat, 24 Agustus 2018.

Dengan kondisi hutan yang semakin kritis dan memprihatinkan, dia menyinyalir, Perhutani selaku pengelola kawasan hutan lindung tidak berupaya meregenerasi tegakan melalui kegiatan reboisasi dan rehabilitasi. Dia pun meyakini kawasan hutan lindung akan rusak dan tidak sesuai dengan fungsinya. 

"Kalau tetap dibiarkan seperti ini, dampak kejadian bencana tidak akan dapat dihindari lagi. Mulai dari susahnya air bawah tanah, udara yang tak lagi sehat, hingga banjir dan longsor ketika hujan. Terlebih, di kawasan Bandung utara terdapat Patahan Lembang," katanya.

Jamin resapan air 



Terpisah, Administratur Perhutani KPH Bandung Utara Komarudin mengatakan, pihaknya memiliki 33 tempat wisata yang berada di kawasan hutan lindung. Meski begitu, dia menjamin daerah resapan air masih sangat bagus. Setiap tahun, pendapatan bersih dari 33 tempat wisata itu ditargetkan sebesar Rp 9,5 miliar.

Keuntungan itu, menurut dia, sebagian dikembalikan lagi untuk biaya perbaikan hutan, seperti penanaman pohon. Pengembangan tempat wisata juga tidak mengubah fungsi hutan, karena tidak dibangun dengan bangunan permanen. Kalaupun ada bangunan tambahan, luasnya tidak lebh dari 10 persen. 

Sementara itu, Direktur Utama PT Jala Energy selaku perusahaan yang mengelola Orchid Forest, Maulana Akbar alias Barry tidak bersedia menanggapi permintaan wawancara. Dia beralasan sibuk menerima tamu dalam acara peresmian, termasuk Menpar Arief Yahya.

Dalam sambutannya, Arief tidak menyinggung soal pengembangan tempat wisata di kawasan hutan lindung. Arief lebih banyak berbicara mengenai pengembangan wisata melalui destinasi digital dan nomadic tourism, seperti yang dikembangkan di Orchid Forest. 

"Keinginan generasi milenial maupun individu yang senang 'berbagi' di media sosial menjadi potensi baik untuk meningkatkan pariwisata dunia digital ini. Kalau menurut bahasa anak muda adalah destinasi yang instagramable," katanya.***

Bagikan: