Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan, 20.5 ° C

Rumah Tidak Layak Huni Ditempati 3 Keluarga, 3 Generasi

Ririn Nur Febriani

CIMAHI, (PR).- Ketidakberdayaan ekonomi membuat tiga keluarga dari tiga generasi harus rela tinggal di dalam rumah tidak layak huni di Kp. Cileuweung RT 2 RW 19 Kel. Cipageran Kec. Cimahi Utara Kota Cimahi. Hampir di semua sudut bangunan sudah mengalami kerusakan yang relatif parah, sebagian penghuni terpaksa mengungsi karena khawatir nyawa dalam ancaman rumah ambruk.

Rumah itu ditinggali oleh Jaya (37) dan keluarga, ayahnya Adang (64), serta Tati (81) ibu dari Adang. Berupa bangunan berukuran 11×6meter persegi, rumah panjang itu dibagi menjadi tiga bagian untuk keluarga masing-masing, dengan hanya dipisahkan oleh sekat yang terbuat dari bilik bambu.

Rumah sangat sederhana itu dibangun dengan bahan utama berupa bilik bambu dilapisi papan plafon GRC agar tak terlalu terlihat rapuh dan mampu menahan angin sehingga kondisi rumah tak terlalu dingin.

Bangunan yang berdiri di atas tanah seluas 20 tumbak itu miring, bagian atap sudah banyak yang bolong serta menggelayut lantaran sering terkena air hujan. Di musim penghujan, bangunan rumah tersebut tidak lagi mampu melindungi mereka dari guyuran air hujan.

Kebocoran kerap melanda di sebagian besar langit-langit rumah. Sedangkan saat musim kemarau, kotoran berjatuhan dari atap dan kerap membuat mata para anak iritasi.

Kondisi terparah menimpa ruangan yang ditempati keluarga Jaya, anak dan istrinya mengungsi ke tempat penyimpanan peralatan degung milik Adang. Kerusakan sangat parah, bagian atapnya sudah hampir ambruk serta lantai masih beralas semen tanpa keramik.

“Saya terpaksa mengungsi karena kalau tinggal disini terus bisa berbahaya, anak saya kalau tidur bisa saja tertimpa atap. Setiap malam saja banyak berjatuhan kotoran dari atas, masuk ke mata anak saya," kata Heni Sumartini, istri Jaya.

Heni mengaku sudah mengajukan agar kediamannya bisa segera diperbaiki. Namun, bertahun-tahun menunggu tak ada tindak lanjut dari pihak terkait.

"Saya sudah lama mengajukan bantuan lewat ketua RW. Sudah puluhan kali difoto dan didatangi orang, katanya untuk persyaratan direnovasi, tapi sampai sekarang tidak ada," ungkapnya.

Menolak difoto



Karena menunggu tanpa kepastian, mereka terpaksa menolak kalau ada orang yang ingin memotret atau mengambil gambar rumah tersebut. Belum lagi, sebagian tetangga yang rumahnya masih bagus, tapi lebih dulu mendapatkan bantuan renovasi.

"Surat-surat tanahnya lengkap, cuma sertifikatnya masih bentuk blanko karena belum didaftarkan jadi sertifikat. Apalagi rumah lain yang sudah dikeramik, dan hanya rusak di depannya saja, itu sudah dapat bantuan. Tapi rumah saya yang hampir ambruk belum dapat bantuan," tuturnya.

 

Menurut Adang, dengan penghasilannya dan Jaya sebagai kuli serabutan, tak mencukupi biaya jika harus memperbaiki rumah sendiri. "Ini bisa diperbaiki dengan papan grc juga nabung, ada rezeki lebih langsung dibelikan material. Kalau tidak ya rumah saya lebih cepat ambruk, bisa-bisa saya sekeluarga mengungsi," ungkapnya.

Legalitas tanah



Ketua RW 19, Rudi, mengklaim sudah sejak 3 tahun yang lalu mengajukan renovasi untuk kediaman keluarga besar Adang, namun ia juga tidak tahu kenapa belum ada realisasinya daru pihak terkait.

Menurut Rudi, salah satu faktor yang mungkin menyebabkan terkendalanya pelaksanaan renovasi rumah keluarga Adang dan Jaya, yakni masalah legalitas surat tanah yang belum selesai.

"Jadi tanah itu tukar guling, dengan Pak Suparman. Tapi surat menyuratnya belum diurus, nama pemiliknya masih Suparman, mungkin itu yang mengganjal. Kalau diurus dulu ke BPN, mungkin bisa cepat selesai. Karena saya selalu mengajukan ke pihak terkait," tuturnya.***

Bagikan: