Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 22.1 ° C

Situ Ciburuy Surut, Sampah Plastik Terlihat Berserakan

Cecep Wijaya Sari
SAMPAH tercecer di pinggir Situ Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa 14 Atustus 2018. Sejak kemarau, air di Situ Ciburuy surut hingga 2 meter.*

NGAMPRAH, (PR).- Permukaan air Situ Ciburuy di Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat mengalami penurunan hingga 2 meter sejak memasuki kemarau. Tak hanya berdampak terhadap berkurangnya pengairan ke areal pertanian warga, surutnya air juga membuat objek wisata unggulan daerah ini dicemari sampah plastik.

Sampah-sampah plastik tersebut tercecer di tepi Situ Ciburuy. Ironisnya, pemandangan ini ditemukan di dekat gerbang masuk. Pantauan Pikiran Rakyat, Selasa 14 Agustus 2018, kawasan tersebut pun sepi pengunjung.

Koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat Desa Ciburuy, Yadi Hendradi mengungkapkan, surutnya Situ Ciburuy hingga 2 meter membuat kawasan objek wisata ini tampak kumuh. "Sampah-sampah jadi berserakan di pinggir situ. Ini membuat pemandangan tidak enak juga," katanya.

Menurut dia, sampah tersebut sebagian berasal dari warga sekitar. Meski ada tempat pembuangan sampah sementara di setiap RW, kapasitasnya tidak mencukupi. Akibatnya, Situ Ciburuy jadi sasaran pembuangan sampah liar.

Yadi juga mengungkapkan, surutnya situ membuat pengairan ke areal pertanian warga berkurang. "Ada sawah dan kebun yang biasanya mendapatkan pengairan dari Situ Ciburuy. Sejak surut, ya jadi berkurang," tuturnya.

Selain kerap surut saat kemarau, masalah lain yang terjadi di Situ Ciburuy, yaitu terjadinya pendangkalan akibat sedimentasi. Catatan PR, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum pada tahun lalu melaporkan, Situ Ciburuy berstatus tanggap darurat.

Saat normalisasi dilakukan pada 2013, daya tampung air di Situ Ciburuy mencapai 2 juta meter kubik. Sekarang, tinggal tersisa 25 persennya akibat sedimentasi. Dengan kondisi ini, diperlukan langkah-langkah antisipatif untuk menghindari ancaman banjir seperti yang pernah terjadi di Situ Gintung, Ciputat pada 2009 lalu.

Meski demikian, menurut Yadi, penataan Situ Ciburuy sejauh ini tidak bisa optimal akibat sengketa lahan antara pemerintah kabupaten dan provinsi. Pengawasan yang minim juga membuat bangunan-bangunan baru menjamur di pinggir situ.

Kumuh terluas



Kondisi itu membuat kawasan di Desa Ciburuy menjadi salah satu daerah dengan luas kumuh terbanyak di Bandung Barat, yakni mencapai 25 hektare. Selama 2 tahun terakhir, luas kawasan kumuh ini tak banyak mengalami penurunan.

"Seharusnya, ada ketegasan dari pemerintah soal kepemilikan Situ Ciburuy, sehingga penataan bisa dilakukan dengan optimal. Namun sejauh ini, belum ada perkembangan soal itu," katanya.

Sementara itu, tercemarnya areal Situ Ciburuy oleh sampah ini sering kali dikeluhkan para pengunjung. Menurut Hendrik (30), pengunjung asal Kota Bandung, areal Situ Ciburuy seharusnya bebas dari sampah dan memiliki fasilitas-fasilitas yang bisa menghibur pengunjung.

"Pengunjung datang ke sini kan untuk menikmati pemandangan. Kalau baru masuk saja sudah banyak sampah, apa yang bisa dinikmati," tuturnya.

Padahal, lanjut dia, Situ Ciburuy sudah dipopulerkan melalui lagu Sunda yang tersohor, terutama di wilayah Jawa Barat. Namun kondisi di lapangan tak seindah lirik dalam lagu tersebut.***

Bagikan: