Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 28.7 ° C

Tuntutan Hukuman Pembunuh Ustaz Prawoto Dinilai Terlalu Ringan, Keluarga Besar Persis Unjuk Rasa

Yedi Supriadi

BANDUNG, (PR).- Ratusan massa yang tergabung dalam keluarga besar Persis menuntut majelis hakim memberikan hukuman yang seberat-beratnya terhadap Asep Maftuh, terdakwa kasus terbunuhnya Ustaz Prawoto. Masa pun akan melakukan eksaminasi terhadap jaksa penuntut umum yang menuntut rendah terhadap pelaku pembunuhan.

Aksi yang dilakukan keluarga besar Persis berlangsung  di depan halaman PN Kelas 1A Khusus Bandung, Jalan RE Martadinata, Kamis 9 Agustus 2018. Selain berorasi mereka juga membentangkan spanduk bertuliskan "Mendorong Majelis Hakim Agar Bertindak Adil dan Tegas". Jika majelis tidak menghukum terdakwa dengan hukuman berat, massa pun mengancam akan melakukan aksi besar-besaran di Pengadilan Negeri Bandung. 

Asep Maftuh didakwa pasal 340 dan 351 ayat 1 KUHPidana. Namun, dalam tuntutanya JPU menjerat terdakwa dengan pasal 351, dan menuntutnya hukuman 6,5 tahun penjara.  Karena dituntut ringan, kami keluarga besar Persis meminta Jaksa Agung HM Prasetyo agar melakukan eksaminasi (memeriksa) terhadap jaksa yang menangani kasus penganiayaan yang menewaskan Komandan Brigade Persis Ustaz Prawoto.

"Jadi satu yang harus kita perhatikan. Ini isu kasus nasional. Jaksa Agung (HM Prasetyo) jangan ngirim jaksa ecek-ecek," kata Ustaz Tatan Ahmad Santana usai melakukan orasi. 

Tatan pun mengingatkan pada aksi 24 Februari 2018, sekitar 40.000 massa Persis mendatangi Jakarta. Bahkan, saat itu Kapolri Jenderal Tito Karnavian memastikan akan menegakan hukum dan keadilan.

Sebagai orang awam, Tatan mengaku  jaksa sangat tidak cermat dalam memutuskan tuntutannya. Jaksa menerapkan pasal 351 KUHPidana, yakni penganiayaan yang menyebabkan orang lain meninggal. Padahal konflik terdakwa dengan korban sudah lama.

Tatan pun menyayangkan jaksa tidak mengambil konstruksi lain. Terdakwa sebelumnya melempari rumah korban, kemudian pegang barang. Kenapa tidak memberikan hukuman berat sesuai pasal 340 KUHPidana tentang pembunuhan berencana. Pihaknya sepakat tidak interpensi pengadilan, hanya ingin memastikan tegakan hukum seadil-adilnya.

"Kami minta Jaksa Agung melakukan eksaminasi terhadap kasus ini. Kok jaksanya seperti ini," ujarnya.

Persis desak ultrapelita



Atas nama keluarga besar Persis, Tatan pun meminta agar majelis hakim berkehendak dan mampu mengambil sikap ultrapetita (mengambil keputusan lebih tinggi) atas tuntutan jaksa. Karena jika kasus yang menyorot perhatikan secara nasional, dan disepelekan seperti ini dikhawatirkan banyak pembunuhan terjadi karena hukumannya ringan. 

Sementara itu, putra pertama almarhum Ustaz Prawoto, Nazwan Fauzi (23) sempat berorasi sambil menyucurkan air mata di sela unjuk rasa. "Saya tidak rela dengan tuntutan yang disam‎paikan jaksa terhadap pembunuh Ayah. Saya minta pada hakim untuk menjatuhkan hukuman seumur hidup atau sampai pidana mati. Terima kasih pada teman-teman yang sudah datang," ujar Nazwan kemudi‎an disambut pekikan takbir.

Saat bersamaan, digelar sidang pembacaan replik atau tanggapan jaksa atas pembelaan terdakwa Asep Maftuh. Dalam sidang yang digelar di Ruang 1 Pengadilan Negeri Bandung, dipimpin hakim Wasdi Permana, Jaksa Penuntut Umum Edi hanya membacakan replik. Intinya replik tersebut sama dengan tuntutan yakni dinyatakan bersalah dan dihukum selama 6,5 tahun penjara.

Usai sidang Penasehat hukum terdakwa Asep Maftuh meyakini kliennya bakal divonis bebas. Hal itu sudah disampaikan pada sidang dengan agenda pembelaan terdakwa yang disampaikan pada sidang pekan lalu. Tim penasehat hukum berpendapat bahwa jaksa penuntut umum salah menerapkan pasal dalam dakwaan dan tuntutan.

‎Pada dakwaanya, jaksa menerapkan dakwaan primer yakni Pasal 340 KUH Pidana tentang pembunuhan berencana dan dakwaan subsidair Pasal 351 ayat 3 KUH Pidana tentang penganiayaan mengakibatkan tewasnya seseorang. Pada tuntutan yang dibacakan dua pekan lalu, jaksa tidak menerapkan dakwaan primer karena kemungkinan unsur-unsurnya tidak terbukti.

Sehingga, jaksa menerapkan pasal 351 ayat 3 dengan tuntutan pidana 6,5 tahun penjara.  ‎"Pembelaan pertama menurut kami, jaksa salah menerapkan pasal, kedua menyatakan klien kami tidak bersalah atas kematian korban," ujar Gun-gun.***

Bagikan: