Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.6 ° C

Telur Ayam Terlampau Mahal, Telur Pecah Jadi Incaran

Ririn Nur Febriani

CIMAHI, (PR).- Kenaikan harga daging ayam dan telur ayam membuat pedagang di pasar tradisional Kota Cimahi resah. Buntut dari kenaikan harga tersebut membuat daya beli masyarakat menurun drastis. Pedagang dan pembeli berharap pemerintah segera turun tangan.

Harga daging ayam di pasar tradisional berkisar Rp 42.000 per kilogram. Sementara untuk daging ayam TG, harga ecerannya hingga Rp 50.000 per kilogram. "Jelas mempengaruhi penjualan, drop sampai 60% ada. Biasa stok habis 2 sampai 2,5 kuintal per hari, sekarang hanya 1 kuintal harus jualan seharian," ujar pedagang di Pasar Atas, Enung (39), di Jalan Kolonel Masturi, Kota Cimahi, Rabu 18 Juli 2018.

Enung mengaku resah akan kondisi saat ini. "Terus terang sejak lebaran harga enggak stabil. Dikira karena pengaruh pasokan terhambat karena masa liburan, ternyata bukan itu. Apa ini ada permainan?" ungkapnya.

Dia berharap pemerintah segera turun tangan. "Tolong segera diperhatikan kenapa bisa harga daging ayam enggak turun-turun malah naik terus. Jangan sampai kita kesulitan semua," katanya.

Telur pecah



Hal serupa terjadi pada penjualan telur ayam. Harga telur yang mencapai Rp 30.000 per kilogram, memaksa masyarakat beralih memburu telur ayam dalam kondisi pecah. Harga telur ayam yang sudah pecah dibanderol Rp 1.000-Rp 1.250 perbutir. 

Seorang pedagang telur ayam di Pasar Atas, Farid Supriyadi (39) mengungkapkan, seminggu belakangan banyak pemilik warung makan dan ibu rumah tangga yang membeli telur ayam pecah darinya.

"Ini memang karena harga telur ayam yang naik drastis, akhirnya pembeli pilih telur ayam pecah. Kebanyakan yang beli itu pemilik warung makan, dari subuh mereka sudah datang ke pasar," ujarnya.

Menurut Farid, kualitas telur ayam pecah sama seperti telur ayam utuh, hanya yang membedakan adalah keutuhan cangkang telur yang pecah. Pecahnya cangkang terjadi ketika dalam perjalan pengiriman atau ketika diturunkan dari mobil pengangkut.

"Kualitasnya tetap bagus, cuma ada yang cangkangnya pecah atau retak. Kalau yang pecah itu harganya lebih murah. Tapi sekarang lebih banyak yang beli telur pecah," katanya.

Hal senada diungkapkan oleh Ajo Ramadan. Semenjak harga jual telur ayam meroket, ia kebanjiran peminat telur ayam yang sudah pecah ketimbang telur dalam kondisi utuh.

"Kalau biasanya yang telur ayam pecah itu paling pedagang makanan atau jajanan, sekarang justru lebih banyak ibu rumah tangga. Soalnya mereka bisa lebih ngirit kalau beli telur ayam pecah," kata Ajo.

Pascakenaikan harga jual telur ayam, Ajo menyebut bahwa terjadi penurunan penjualan telur utuh. Saat ini Ajo hanya bisa menjual 900 butir telur ayam. "Biasanya saya bisa menjual 60 ikat atau sekitar 1800 butir telur ayam. Sekarang menjual 30 ikat saja sudah mati-matian, karena memang harganya sangat melonjak," bebernya.

Alur distribusi



Menanggapi kenaikan harga daging dan telur ayam di pasar tradisional Kota Cimahi, Kepala Seksi Perdagangan pada Dinas Perdagangan Koperasi UMKM dan Perindustrian (Disdagkoperind), Agus Irwan, mengungkapkan kenaikan harga komoditas di sejumlah pasar tradisional di Kota Cimahi dipengaruhi oleh aliran distribusi dan kenaikan harga jual dari peternak.

"Kalau di Kota Cimahi ini mengikuti kenaikan harga di daerah lain, apalagi Kota Bandung. Kami tanya pedagang, juga karena stoknya berkurang, dan harga dari peternak juga naik. Ada juga pengaruhnya dari kenaikan BBM kemarin," ujarnya.

Masih kata Agus, pihaknya akan melakukan pengecekan ke gudang telur sekaligus distributor utama yang ada di Leuwigajah, sebab pedagang di pasar hanya menjual telur skala kecil.

"Nanti akan kami cek juga ke gudang yang di Leuwigajah, bagaimana stoknya apakah mencukupi untuk di Kota Cimahi atau tidak. Pembeli juga beralih ke telur pecah karena harganya lebih murah," tandasnya.***

Bagikan: