Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 21.2 ° C

Sidang Penipuan Umrah PT SBL, Uang Calon Jemaah Dipakai Belanja Mobil Mewah

Yedi Supriadi

BANDUNG, (PR).- Ratusan miliar rupiah dana dari ribuan calon jemaah umrah digelapkan oleh Pemilik biro perjalanan umroh, PT Solusi Balad Lumampah (SBL). Yakni Aom Juang Wibowo Sastra Ningrat dan Eri Ramdhani (marketing). Keduanya didakwa memakai uang calon jemaah untuk belanja mobil mewah.

Akibat perbuatannya, mereka pun diancam dengan hukuman 20 tahun penjara. Demikian hal tersebut terungkap dalam sidang perdana di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jln. L. L. R. E Martadinata, Kota Bandung, Selasa 17 Juli 2018.

Sidang yang dipimpin hakim Judijanto itu beragendakan pembacaan surat dakwaan oleh jaksa penuntut umum dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jabar. Dakwaan penipuan umrah terhadap kedua terdakwa dibacakan secara terpisah. 

Dalam surat dakwaannya, jaksa menilai perbuatan kedua terdakwa melanggar pasal berlapis yaitu pasal 372, pasal 378 KUHpidana tentang penipuan dan penggelapan. Selain itu, terdakwa juga dikenakan pasal 3 UU RI No 8 tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang (TPPU).

Jaksa penuntut umum menjelaskan, terdakwa Aom dan Eri telah melakukan tindak pidana penipuan dengan cara menawarkan paket umrah yang menggiurkan. Yaitu melalui sistem multi level marketing, tabungan dan down payment (DP) murah. 

"Terdakwa membuat program MLM,  dan seolah memberikan kemudahan kepada jemaah umrah dengan sistem tabungan," kata jaksa Alwie. 

Bekerja sama lancarkan aksi penipuan



Untuk melancarkan aksinya, lanjut jaksa, terdakwa Aom dan Eri kembali merancang berbagai program untuk memikat calon jemaah umrah. Mereka pun kemudian membentuk kordinator-kordinator dan agen di seluruh Indonesia. Total calon jemaah umrah yang mendaftar lewat PT SBL mencapai lebih dari 30 ribu orang. 

"Sampai pada akhirnya, ada sebanyak 12.845 jemaah yang gagal berangkat umrah dan merasa dirugikan," ujar jaksa. 

Terdakwa Aom dan Eri kemudian menggelapkan dana yang sudah disetor oleh para calon jemaah umrah. Dari 12.845 korban yang tidak diberangkatkan, uang calon jemaah umrah yang masuk mencapai Rp 231.210.000.000.

Jaksa juga merinci, uang yang diperoleh itu oleh kedua terdakwa disalahgunakan. Terdakwa Aom memberikan bonus kepada terdakwa Eri. Di antaranya bonus uang tunai, sejumlah kendaraan roda empat, serta dibelikan vila senilai Rp 10 miliar. Selain itu, uang juga diberikan kepada istri terdakwa Aom untuk gaji per bulan sebesar Rp 75 juta. 

Selain itu, jaksa juga mengungkapkan uang digunakan Aom untuk membayar bonus kepada staf-stafnya. Ia juga membelanjakan uang jemaah untuk membeli tanah kosong, membeli sejumlah mobil mewah dan membangun kantor SBL. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai bulan Desember 2017, terjadi defisit keuangan sebesar Rp 50 miliar.

Kasus ini bermula saat Kementerian Agama menegur PT SBL karena menunda pemberangkatan umrah yang seharusnya pada Desember 2017 dan Januari 2018 menjadi Februari, Maret, April, dan Mei 2018. Polda Jabar kemudian menerima pengaduan dari sejumlah calon jemaah yang sudah mendaftar namun tidak kunjung diberangkatkan.***

Bagikan: