Pikiran Rakyat
USD Jual 14.538,00 Beli 14.440,00 | Cerah berawan, 24.4 ° C

Pilgub Jabar 2018 Akhiri Tren Kesuksesan Politik Citra

WARGA memasukan surat suara seusai melakukan pencoblosan di TPS 02, Jalan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Rabu, 27 Juni 2018. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)  2018 serentak menjadi bagian dari pesta demokrasi warga dalam rangka memilih Gubernur-wakil Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung.*
WARGA memasukan surat suara seusai melakukan pencoblosan di TPS 02, Jalan Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Rabu, 27 Juni 2018. Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 2018 serentak menjadi bagian dari pesta demokrasi warga dalam rangka memilih Gubernur-wakil Gubernur Jawa Barat dan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung.*

BANDUNG, (PR).- Ketua DPD Partai Golkar Jawa Barat Dedi Mulyadi berpendapat bahwa Pilgub Jabar 2018 telah mengakhiri tren kesuksesan politik citra. Istilah terakhir mendominasi berbagai kontestasi politik selama satu dekade ini di Indonesia. 

Menurut dia, politik citra kini telah berubah menjadi politik gerilya teritorial. Yakni, sebuah upaya politik untuk menjaring berbagai segmen pemilih melalui jaringan darat yang mengakar. 

Hal tersebut disampaikan oleh mantan Bupati Purwakarta itu di Kantor DPD Partai Golkar Jawa Barat, Jalan Maskumambang, Kota Bandung, Jumat, 29 Juni 2018.

“Di Pilgub Jabar ini, survei banyak yang meleset. Analisis pakar banyak yang meleset. Artinya, ada perubahan fenomena, politik citra berubah menjadi politik gerilya teritorial. Ini harus diwaspadai Partai Golkar di Pilpres 2019, termasuk partai lain pengusung Pak Jokowi,” katanya.

Posisi Jawa Barat, menurut kader Nahdlatul Ulama itu, sangat strategis di panggung politik nasional. Mengingat, di provinsi ini terdapat 31 Juta pemilih yang tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). 

Jumlah pemilih sebesar ini tentu saja menjadi incaran para calon presiden di Tahun 2019. Semua calon presiden dipastikan ingin menjadikan Jawa Barat sebagai basis pemilihnya demi insentif elektoral. 

Adapun Dedi Mulyadi bertarung di Pilgub Jabar bersama pasangannya Deddy Mizwar. Pasangan nomor urut 4 tersebut hanya mampu menempati posisi ketiga dengan raihan 25,8% suara. 

Hasil tersebut jauh dari prediksi berbagai lembaga survei dalam rilisnya karena tersalip pasangan Sudrajat-Syaikhu di angka 28,37%. Sementara pasangan Hasanah berada di angka 12,66%. Pasangan Rindu keluar sebagai pemenangan dengan persentase suara sebesar 33,12%. 

Pada survei sebelum hari pencoblosan, pasangan Rindu diprediksi akan bersaing ketat dengan pasangan Duo DM. Akan tetapi, prediksi tersebut jauh panggang dari api. Pasangan Sudrajat-Syaikhu menyalip perolehan suara Duo DM. 

“Anda bayangkan, mohon maaf, elektabilitas di awal rendah, lalu naik ke 10%. Kemudian, loncat ke 15% sampai akhirnya 28% saat pemilihan,” kata Dedi. 

Dia memberikan tafsir atas fenomena tersebut. Menurut dia, terdapat gelombang peralihan pilihan politik seminggu jelang pemilihan berlangsung Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat.

“Artinya, ada pergerakan besar dengan strategi yang ampuh, menyasar teritorial dengan cara bergerilya. Sehingga, akibatnya mengubah konstelasi Pilgub Jabar,” katanya. 

Ceruk suara tergerus



Gelombang peralihan dukungan itulah yang mengakibatkan ceruk suara Duo DM tergerus sampai hari pencoblosan. Karakteristik pemilih Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi memang berbeda.

Dijelaskan Dedi, peraih banyak piala citra itu memiliki basis pemilih yang banyak beririsan dengan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Karena, Deddy Mizwar didukung oleh partai berbasis pemilih Islam itu saat berpasangan dengan Ahmad Heryawan di Pilgub 2013.

Awal isu Pilgub 2018 bergulir, PKS pernah mewacanakan untuk mendukung Deddy Mizwar dengan Ahmad Syaikhu. Sementara Dedi Mulyadi, memiliki basis pemilih tradisional yang kuat. Pemilih tersebut telah terpapar sosialisasi kemajuan Purwakarta. 

Ini dibuktikan dengan dominasi Dedi Mulyadi di Purwakarta, Subang dan Karawang. Selain itu, pinggiran Kabupaten dan Kota Bekasi pun menjadi basis pria yang lekat dengan iket Sunda makutawangsa itu. 

“Ada kutub pemilih yang berbeda antara saya dengan Pak Demiz. Pemilih Pak Demiz banyak beririsan dengan PKS. Juga terkait partai pengusung Pak Demiz, mungkin belum sejalan dengan konstelasi Pilpres 2019. Sehingga, basis elektoral ini yang mengalihkan dukungan,” katanya. 

Suar pengalihan dukungan tersebut menurut Dedi terjadi di Debat Publik II Pilgub Jabar di Depok Jawa Barat. Saat itu, Pasangan Sudrajat-Syaikhu memperlihatkan kaus bertuliskan #2019GantiPresiden.

Kondisi ini semakin diperparah dengan manuver Ketua Umum Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono. Dalam konferensi pers di Kota Bogor, SBY menyebut bahwa Pj Gubernur Jawa Barat M Iriawan menggeledah rumah dinas wakil gubernur. 

“Dalam posisi ini, kami paling dirugikan. Suara kami tergerus hingga 15%,” ucapnya. 

Di Pilpres 2019 mendatang, Partai Golkar tempat Dedi Mulyadi berkiprah, mengusung Joko Widodo. Perbedaan ceruk suara inilah yang mengakibatkan basis elektoral pasangan Duo DM tidak solid. 

Meski begitu, Dedi mengaku bahagia. Sebab, di tengah gelombang isu yang menyerang, basis tradisional miliknya tetap terjaga dengan baik. 

“Saya bahagia karena basis saya tidak hancur. Kalau dulu sebelum Pilgub Jabar suara saya 15%, sekarang ada di angka 25%,” tuturnya.***

Bagikan: