Pikiran Rakyat
USD Jual 14.031,00 Beli 14.129,00 | Sebagian berawan, 20.1 ° C

Debat Terakhir Pilgub Jabar Harus Fokus Membahas Program, Tb Hasanuddin Usulkan Tambahan Waktu

Tim Pikiran Rakyat

BANDUNG, (PR).- Memasuki debat kandidat putaran ketiga Pemilihan Gubernur Jawa Barat, masing-masing pasangan calon diharapkan tampil maksimal mengemas gagasan dan program yang akan diusungnya. Hal itu dikatakan pengamat politik dari Universitas Jenderal Ahmad Yani, Arlan Siddha mengomentari debat yang akan digelar Jumat 22 Juni 2018.

Menurut Arlan, para kandidat tidak perlu lagi mengulas apa yang sudah dilakukan calon lain dan fokus kepada apa yang akan dikerjaan di jawa barat ke depan. Hal ini dilakukan agar apa yang disampaikan bisa diterima dengan baik oleh masyarakat karena bagaimanapun, debat terakhir harus bisa menjadi klimaks dalam Pilgub Jabar.

“Bukan tidak mungkin, bisa saja masyarakat pemilih rasional berpindah haluan dalam memilih cagub. Jadi, intinya semua calon harus bisa mengeluarkan semua program terbaiknya dalam debat nanti meskipun waktu yang diberikan singkat,” kata Arlan, Selasa 20 Juni 2018.

Arlan berharap, semua pasangan calon bisa menjaga stabilitasi politik dengan tidak mencampuradukan pilgub dengan pilpres. Hal itu dia katakan mengomentari antiklimaks debat putaran kedua lalu yang ricuh.

“Secara konstusi, itu adalah hak berpendapat, hanya, kurang etis jika dilakukan ketika debat pilgub Jabar. Ini harus benar-benar pertarungan ide gagasan program, bukan pertarungan isu pilpres atau SARA,” kata dia.

Mengulas kembali dua debat sebelumnya, Arlan menilai ada peningkatan kualitas di setiap putarannya. Debat pertama dirasa monoton dan cenderung kurang menarik karena pasangan calon bermain aman dengan jawaban yang masih dalam konteks normatif. Belum lagi gagasan selama memimpin kabupaten/kota yang masih terasa.

“Sehingga, saya melihat cagub terjebak dalam nostalgia program di kabupaten/kota, padahal seharusnya sudah mulai berinovasi untuk Jabar. Ada juga yang menjelaskan program keseluruhan di Jabar, tapi masih terlalu normatif,” ucap dia.

Debat putaran kedua lebih menarik karena temanya sangat detail mulai dari lingkungan hidup, sumber daya alam, energi dan pangan, pertanian, kelautan dan kehutanan, serta pertambangan. Di debat kedua ini juga sudah mulai muncul saling serang antara pasangan calon meski cagub belum bisa menawarkan sesuatu yang baru ke depan nanti.

“Hasil debat kedua ini memang ada kenaikan signifikan pada partisipasi pemilih jika melihat survei pada putaran kedua. Sudah banyak masyarakat mulai menentukan sikap pilihan namun pemilih milenial banyak yang belum menentukan sikap. Artinya masih banyak kesempatan para calon untuk meraih suara milenial, karena mau bagaimanapun jumlah mereka besar,” kata dia.

Tambahan waktu



Calon gubernur Jawa Barat Tb Hasanuddin menyatakan, dia tak melakukan persiapan secara khusus menjelang debat publik ketiga Pilgub Jawa Barat yang akan digelar di Grand Ballroom Sudirman Convention Centre, Jalan Sudirman, Kota Bandung. Menurut Tb Hasanuddin, setiap tema yang disuguhkan merupakan masalah-masalah yang sudah biasa dihadapinya selama masa pengabdian baik di bidang militer, politik, maupun legislatif.

"Tidak ada persiapan secara khusus. Kerjakan seperti biasanya saja, begitu," kata Tb Hasanuddin di Kantor DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, Jalan Pelajar Pejuang 45, Kota Bandung, Rabu 20 Juni 2018.

Menurut dia, debat publik digelar untuk menyampaikan visi, misi, dan program masing-masing kandidat sebagai pedoman atau acuan pembangunan di masa mendatang.

Akan tetapi, kata Tb Hasanuddin, alokasi waktu yang disediakan oleh penyelenggara dianggap kurang mencukupi. Kandidat cenderung kesulitan untuk memaparkan materi secara sempurna lantaran waktu yang disediakan sangat terbatas.

"KPU mestinya memberikan penambahan waktu agar pemaparan visi, misi, dan program masing-masing pasangan calon bisa lengkap dan publik pun dapat memahaminya secara utuh. Kalau hanya semenit, baru prolog saja sudah habis," kata mantan pimpinan Komisi I DPR RI itu.

Dia menilai, debat publik merupakan bagian dari cara penyelenggara mengenalkan kandidat kepada masyarakat pemilih. Melalui debat publik, pendidikan politik tersampaikan. Oleh karena itu, dia berharap KPU bisa mempertimbangkan adanya penambahan waktu.

Apalagi pada debat publik putaran ketiga, tema yang diangkat berkaitan tentang kebijakan dan hak-hak publik yang harus dijamin pemerintahan daerah. Di dalamnya tercakup mengenai persoalan perempuan, disabilitas, anak, kepemudaan, sosial budaya, dan ideologi.

Dia berpendapat, setidaknya diperlukan penambahan waktu sekitar 5 hingga 10 menit. "Bagaimana disuruh menjelaskan untuk keperluan masyarakat Jawa Barat yang sangat prinsipil dan strategis dalam waktu satu menit. Paling tidak, grand design itu 5 menit atau 10 menit," katanya.***

Bagikan: