Pikiran Rakyat
USD Jual 14.616,00 Beli 14.316,00 | Cerah berawan, 26.4 ° C

Moeldoko Tampung Keluhan Petani Kopi Gunung Puntang

Ecep Sukirman
Peracik Kopi Iklbal Ramdani (32) memperhatikan biji kopi pada proses sangrai (Roasting) untuk menciptakan rasa kopi yang sesuai di kedai kopinya di Kamasan - Banjaran, Kabupaten Bandung, Selasa 29 Mei 2018.
Peracik Kopi Iklbal Ramdani (32) memperhatikan biji kopi pada proses sangrai (Roasting) untuk menciptakan rasa kopi yang sesuai di kedai kopinya di Kamasan - Banjaran, Kabupaten Bandung, Selasa 29 Mei 2018.

SOREANG, (PR).- Kepala Staf Kepresidenan RI yang juga menjabat Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia, Moeldoko menyempatkan untuk memanen biji kopi Gunung Puntang yang saat ini sudah diakui dunia, Selasa 29 Mei 2018.

Moeldoko berharap, selaku Kepala Staf Kepresidenan pihaknya ingin melihat redistrbusi lahan. Pasalnya, dalam salah satu program pemerintah dalam reforma agraria di antaranya tentang distribusi aset dan hutan sosial.

Namun, setelah dirinya berbincang dengan petani kopi di Gunung Puntang ini, saat ini di wilayah tersebut belum terjadi distribusi aset melainkan di wilayah tersebut masih menggunakan pendekatan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

"Selain itu, saya selaku Keta HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) ingin melihat kopi Gunung Puntang yang saat ini sudah menyandang predikat kopi terbaik di Asia-Amerika dengan poin mencapai 86,2. Ini sebuah poin yang tinggi dan saya bangga. Ini potensi yang harus dikembangkan," ungkap Moeldoko di sela-sela panen kopi di Gunung Puntang Kecamatan Cimaung Kabupaten Bandung, Selasa 29 Mei 2018.

Ada kelemahan



Akan tetapi, lanjut Moeldoko, di balik prestasinya itu masih ada kelemahannya yakni masih terbatasnya jumlah produksi biji kopi dalam satu pohon. Saat ini, produksi kopi Gunung Puntang baru mencapai berat 2 kilogram.

Moeldoko pun mengharapkan kekurangan ini mampu diperbaiki dengan meningkatkan kuantitas produksi setiap pohon kopi selain menjaga nilai kualitas kopi Gunung Puntang. Dengan demikian, hal itu akan membawa keuntungan bagi para petani kopi.

"Saya menginginkannya satu pohon kopi ini bisa mencapai lima kilogram. Kemudian, saya juga mengimbau petani untuk menggunakan pupuk organik. Jika menggunakan pupuk non-organik, dikhawatirkan jika hujan maka limbah pupuk akan terbawa ke hilir dan teracuni kimiawi," tutur Moeldoko seraya menambahkan hal lainnya yang perlu diperhatikan yakni pengembangan teknologi pengelolaan produksi.

Sementara itu, salah seorang petani kopi Ayi (55) yang mulai menggarap lahan sejak 2012 lalu mengatakan, selama ini kontribusi dari pemerintah daerah untuk penggarap di wilayah kehutanan ini jarang terperhatikan dalam hal bantuan, baik bibit maupun pupuk.

"Di sini para petani rata-rata memiliki hingga 500 pohon kopi. Diharapkan, dengan kedatangan Ketua HKTI yang juga sekaligus sebagai Kepala Staf Kepresidenan ke depannya mampu memberikan solusi permasalahan yang dihadapi petani di antaranya ketersediaan pupuk dan  infrastuktur jalan. Bantuan dari pemerintah belum ada, alasannya karena kami menggarap di lahan kehutanan," kata Ayi seraya menambahkan dirinya mengharapkan ke depannya tidak ada lagi pembedaan penggarap lahan untuk petani kopi oleh pemerintah daerah yang saat ini kopi Gunung Puntang sudah menyandang predikat kopi terbaik.***

Bagikan: