Pikiran Rakyat
USD Jual 14.044,00 Beli 14.142,00 | Cerah berawan, 19.2 ° C

Budi Brahmantyo, Geotrek dan Afeksi untuk Cekungan Bandung

Tri Joko Her Riadi

BUDI Brahmantyo, pakar ilmu bumi Institut Teknologi Bandung meninggal dalam kecelakaan lalu lintas di Tol Purbaleunyi, Sabtu 28 April 2018 siang.  Lebih dari sekadar pengajar dan ilmuwan, Budi Brahmantyo dikenal aktif membangun kesadaran masyarakat tentang kebumian lewat aktivitasnya di berbagai organisasi dan komunitas.

Bersama para pakar ilmu bumi lain, Budi Brahmantyo aktif dalam Kelompok Riset Cekungan Bandung atau KRCB. Mereka, lewat diskusi dan kajian, secara konsisten menyuarakan pentingnya cekungan Bandung sebagai kawasan yang khas yang pengelolaannya mesti lepas dari batas-batas wilayah administratif.

Bersama T Bachtiar, Budi Brahmantyo dikenal sebagai duet yang mempopulerkan wisata bumi geotrek sejak 12 tahun lalu. 

Wisata jalan-jalan itu mengajak para peserta menikmati sekaligus memahami situs-situs kebumian. Beda dengan wisata yang hanya menonjolkan keindahan, geotrek dibuat sebagai kegiatan yang menambah pengetahuan dan kesadaran melestarikan lingkungan.

“Saya sangat terpukul (mendengar kabar itu). Dari Pulau Sangeang, saya dan semua peserta geotrek mengirimkan doa bagi Pak Budi. Beliau pribadi luar biasa yang memberikan teladan dalam banyak hal,” tutur T Bachtiar yang sedang memandu peserta geotrek di Pulau Sangeang di Selat Sunda.

Duet solid



T Bachtiar berkenalan dengan Budi Brahmantyo dalam pertemuan yang tidak direncanakan di Goa Pawon, 16 tahun lalu. Saat itu, T Bachtiar sedang memandu para guru Kota Cimahi sedangkan Budi Brahmantyo melakukan survei lapangan sebelum memandu rombongan salah satu Sekolah Dasar di Bandung. 

Setelah pertemuan itu, T Bachtiar, yang aktif mengirimkan tulisan populer isu kebumian ke Pikiran Rakyat, diajak bergabung dalam KRCB. 

Persahabatan Budi Brahmantyo dan T Bachtiar banyak terbentuk lewat kegiatan di lapangan dan kerja penulisan buku. 

Dari Goa Pawon, Budi Brahmantyo dan T Bachtiar memulai petualangan baru dalam pengembangan geowisata di kawasan Cekungan Bandung. Bersama anggota KRCB yang lain, mereka menyusun peta jalur-jalur geowisata itu. Inilah awal mula lahirnya komunitas Geotrek yang hari ini semakin membesar.

Amanat Kawasan Bandung Utara



Di mata T Bachtiar, Budi Brahmantyo merupakan seorang sahabat sekaligus guru yang rendah hati. Ia juga memuji banyaknya talenta yang dimiliki Budi Brahmantyo, mulai dari disiplin keilmuan, melukis sketsa, hingga membaca karya-karya sastra.

Pertemuan terakhir kedua sahabat ini terjadi pada Selasa 24 April 2018 lalu di rumah ahli batu mulia Sujatmiko. Menurut T Bachtiar, Budi Brahmantyo ketika itu membuat permintaan khusus pada para sahabatnya. Ia tidak ingin membahas tentang program atau proyek. Ia ingin membicarakan hal-hal yang santai.

Pikiran Rakyat terakhir kali melakukan wawancara panjang dengan Budi Brahmantyo pada 11 Februari 2018 lalu. Ketika itu, ia membagikan pendapatnya tentang pentingnya pelestarian kawasan Bandung Utara. Ia mengingatkan bahaya banjir bandang yang sewaktu-waktu mengancam 2,5 juta penduduk Kota Bandung. 

“Tentang KBU, kita mestinya tidak hanya bicara tentang fungsi resapannya. Yang harus diwaspadai juga adalah potensi air permukaannya. Selama alih fungsi di KBU tidak terkendali, banjir bandang bisa terjadi kapan-kapan,” tuturnya.

Sebulan setelah wawancara itu, warga Bandung dikejutkan dengan banjir bandang di Cicaheum. Kejadian itu mengingatkan betapa rentan Kota Bandung dan betapa penting upaya pelestarian lingkungan Cekungan Bandung. 

Budi Brahmantyo juga membicarakan kegiatannya terkini. Bersama para pakar geologi lain, ia sedang menyusun buku panduan geowisata. Ia juga membagikan mimpi untuk secepatnya menerbitkan buku kumpulan sketsa bertemakan Cekungan Bandung.

Ucapan duka cita atas kepergian Budi Brahmantyo mengalir di mana-mana baik lewat media sosial maupun percakapan di grup berbagai komunitas. Dalam siaran persnyna, Direktur Humas dan Alumni ITB Samitha Dewi Djajanti menyampaikan duka cita dari segenap keluarga besar ITB seraya menyebut Budi Brahmantyo sebagai “salah seorang pakar geologi terbaik di ITB”.***

Bagikan: