Pikiran Rakyat
USD Jual 14.280,00 Beli 14.182,00 | Umumnya cerah, 20.5 ° C

Sate Madrawi, Kisah Hidangan Lezat Konferensi Asia Afrika 1955

Generasi kedua pemilik rumah makan Madrawi, Fadli Badjuri. Rumah makan Madrawi merupakan yang pertama di Bandung menyajikan menu mewah pada jaman dulu. Sate Khas rumah makan Madrawi juga dihidangkan pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 18-24 April 1955 silam.*
Generasi kedua pemilik rumah makan Madrawi, Fadli Badjuri. Rumah makan Madrawi merupakan yang pertama di Bandung menyajikan menu mewah pada jaman dulu. Sate Khas rumah makan Madrawi juga dihidangkan pada penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 18-24 April 1955 silam.*

SAAT penyelenggaraan Konferensi Asia-Afrika 18-24 April 1955 silam di Kota Bandung, panitia menyajikan beragam kuliner untuk para pesertannya. Salah satunya, sate dan gule yang menjadi sajian utama untuk para tamu negara. 

Di balik lezatnya sate dan gule tersebut ialah rumah makan Madrawi. Rumah makan pertama di Bandung yang menyajikan menu mewah pada jaman dulu. Pemilik pertama rumah makan Madrawi ialah Badjuri dan Madrawi. 

Presiden Republik Indonesia pertama Soekarno, begitu menggemari masakan di rumah makan Madrawi seperti sate, soto, gulai dan rawon. Sejak menuntut ilmu di Technische Hoogeschool yang kini bernama Institut Teknologi Bandung (ITB), Soekarno sangat menggemari makanan yang disediakan oleh adik-kakak asal Madura tersebut.

Hingga akhirnya Soekarno meminta rumah makan Madrawi untuk menyediakan santap siang para tamu KAA 1955.

Saat ini, generasi kedua pemilik rumah makan Madrawi ialah Fadli Badjuri yang merupakan anak dari Badjuri dan keponakan dari Madrawi. Pria kelahiran Madura,13 Maret 1907 tersebut meneruskan usaha sang ayah yang terletak jalan dalam kaum, Kota Bandung.

Selain itu, Fadli Badjuri memamerkan beberapa foto dirinya BERSAMA RM. Madrawi, Presiden Soekarno dan piagam yang ia terima dari negara. Khususnya beberapa sertifikat dari museum Konferensi Asia-Afrika yang memberikan penghargaan kepada beliau atas dedikasinya memberikan hidangan makanan kepada tamu dari negara-negara di Asia-Afrika.

“Ini beberapa foto kenangan saya dulu. Ada juga sertifikat yang saya dapatkan dari museum Asia-Afrika. Ini kebanggaan saya bisa memberikan pengabdian kepada negara melalui cita rasa makanan yang dinikmati para tamu KAA,” tuturnya sambil berkaca-kaca.

Sampai saat ini, ia sering di undang menjadi tamu kehormatan saat peringatan Konferensi Asia-Afrika di Kota Bandung. Setiap memasuki upacara peringatan,  ingatannya selalu muncul tentang indahnya peringatan Konferensi Asia-Afrika pada 1955.

“Saya masih suka diundang oleh pihak museum kalau pas acara peringatan KAA. Saat acara, terkadang sedikitnya saya suka rindu dan mengingat kejadian KAA saat dulu,” ujar ayah 8 anak ini.

Rumah makan Madrawi sekarang tinggal kenangan. Rumah makan yang berlokasi di Jalan Dalam Kaum tersebut sekarang sudah beralih fungsi menjadi pos jaga Satuan Polisi Pamong Praja Kota Bandung.***

Bagikan: