Pikiran Rakyat
USD Jual 14.020,00 Beli 14.118,00 | Umumnya cerah, 27.9 ° C

Lio Genteng, dari Kampung Preman Hingga Sakola Ra’jat

Tri Joko Her Riadi

LIO Genteng telanjur terkenal sebagai ‘kampung preman’ yang dihuni pelaku kriminal, pemuda mabuk, dan anak-anak putus sekolah. Pendidikan lah yang perlahan-lahan mengubah wajahnya.

Tersembunyi puluhan meter di balik riuhnya pasar loak Astanaanyar, Lio Genteng secara administratif merupakan bagian dari RW 05 Kelurahan Nyengseret, Kota Bandung. Ada lebih dari 300 keluarga tinggal di rumah-rumah yang berdiri saling berimpitan.

Kepadatan Lio Genteng menyisakan kelak-kelok gang sempit. Sebuah selokan air, yang kotor oleh sampah, membelah kampung dengan baunya yang menyengat. Puluhan potong pakaian bergelantungan di kawat jemuran yang di tembok rumah.

Sebagian besar warga kampung masuk dalam golongan ekonomi menengah ke bawah. Mereka bertahan hidup dengan bekerja sebagai pedagang kaki lima (PKL), buruh, dan pekerja serabutan. Keterbatasan ekonomi ini juga yang menjadi salah satu penyebab gagalnya lebih dari 20 anak melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

“Saya senang belajar menari. Kalau besar nanti, saya ingin jadi penari,” kata Silma Maulida (10) penuh percaya diri.

Silma merupakan murid kelas kelas 3 SD Negeri 249 Astanaanyar. Kedua orangtuanya bekerja sebagai pedagang. Rabu 18 April 2018 pagi itu, bersama pulujan temannya, dia merayakan upacara peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) ke-63 di halaman aula RW.

Silma sejak satu tahun lalu juga menjadi salah satu anak didik Sakola Ra’jat (SR) Iboe Inggit Garnasih. Rumah belajar inilah yang memberi kesempatan pada Silma dan teman-teman sepermainannya di Lio Genteng untuk belajar menari sepulang dari sekolah. Rumah belajar ini juga yang menggelar upacara tidak biasa pagi itu.

Membentuk Karakter



Gatot mendirikan SR Iboe Inggit Garnasih bersama Sandi, warga asli Lio Genteng. Sejak awal kedua anak muda ini menjadikan SR sebagai rumah belajar bersama yang mementingkan pembentukan karakter anak lewat pengenalan sejarah dan seni-budaya. ‘Kurikulum’ disusun sedemikian rupa untuk mewadahi cita-cita seperti itu.

Di SR, anak-anak kampung Lio Genteng mengikuti kegiatan yang berbeda setiap harinya. Di suatu sore, mereka belajar bahasa Arab, bahasa Sunda, dan menulis ejaan lama. Sore berikutnya giliran keterampilan fotografi dan film. Keterampilan berolah raga, khususnya sepak bola, juga masuk dalam ‘kurikulum’ di setiap akhir pekan.  

Nama-nama ‘kelas’ di SR mengambil inspirasi dari tokoh-tokoh sejarah. Untuk kelas bahasa, misalnya, mereka meminjam nama Lesminingrat, salah satu tokoh pelopor kemajuan wanita Sunda. Untuk kelas seni budaya, dipakai nama Asmara Hadi. Menantu Sukarno dan Inggit ini merupakan sastrawan-wartawan yang aktif dalam pergerakan. Waulwi Saelan, nama mantan ajudan Sukarno, digunakan untuk kelas olah raga.

“Kami percaya, pengenalan sejarah dan seni budaya bakal membentuk karakter kita. Apalagi jika itu dimulai sejak dini,” ucap Gatot yang aktif berkegiatan di komunitas nirlaba Lokra (Kelompok Anak Rakyat).

Menghidupi SR selama satu tahun, Gatot dan Sandi menggandeng banyak pihak, terutama para anak muda yang datang sebagai relawan pengajar. Keduanya cukup bahagia jika kegiatan-kegiatan SR selama ini memberikan sumbangsih, sekecil apa pun, bagi masyarakat Lio Genteng.  

“Masih ada anak-anak yang nongkrong seharian di warnet, iya. Masih ada anak-anak putus sekolah, iya. Tapi semakin banyak anak-anak kami yang sekarang aktif mengikuti kegiatan-kegiatan positif di SR,” tutur Ketua RW 05 Kelurahan Nyengseret Sumiarsih.

Tercatat sekitar 60 anak terlibat aktif menjadi peserta didik di SR. Lucky Hidayat (11), salah satu di antaranya. Murid kelas 4 SD Negeri 249 Astanaanyar ini mengaku sangat senang mengikuti seluruh kegiatan di rumah belajar ini, mulai dari kelas bahasa hingga kunjungan-kunjungan ke museum.

Lucky saat ini tinggal bersama ibu dan dua saudaranya. Bapaknya telah tiada. Ada jalan yang panjang dan terjal menghampar di hadapan bocah lelaki yang senang belajar bahasa Arab ini, namun ia tak patah harapan.

“Saya ingin bisa sekolah tinggi,” kata Lucky. “Cita-cita saya menjadi dokter hewan.”***

Bagikan: