Pikiran Rakyat
USD Jual 14.619,00 Beli 14.521,00 | Berawan, 21.1 ° C

Total Korban Tewas karena Minuman Keras di Jabar 61 Orang

Deni Yudiawan
SENIMAN Cicalengka, Asep Chapline (29) menampilkan salah satu adegan pantomim di depan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Rabu, 11 April 2018. Aksi tersebut merupakan bentuk keresahan akan peristiwa minuman keras oplosan yang mengakibatkan 41 korban tewas di kawasan Cicalengka, Kabupaten Bandung.*

BANDUNG, (PR).- Kapolda Jawa Barat, Agung Budi Maryoto, mengatakan jumlah korban yang tewas akibat minuman keras oplosan di Jawa Barat hingga saat ini mencapai 61 orang. Jumlah korban tewas di Cicalengka tempo hari adalah yang terbanyak.

"Salah satu hal lain yang berkaitan dengan narkotika itu adalah 'miras' dan hingga saat ini korban meninggal dunia akibat 'miras oplosan' di Jawa Barat bertambah, menjadi 61 orang. Itu hampir dua peleton," kata Agung Budi Maryoto di Bandung, Minggu 15 April 2018, seperti dilansir Antara.

Agung ditemui usai menjadi pembicara pada gelar wicara kampanye bahaya narkoba yang diadakan oleh Citilink Indonesia-BNN. Kapolda Jabar mengatakan, jumlah korban tewas akibat minuman keras paling banyak ada di Cicalengka, Kabupaten Bandung.

"Jadi 61 orang itu di antaranya ada yang di Cicalengka saja 42 orang, di Polrestabes Bandung 7 orang, tambahan di Cianjur ada 2 orang, di Ciamis 1 orang, kemudian di Palabuhanrtatu ada 7 orang juga," katanya memaparkan.

Menurut dia, aparat kepolisian terus memburu para produsen dan penjual minuman keras oplosan karena dampak yang diakibatkannya sudah sangat mengkhawatirkan. "Kita terus kejar mereka, kita akan kembangkan terus nanti kalau sudah dapat tersangkanya, kita bisa kembangkan lagi. Kita lihat nanti," ujarnya.

Harga sabu lebih mahal dari emas



Pada kesempatan yang sama, Deputi Pengembangan Masyarakat Badan Narkotika Nasional (BNN), Dunan Ismail, mengatakan bahwa harga 1 gram narkoba jenis sabu jauh lebih mahal dibandingkan harga 1 gram emas. ia menyebut, harga sabu mencapai Rp 1,8 juta hingga Rp 2 juta per gram. Bandingkan dengan harga emas yang hanya Rp 400.000-600.000 per gramnya.

"Kenapa narkoba banyak masuk ke Indonesia, karena pangsa pasarnya besar," kata Dunan. Hasil penelitian yang dilakukan BNN dan UI, angka prevalensi pengguna narkoba pada tahun 2017 mencapai 1,77 persen atau 3,3 juta penduduk Indonesia menjadi penyalahguna narkoba.

Menurut dia, pemerintah selalu berkomitmen untuk bisa menahan menurunkan jumlah pengguna narkoba di Indonesia setiap tahunnya. Hingga saat ini, kata dia, ada 71 jenis narkoba baru yang masuk ke Indonesia sehingga diperlukan kerja sama dari semua pihak untuk memerangi bahaya barang haram tersebut.

Dia mengatakan, BNN akan terus menggandeng semua komponen masyarakat seperti pihak maskapai penerbangan di Indonesia untuk ikut bergerak bersama-sama memerangi bahaya narkoba. "Salah satu yang penting adalah seluruh sumber daya manusia di maskapai penerbangan itu, harus betul-betul bersih dari narkoba karena ini terkait faktor keselamatan juga," lanjut dia.***

Bagikan: