Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Hujan petir singkat, 21.4 ° C

Polisi Intimidasi Wartawan LPM Suaka di Balai Kota Bandung

Gita Pratiwi (error)

BANDUNG - Kekerasan polisi terhadap wartawan di Kota Bandung kembali terjadi. Kali ini menimpa salah seorang wartawan kampus LPM Suaka UIN Bandung, Muhammad Iqbal. 

Dalam rilis yang diterima PR, Iqbal sedang meliput aksi demontrasi penggusuran tanah Taman Sari di Balai Kota Bandung, Kamis 12 April 2018. Unjuk rasa tersebut berujung kericuhan antara polisi dan massa aksi.

Sekitar pukul 13.25, massa aksi terlibat adu pukul dengan aparat yang menjaga. Mereka lalu merapatkan barisan. Pukul 13.33, Dimas salah seorang massa aksi diseret oleh aparat, disusul oleh Ehang.

Melihat rekannya dipukuli, massa aksi lain, Eva mencoba melindungi kedua rekannya. Iqbal yang tengah meliput, melihat aksi kekerasan tersebut. Saat akan mengabadikan tindak kekerasan, Iqbal ditahan dan didorong oleh salah satu aparat.

"Siapa lo? Keluar sana!" kata salah seorang polisi sambil mendorong Iqbal, seperti ditirukan dalam rilis.

Meski mendapat perlakuan buruk, Iqbal tetap bertahan. Namun ia tetap dipaksa dan didorong untuk keluar gerbang Balai Kota Bandung. Saat itu Iqbal sudah mengaku sebagai wartawan sambil menunjukkan kartu pers.

"Saya sudah bilang dari pers, tapi tidak digubris dan diusir," ucap Iqbal.

Iqbal pun memilih keluar dari gerbang Balai Kota Bandung. Ia lalu mencari jalan lain agar bisa ke mobil Dalmas dan ingin mendokumentasikan perlakuan aparat kepada Dimas dan Ehang.

Rekan lainnya pun kena pukul



Iqbal lalu mendekati dan memotret mobil Dalmas yang di dalamnya terdapat Ehang dan Dimas. Menurut keterangan Dimas, sebelum masuk ke mobil Dalmas, ia sempat dipukul dan ditendang.

"Saya lalu memotret dari jauh. Hampir delapan jepretan. Setelah itu seorang polisi melihat saya. Polisi itu menarik dan meminta identitas saya," ucapnya sambil menyebut menunjukkan kartu pers kepada polisi tersebut 

Setelah kartu pers ditunjukkan, Iqbal malah ditarik ke dekat mobil Dalmas. Ia diinterogasi oleh beberapa polisi dan memaksa mengambil kamera milik Iqbal.

Iqbal menolak untuk memberikan kamera dan mengaku jika gambar yang diambilnya merupakan hak pers untuk mengetahui apa yang terjadi. Polisi menganggap Iqbal tak kooperatif. Ia lalu dimasukan ke dalam mobil dalmas.

"Saya terus ditekan dan memaksa foto yang saya ambil untuk dihapus. Polisi lalu menggeledah tas saya. Polisi yang menyebut dirinya intel bilang bahwa saya sudah melanggar etik," ujarnya.

Seorang anggota intel lainnya juga memaksa poto untuk dihapus. Intel itu menyebut penghapusan foto demi kebaikan Iqbal.

"Saya lalu menagih kartu pers yang dibawa salah seorang polisi. Tapi polisi itu memberi syarat, kartu pers balik tapi foto dihalus," ujarnya.

Iqbal menolak untuk menghapus foto. Namun karena terus ditekan, foto yang Iqbal ambil terpaksa dihapus. Saat foto dihapus pun, polisi terus memperhatikan foto-foto yang ada di kamera.***

Bagikan: