Pikiran Rakyat
USD Jual 13.896,00 Beli 13.994,00 | Sedikit awan, 19.5 ° C

Bandara Masih Jadi Tempat Penting Penyebaran Penyakit Menular

Muhammad Fikry Mauludy
PETUGAS Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Bandung memeriksa peralatan yang dipakai di salah satu tenan makanan, di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Senin 9 April 2018. Pemeriksaan yang dilakukan dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia itu, untuk memeriksa kesehatan pekerja dan makanan yang disajikan di lingkungan Bandara sehingga meminimalisir berbagai macam penyakit pada penumpang seperti TBC.*
PETUGAS Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Bandung memeriksa peralatan yang dipakai di salah satu tenan makanan, di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Senin 9 April 2018. Pemeriksaan yang dilakukan dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) Sedunia itu, untuk memeriksa kesehatan pekerja dan makanan yang disajikan di lingkungan Bandara sehingga meminimalisir berbagai macam penyakit pada penumpang seperti TBC.*

BANDUNG, (PR).- Sebagai gerbang masuk lalu lintas manusia dari berbagai negara, bandar udara masih menjadi lokasi penting dalam mencegah penyebaran penyakit menular. Dalam UU No. 1 Tahun 2009 tentang Penerbangan, kegiatan pencegahan penyebaran penyakit menular di bandara menjadi salah satu unsur keselamatan penerbangan.

“Jadi ini salah satu upaya meningkatkan keselamatan. Bagian dari bandara yang pada fungsinya gerbang internasional. Jadi memang harus benar-benar dicegah-tangkal. Penyakit masuk maupun keluar. Jika terdeteksi harus dikarantina, sampai benar-benar positif ataupun sudah sembuh,” kata Kepala Seksi Pengoperasian Bandar Udara Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah I Kelas Utama Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Marthinus Hutasoit, dalam Peringatan Hari TB Sedunia, di Bandara Husein Sastranegara Bandung, Senin 9 April 2018.

Ia mengatakan, pada prinsipnya regulasi pemerintah diatur untuk selalu melindungi masyarakat. Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) memiliki tugas dan fungsi pencegahan penyebaran penyakit di bandara. Sebagai regulator, kata dia, Kemenhub mempersilakan pengelola bandara untuk menyediakan fasilitas bagi KKP.

Di tempat yang sama, Kepala KKP Kelas II Bandung Ananto Prasetya Hadi mengatakan, dalam Peringatan Hari TB Sedunia KKP menyebarkan informasi kepada para penumpang pesawat tentang menangani TB untuk pelancong. Perhatian ditujukan pada data di Bandara Husein Sastranegara yang dalam setahun tedapat 1.3 juta orang lalu lalang.

Sejak beberapa minggu lalu, KKP melakukan pemeriksaan calon penumpang di area keberangkatan Bandara Husein Sastranegara. Yang dilihat yakni faktor resiko penumpang sakit atau ada faktor resiko TB.

Ada 1.100 penumpang yang ditanya saat proses check in sejak tanggal 4 sampai tanggal 6 April. Dari 1.100 tersebut, terdapat 7 orang yang menderita batuk lebih dari dua minggu.

“Karena diagnosa singkat TB dilihat dari batuk lama lebih dari dua minggu, apa demam kalau malam. Nanti dibuktikan lagi setelah pemeriksaan dahak, baru bisa dilihat apakah yang bersangkutan itu positif TB atau tidak,” katanya.

Pengidap TB boleh naik pesawat, asalkan...



Bagi penumpang pesawat yang sedang batuk dan belum tentu mengidap TB, mereka disarankan menggunakan masker. “Ke depan, KKP akan menyiapkan masker di setiap konter keberangkatan. Kalau nanti petugas check in melihat yang batuk-batuk, diberikan masker. Karena kalau dia mengakui punya TB dan belum diobati, lalu naik pesawat, dia akan kena sanksi tersendiri karena tidak boleh terbang berpenyakit yang menular,” katanya.

KKP mewaspadai penyakit yang dapat ditularkan langsung antarmanusia. Meskipun kasus MERS, Zika, atau SARS, sudah tidak ada tetapi mereka tetap waspada mengikuti perkembangan di belahan dunia lain.

“Contohnya kasus yellow fever di benua afrika tinggi. Tetapi yellow fever tidak ditularkan melalui batuk, tetapi nyamuk. Maka kita pastikan di bandara ini nyamuk yang menularkan itu nol. Arab Saudi endemis Meningitis, kita harus pastikan orang yang masuk ke sana dalam kondisi punya kekebalan. Salah satunya dengan vaksinasi. Bukan hanya penyakit. Dulu pernah ada kejadian reaktor nuklir bocor di Fukushima. Karena itu membahyaakan orang lain, kena radiasi, bepergian, itu radiasinya akan terbawa kemana-mana,” ujarnya. ***

Bagikan: