Pikiran Rakyat
USD Jual 14.598,00 Beli 14.500,00 | Umumnya berawan, 22.8 ° C

Suara Pemilih Pemula Menentukan Masa Depan Bangsa

Sarnapi
Para siswa sebagai pemilih pemula mengikuti sosialisasi pemilihan gubernur Jabar di aula Sukahati, Rabu 28 Maret 2018.*
Para siswa sebagai pemilih pemula mengikuti sosialisasi pemilihan gubernur Jabar di aula Sukahati, Rabu 28 Maret 2018.*

SOREANG,(PR).- Sebanyak 150 remaja sebagai pemilih pemula Pilgub Jabar 2018 mengikuti pendidikan politik di aula Sukahati Rancaekek, Rabu 28 Maret 2018. Para pemilih pemula yang rata-rata kelas XI dan XII SMA/SMK/MA diharapkan memiliki kesadaran untuk menggunakan hak pilihnya.

"Mereka baru akan menggunakan hak pilihnya dalam Pilgub lalu tahun 2019 untuk pemilihan legislatif dan presiden/wapres," kata Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bandung, Iman Iryanto.

Dia menambahkan,penggunaan  hak pilih warga termasuk dari para pemilih pemula ikut menentukan masa depan bangsa. "Jangan menjadi apatis apalagi skeptis. Pilihlah calon pemimpin yang dianggap amanah dan bisa memajukan bangsa ini," ucapnya.

Dia menambahkan, para pemilih pemula jangan sampai menjadi korban informasi yang tak benar (hoax). "Dampak dari pemilihan presiden dan wapres tahun 2014 sampai sekarang masih terasa. Bahkan, bisa kencang lagi upaya penyebaran ujaran kebencian dan hoax," katanya.

 

Kewajiban



Sementara itu, Ketua Umum MUI Kota Bandung, KH. Miftah Faridl, meminta agar pemilihan kepala daerah termasuk Pilgub Jabar 2018  dijadikan ajang kompetisi kebaikan sehingga menghindari hal-hal yang diharamkan agama. Pilgub Jabar 2018 juga sebagai ijtihad. Sehingga kalau pilihannya benar dan menang mendapatkan dua pahala dan apabila pilihannya kalah masih dapat satu pahala.

"Mau diapakan juga pasti ada beda pendapat dan beda pilihan dalam Pilkada sehingga ajang ini harus jadi upaya saling menghormati beda ijtihad," kata Kiai Miftah Faridl.

Dia menambahkan, semua kalangan harus siap berbeda dan siap juga menerima kemenangan maupun kekalahan. "Tidak ada harga mati dalam membela calon kepala daerah, namun yang menjadi  harga mati adalah ukhuwah atau persaudaraan. Beda pilihan harus tetap utamakan persaudaraan," katanya.

Di mata Kiai Miftah, Pilkada merupakan ijtihad sehingga apabila pilihannya benar akan dapat dua pahala, sedangkan bila pilihannya kalah masih dapat satu pahala. "Hal terpenting adalah menggunakan kewajiban untuk memilih dalam pilkada sebab memilih pemimpin adalah kewajiban tiap orang," katanya.

MUI sebagai organisasi pengayom umat, kata Miftah, bersikap netral atau independen sehingga tak mendukung calon kepala daerah mana pun. "Kalau masing-masing pengurus secara individu silakan mendukung salah satu calon, namun jangan memakai kendaraan organisasi. Setelah mendukung ternyata jagoanna kalah, maka ulama harus tetap mendukung siapa pun yang terpilih," tuturnya.

MUI Kota Bandung juga mengimbau agar masjid-masjid dijaga kemulyaannya dengan tidak dipakai sebagai tempat kampanye. "Sampai saat ini kami belum menerima laporan adanya masjid yang dipakai untuk kampanye. Namun kami tetap ingatkan agar masjid atau musala jangan jadi tempat pengajian yang berbau kampanye," katanya.***

Bagikan: