Pikiran Rakyat
USD Jual 14.558,00 Beli 14.460,00 | Umumnya berawan, 22.7 ° C

Antrean Truk Sampah ke Sarimukti Mulai Terurai

Hendro Susilo Husodo

NGAMPRAH, (PR).- Sempat terkendala oleh jalan di zona buangan yang rusak, operasional di Tempat Pembuangan dan Pemerosesan Akhir Sampah Sarimukti mulai berangsur normal. Truk-truk sampah pun tak lagi mengantre terlampau panjang untuk memasuki TPPAS Sarimukti di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat.

Humas Badan Pengelola Sampah Regional TPPAS Sarimukti, Herry S Wangsaprawira mengatakan, pihaknya masih berupaya melakukan perbaikan jalan di landasan atau zona buangan dengan melakukan pengerasan jalan. "Hari ini pengerasan jalan masih dilakukan, mudah-mudahan besok beres," katanya, Kamis 15 Maret 2018.

Selain dilakukan pengerasam jalan, cuaca cerah membuat jalan becek jadi lebih cepat kering. Herry menyebutkan, kondisi jalan yang licin dan basah membuat truk sampah sulit bermanuver. Bahkan, ada truk yang terjebak di dalam tanah basah atau berlumpur, sehingga terpaksa didorong atau ditarik dengan bantuan kendaraan berat. Praktis truk itu menghambat truk lainnya.

"Jalan yang rusak dan sedang dilakukan pengerasan itu mencapai panjang sekitar 50 meter. Semoga cuaca cerah dapat mendukung upaya perbaikan ini, karena kalau turun hujan terus maka proses pengerasan jalan jadi terkendala. Jalan yang sudah dilakukan pengerasan, juga bisa rusak lagi kalau turun terus," katanya.

Herry mengakui, antrean kendaraan sampah tak bisa dihindarkan selama jalan di landasan mengalami kerusakan. Pasalnya, truk yang masuk dan keluar zona buangan harus satu persatu. Pihaknya pun hanya bisa meminta pengertian dan kesabaran dari para sopir truk.

"Kondisi seperti ini sudah kami sampaikan kepada pihak terkait di Bandung Barat, Kota Cimahi, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung. Pekan depan kami akan tindaklanjuti lagi dengan menggelar rapat dengan perwakilan dari masing-masing daerah," katanya. 

Honor



Salah seorang sopir truk sampah, Upi Supriatna, (31) menyatakan, beberapa waktu lalu dia terpaksa mengantre hingga enam jam untuk memasuki TPPAS Sarimukti. Ketika sudah masuk, proses pembuangan sampah pun berlangsung lama, karena kondisi jalan yang jelek. Kondisi tersebut, terang dia, sudah berlangsung selama dua minggu terakhir ini.

Oleh karena itu, dia mengaku hanya bisa mengangkut sampah satu ritase dalam sehari. Padahal, biasanya bisa dua ritase, atau bahkan sampai tiga ritase. "Hal ini (antrean ke TPPAS Sarimukti -red) selalu terjadi setiap kali musim hujan, karena landasan di dalam TPPAS jadi licin," tuturnya.

Sekali menarik sampah ke TPPAS, dia mengaku dapatkan honor Rp 250.000, termasuk untuk biaya solar dan bayar tol. Kalau bisa dua ritase, maka uang bersih yang dibawa ke rumah ialah sekitar Rp160.000. Akan tetapi, akhir- akhir ini dia hanya memperoleh sekitar Rp 80.000, karena cuma bisa satu ritase saja. "Kalau antreannya lama, otomatis pengeluaran saya untuk makan juga jadi bertambah banyak," keluhnya.***

Bagikan: