Pikiran Rakyat
USD Jual 14.538,00 Beli 14.440,00 | Cerah berawan, 25.6 ° C

Menelusuri Jejak Keturunan Emen, Mengurai Asal Usul Tanjakan Emen

Hendro Susilo Husodo
ADANG Edi Kurnaedi, anak dari Emen, menemani ibunya, Ruminah yang terbaring di atas kasur di rumahnya, Kampung Bewak, RT 1, RW 3, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Bandung Barat, pekan lalu.*
ADANG Edi Kurnaedi, anak dari Emen, menemani ibunya, Ruminah yang terbaring di atas kasur di rumahnya, Kampung Bewak, RT 1, RW 3, Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Bandung Barat, pekan lalu.*

PEMERINTAH telah mengganti nama Tanjakan Emen menjadi Tanjakan Aman. Akan tetapi, kecelakaan masih terjadi di tanjakan yang terletak di Kampung Cicenang, Desa Ciater, Kecamatan Ciater, Subang itu. Peristiwa yang teraktual, Senin 12 Maret 2018, angkutan umum jenis elf terbalik.

Sekali lagi, nama Emen kembali disebut. Lantas, siapakah Emen sebenarnya? Dari penelusuran Pikiran Rakyat, istri dan tiga anak Emen ternyata tinggal di Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang, Bandung Barat. Emen adalah nama panggilan dari seorang pria yang bernama lahir Taing.

Anak kedua Taing, Adang Edi Kurnaedi (65) mengungkapkan hal tersebut saat ditemui di Kantor Desa Lembang, Selasa 13 Maret 2018.

Dia mengisahkan, bapaknya memang seorang sopir yang pertama kali mengalami kecelakaan maut di Tanjakan Cicenang. Peristiwa itu terjadi pada September 1956 silam.

"Waktu itu, bapak jadi sopir oplet Lembang-Subang, sedang bawa 12 penumpang. Karena rem blong, oplet menabrak tebing dan terbalik, lalu terbakar. Semua penumpang meninggal, tapi bapak meninggal di Rumah Sakit Rancabadak, yang sekarang jadi RS Hasan Sadikin," kata Adang yang juga menjadi sopir.

Sepupu Adang, Ade Juhaeri (54) menimpali, pada zaman dahulu, ada kebiasaan penduduk sekitar untuk menamai suatu tanjakan/turunan dengan nama seseorang yang pertama kali tewas karena kecelakaan. Karena itulah, Tanjakan Cicenang seringkali disebut pula sebagai Tanjakan Emen, hingga akhirnya nama yang terakhir lebih tenar.

"Model tanjakan atau turunan di Cibogo, Jalan Tangkubanperahu (di Desa Cibogo, Kecamatan Lembang), di situ dulu disebut Tanjakan Oking, karena Pak Oking yang pertama meninggal karena kecelakaan di situ, tahun 1980-an. Namun, Tanjakan Oking itu tidak sepopuler Tanjakan Emen karena di situ memang jarang sekali kecelakaan," kata Ade yang biasa dipanggil Abah Jepri.

Mistis



Menurut Adang, keluarga tidak kuasa melarang masyarakat menyebut Tanjakan Emen sebagai analogi Tanjakan Cicenang. Keluarga cuma bisa membiarkannya. Meski begitu, dia menyatakan, keluarga selalu kesal jika kecelakaan yang terjadi di Tanjakan Cicenang disangkut-pautkan dengan hal mistis bahwa ada roh Emen yang berulah.

"Kalau ditanya soal keberatan, memang dari dulu juga sudah disebut Tanjakan Emen. Mau bagaimana lagi. Yang bikin kami keberatan, setiap kali terjadi kecelakaan, kenapa dikaitkan dengan roh Emen. Dikatakan Emen meminta tumbal, itu bikin kami sakit hati. Kami khawatir arwah bapak tidak tenang," ucap bapak dari tiga anak itu.

Dia pun menampik mitos yang berkembang di masyarakat bahwa pengemudi yang melewati tanjakan itu harus membuang sebatang rokok atau uang receh supaya tidak diganggu roh Emen.

Wasiat bapak



Meski begitu, Adang menyatakan, setiap kali melintasi Tanjakan Cicenang, dia selalu membunyikan klakson satu kali.

"Waktu bapak meninggal, saya baru berumur 3,5 tahun. Saya tidak tahu apa-apa. Namun kata ibu, sebelum bapak meninggal, bapak sempat berwasiat kepada teman-teman sopir oplet yang mengantarkannya ke rumah sakit. Pak Taing cuma minta, kalau lewat situ baca surat Al Fatihah dan Al Ikhlas," kata pria yang pernah jadi sopir elf Lembang-Subang selama lebih dari 20 tahun itu.

Lebih lanjut, Adang menceritakan, bapaknya merupakan warga asal Parung, Kabupaten Bogor, yang diperkirakan lahir pada 1927.

Masa muda



Taing merantau ke Bandung dan berjualan kerupuk, lalu menikah dengan Ruminah, perempuan asal Ciparay, Kabupaten Bandung.

Ketika ramai peristiwa pemberontakan Darul Islam/Negara Islam Indonesia di Jawa Barat, Taing dan isterinya mengungsi ke daerah Lembang.

Saat ini, Ruminah masih hidup tapi dalam kondisi sakit-sakitan karena sudah berusia lanjut. Perempuan berumur 90-an itu tinggal bersama keluarga Adang di Kampung Bewak, RT 1, RW 3, Desa Jayagiri. Kakak dan adik Adang juga tinggal di desa yang sama.

"Kalau dulu bapak saya dipanggil Emen, itu karena permainan anak bernama cemen. Cemen itu mainan boneka yang digerakan memakai magnet dari balik meja kaca. Jadi, dulu itu kalau mobil angkutan bapak saya penuh, penumpang menunggu sambil menonton cemen. Saat mobil bapak saya datang, orang-orang bilang, 'Tuh, Si Cemen!' Akhirnya, bapak saya dipanggil Emen," katanya.***

Bagikan: