Pikiran Rakyat
USD Jual 14.503,00 Beli 14.405,00 | Umumnya berawan, 23.9 ° C

Satu Dekade Tragedi AACC, Merancang Masa Depan Panggung Metal Bandung

Windy Eka Pramudya
DISKUSI memperingati 10 tahun tragedi AACC di New Majestic Braga, Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 9 Februari 2018.*
DISKUSI memperingati 10 tahun tragedi AACC di New Majestic Braga, Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 9 Februari 2018.*

SEPULUH tahun berlalu, tragedi AACC atau Asia Africa Culture Center yang terjadi pada 9 Februari 2008 masih menyisakan banyak pekerjaan rumah untuk pelaku musik di Kota Bandung.

Hal itu terungkap dalam diskusi memperingati Satu Dekade AACC di New Majestic Braga (eks gedung AACC), Jalan Braga, Kota Bandung, Jumat 9 November 2018.

Hadir dalam diskusi itu Helvi Sjafruddin, Kimung, Reggy Munggaran, dan Kenny Dewi Kaniasari (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung).

Tragedi AACC terjadi saat band metal Beside menggelar konser peluncuran album pertamanya "Againts Ourselves".

Kericuhan terjadi saat Beside sudah mengakhiri konsernya. Kapasitas gedung yang tak muat menampung banyak penonton dan pengaturan pintu masuk dan keluar yang miskoordinasi membuat penonton berdesakan di pintu. Dari peristiwa itu, 11 penonton meregang nyawa karena kesulitan bernapas.

Peristiwa itu menggegerkan skema musik metal di Bandung, bahkan Indonesia. Dampak yang terasa sangat besar, terutama menjadi terbatasnya kebebasan band rock atau metal menggelar pertunjukan.

Beberapa band yang memiliki massa besar bahkan sempat dilarang tampil di Bandung atau perizinan pentasnya dipersulit.

Babak baru



Akan tetapi, sempitnya ruang berekspresi tak menyurutkan langkah komunitas metal di Bandung. Di tengah keterbasan, justru denyut mereka makin cepat. Pergerakan mereka tak terbendung karena komunitas ini didukung pendengar yang loyal.

Tak bisa tampil di Bandung, mereka tetap tampil di luar kota bahkan luar negeri. Hasilnya, kini metal kembali berjaya walaupun dengan setumpuk persoalan bersama yang harus diselesaikan.

Kimung mengatakan, perkembangan skema metal di Bandung pascatragedi AACC sangat masif. Memang komunitas itu sempat mengalami fase jatuh selama dua sampai tiga tahun. Namun, kemudian hal itu menjadi pembelajaran untuk berkembang ke depannya. Misalnya terjadi pola kolaborasi yang menyeluruh di setiap sektor.

"Pasca-AACC, Burgerkill susah manggung di Bandung. Akhirnya kepikiran tampil di luar negeri dan pada 2009 berhasil menembus Australia. Peristiwa AACC melahirkan data yaitu terdapat 40.000 metalhead di komunitas metal. Disadari atau tidak, mereka membangung infrastruktur ekonomi kreatif," tutur Kimung.

Manajemen krisis



Sementara Reggy Munggaran mengungkapkan, sebelum peristiwa AACC, komunitas metal di Bandung tidak punya pola konsolidasi. Saat terjadi tragedi, semua bingung, bahkan menyiapkan konferensi pers saja tidak bisa. Kolaborasi komunitas baru berjalan lima tahun setelah AACC.

"Saat tragedi AACC terjadi, saya melakukan pendampingan sebagai advokat. Sejak (tragedi) AACC, komunitas metal lumpuh. Band-band besar seperti Burgerkill dan Jasad kuyu. Alasannya, ketika itu di komunitas tidak ada pengetahuan untuk mengatur krisis. Jadi, semua bingung harus bagaimana melawan opini yang berkembang di masyarakat," kata Reggy Munggaran.

Menurut Reggy Munggaran, tragedi AACC membuat komunitas di Bandung bersatu. Semua belajar dari apa yang terjadi, terutama bagaimana cara membangun manajemen krisis. Bahkan ada dukungan keluarga korban AACC untuk komunitas agar tetap maju dan berkarya.

"Pertemuan seperti malam ini seharusnya tidak diperingati oleh Beside saja karena semua komunitas memiliki kepentingan. Peringatan ini sebagai bentuk ikhtiar, kita mau ngapain setelah ini. Masa harus menunggu insiden dulu? Kita harus memikirkan ini akan ke mana. Harus ada evaluasi mental anak muda di skema musik agar saling mendukung jangan malah saling sikut," ujar Reggy Munggaran.

Faktor komunikasi



Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan, dia sangat mengapresiasi potensi yang dimiliki anak muda Bandung. Mungkin selama ini komunikasi dua pihak, yaitu komunitas dan pemerintah kota yang tidak mulus.

"Sebagai bagian dari pemerintah, kami tidak mau sok tahu, makanya harus banyak diskusi. Mau dikemanakan urusan musik ini," ujar Kenny.

Selain diskusi, pada peringatan Satu Dekade AACC juga diputar film dokumenter Eargasm. Film karya sutradara Yolanda Christianti ini berdurasi 30 menit dan menampilkan wawancara dengan para pelaku di skema musik Bandung. Film Eargasm bermula dari peristiwa AACC dengan mewawancari band Beside yang kemudian berkembang ke situasi masa kini.

Pada film Eargasm, peristiwa AACC 10 tahun lalu menjadi titik tolak munculnya banyak masalah di skema musik Bandung. Tak hanya membahas peristiwa itu, tapi berimbas pula pada masalah perizinan, sponsor, sampai regenerasi di skema musik Bandung.

Peringatan Satu Dekade AACC ditutup dengan tausiyah bersama ustaz Tengku Hanan Attaki dan membaca surat Yasin bersama.***

Bagikan: