Pikiran Rakyat
USD Jual 14.223,00 Beli 13.923,00 | Umumnya berawan, 21.8 ° C

Museum Gedung Sate, Tempat Belajar Sejarah Mirip Markas The Avengers

Eva Nuroniatul Fahas

SAATNYA mendekatkan museum ­kepada anak muda. ­Indonesia kaya ragam budaya dan peristiwa bersejarah. Salah satu tempat untuk menelusurinya adalah museum.

Akan tetapi, museum yang kuno tak banyak memikat hati orang zaman sekarang yang sudah terlalu lekat dengan teknologi digital.

Adalah paradigma lama yang mendeskripsikan mus­eum hanya sebagai tempat pe­nyimpanan jejak peristiwa dan bukti peninggalan masa lampau. Pemikiran itu harus sudah segera di­tinggalkan. Museum sebaiknya tidak lagi dianggap sebagai gudang artefak belaka.

Ditunjukkan pula detail-detail bangunan yang ada di Gedung Sate seperti kaca patri atau kaca prisma yang digunakan sebagai bantuan penerangan alami. Beberapa benda bersejarah yang ada di Gedung Sate se­perti telefon kuno, branwir, serta duplikat sirene hadir di museum ini.

Ada pula ”robekan” dinding yang bisa dijadikan tambahan informasi dari sisi teknik pembangunan gedung. Semua dinding Gedung Sate dibuat dari tumpukan batu gunung dari Gunung Manglayang.

”Ini yang menarik. Dari cetak biru Gedung Sate yang kami temu­kan, di setiap basement gedung di sayap kanan dan kiri terdapat satu ruangan cukup luas, sekitar 400 meter, yang tidak dapat ditemukan di gedung aslinya. Ternyata, setelah ’dilubangi’, diketahui jika ruangan tersebut kosong, hanya berisi tanah liat. Tebal din­dingnya antara 80 cm hingga 1 m. Kuat dugaan, ­ruang kosong ini berfungsi sebagai penyeimbang bangunan sehingga bisa tahan gempa,” kata Ade.

Memasuki area museum, pengunjung akan diarahkan untuk berkenalan dengan se­jarah panjang Kota Bandung dan juga peristiwa yang mengiringinya.

Bagian ­te­ngah museum berfungsi sebagai area ­utama yang memberikan informasi tentang Gedung Sate. Di area tersebut juga ter­dapat aneka konten digital seperti hologram dan interactive glass display mengenai Gedung Sate.

Segmen selanjutnya adalah ruang gimmick yang menyuguhkan konsep edutainment untuk pengunjung seperti ruang augmented reality hingga virtual reality.

Pengunjung juga dapat menonton film pendek berdurasi 10 menit mengenai Kota Bandung di area audio visual.

Gaya minimalis modern



Keberadaan wahana multimedia interaktif itu ditujukan untuk menyedot perhatian pengunjung, terutama anak muda.

”Memang belum sempurna sebagai museum inklusif. Misalnya, belum ada pe­nerapan teknologi QR Code atau IR Code. Namun, saya harap ke depannya lebih banyak lagi muncul museum-museum inklusif di Indonesia,” tuturnya.

Berbelok ke kiri, pengunjung akan me­nyusuri ruang kontemplasi berisikan informasi mengenai pembuatan museum Ge­dung Sate, termasuk di antaranya foto besar hasil pemindaian 3D Gedung Sate yang dilakukan sangat detail oleh Tim Konservasi Candi Borobudur.

”Jika Ge­dung Sate runtuh, kita bisa membangunnya kembali ­dengan persis sama berbekal data analisis pemindaian ini,” tutur Ade.

Pada ruang kontemplasi, napas yang ­ingin dibangun ketika seseorang melalui­nya adalah ketenangan dan suasana hening. Warna-warna seperti ungu tua atau krem digunakan pada kedua dinding di lorong ini.

Fasilitas lain dari museum ini selain toilet juga adanya perpustakaan kecil yang ber­isikan buku tentang arsitektur dan desain, juga gift shop yang menyatu dengan kafe kecil. Menurut Ade, kafe tersebut rencana­nya akan dijadikan museum kopi mini.

Hal itu wajar karena Jawa Barat memiliki banyak ragam kopi lokal yang tak kalah istimewanya. Akan tetapi, bagian kafe dan gift shop belum rampung dikerjakan.

Delapan multimedia pelengkap



Agar tak lekas bosan, pengunjung di Museum Gedung Sate akan disu­guhi fasilitas multimedia yang interaktif dan inovatif. Ada sepuluh teknologi multimedia yang bisa dicoba saat berada di area museum.

Di awal 1900, Pemerintah Hindia Belanda berencana memin­dah­­kan pusat peme­rintahan dari Batavia. Bandung dinilai sesuai dengan kebutuhan tersebut. Lalu dibuatlah cetak biru mengenai ­instansi ­pemerintahan di wilayah yang baru.

Architerium berisikan tujuh ­layar yang diletak­kan melengkung 270 ­derajat dan berada pada ruangan yang gelap bertirai tebal agar pengunjung yang memasukinya fokus pada tayangan pada layar.

Interactive picture frame

Sebanyak tiga unit layar interaktif diletakkan di area utama Museum Gedung Sate. Layar tersebut berisikan informasi mengenai pemimpin Jawa Barat dari masa ke masa. Pengunjung dapat menyentuh se­tiap gambar kepala daerah dan mendapatkan informasi mengenai sosoknya.***

Bagikan: